BISNIS,JS- Sentimen negatif yang sempat membayangi saham bank-bank milik negara atau Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) diperkirakan tidak akan berlangsung lama. Meski investor asing masih mencatatkan aksi jual, analis menilai sektor perbankan pelat merah tetap memiliki daya tarik kuat dalam jangka panjang.
Pandangan ini muncul di tengah volatilitas pasar saham Indonesia sejak awal Februari 2026. Namun demikian, pelaku pasar melihat tekanan tersebut lebih bersifat sementara ketimbang mencerminkan pelemahan fundamental.
Saham Himbara Kompak Menguat di Tengah Tekanan Asing
Di tengah sentimen global yang belum kondusif, saham-saham Himbara justru menutup perdagangan Rabu (18/2/2026) di zona hijau. PT Bank Mandiri Tbk memimpin penguatan setelah naik 3,94% ke Rp 5.275.
Selanjutnya, PT Bank Tabungan Negara Tbk menguat 1,83% ke Rp 1.390, sementara PT Bank Rakyat Indonesia Tbk naik 1,32% ke Rp 3.830. Adapun PT Bank Syariah Indonesia Tbk naik 1,28% ke Rp 2.380 dan PT Bank Negara Indonesia Tbk bertambah 0,22% ke Rp 4.490.
Penguatan ini menunjukkan minat beli domestik masih menopang pergerakan saham perbankan, meskipun asing belum sepenuhnya kembali masuk.
Arus Dana Asing Masih Selektif Sejak Awal Februari
Meski mencatatkan kenaikan harian, sebagian besar saham Himbara masih menghadapi tekanan jual asing secara bulanan. BBRI memimpin aksi net sell dengan nilai Rp 371,55 miliar, disusul BBNI sebesar Rp 321,03 miliar dan BRIS sekitar Rp 190 miliar.
Sebaliknya, investor asing masih membukukan net buy pada BMRI senilai Rp 1,94 triliun dan BBTN sebesar Rp 220,19 miliar. Kondisi ini mencerminkan sikap selektif investor dalam memilih saham perbankan dengan likuiditas dan fundamental yang paling kuat.
Tekanan Datang dari Global dan Sentimen Rating
Lebih jauh, tekanan pasar tidak muncul tanpa sebab. Sejak awal bulan, pasar saham Indonesia menghadapi sejumlah isu besar, mulai dari pembekuan evaluasi indeks oleh MSCI, hingga pemangkasan outlook perbankan oleh Moody’s Ratings.
Meski begitu, pelaku pasar menilai sentimen tersebut lebih bersifat jangka pendek dan tidak mengubah prospek dasar sektor perbankan nasional.
Volatilitas Rupiah Jadi Pemicu Aksi Jual Asing
Menurut Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia, Muhammad Wafi, investor asing saat ini lebih memilih mengurangi eksposur karena volatilitas nilai tukar rupiah. Selain itu, pasar juga masih menanti kepastian arah kebijakan suku bunga global.
“Ketidakpastian suku bunga The Fed bertepatan dengan fase normalisasi margin bunga bersih dan biaya dana perbankan. Kondisi ini membuat investor cenderung menahan posisi,” ujar Wafi.
Namun, ia menegaskan bahwa persepsi asing terhadap perbankan Indonesia tetap positif untuk jangka panjang.
Penurunan BI Rate Bisa Jadi Titik Balik
Lebih lanjut, Wafi memprediksi arus dana asing akan kembali masuk ketika transmisi penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia mulai terasa di sektor perbankan dan rupiah bergerak lebih stabil.
“Peluangnya muncul mulai pertengahan tahun ini,” jelasnya.
Pandangan tersebut sejalan dengan analisis Kiwoom Sekuritas Indonesia. Analis Miftahul Khaer menilai gejolak pasar saat ini hanya memengaruhi aliran dana jangka pendek, bukan kepercayaan jangka panjang investor.
Fundamental Kuat Jadi Penopang Utama
Miftahul menekankan bahwa perbankan nasional masih memiliki modal yang solid, rasio kredit bermasalah yang terjaga, serta tingkat profitabilitas yang sehat. Dengan fondasi tersebut, ia memperkirakan persepsi investor asing akan pulih secara bertahap seiring stabilisasi pasar global.
Selain faktor fundamental, pergerakan nilai tukar dan aliran dana ke emerging markets akan menentukan arah saham Himbara pada paruh pertama 2026. Meski volatilitas masih membayangi, prospeknya tetap konstruktif.
Rekomendasi Saham: Fokus Akumulasi Bertahap
Dari sisi strategi, Miftahul merekomendasikan accumulate buy untuk BBRI dan BMRI dengan target harga masing-masing Rp 4.500 dan Rp 5.950. Sementara itu, Wafi memilih BMRI, BBRI, BBNI, dan BBTN sebagai saham unggulan dengan target harga berturut-turut Rp 6.300, Rp 5.025, Rp 5.500, dan Rp 1.800.
Dengan kombinasi fundamental yang solid dan potensi pemulihan sentimen global, saham Himbara dinilai masih layak dikoleksi secara bertahap oleh investor berorientasi jangka menengah hingga panjang.(*)









