Kenapa BI Guyur Likuiditas Rp 427,5 T? Ini Tujuannya

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 21 Februari 2026 - 11:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

BANK Indonesia (BI) memberikan insentif likuiditas sebesar Rp 427,5 triliun untuk perbankan.(Sumber/Google)

BANK Indonesia (BI) memberikan insentif likuiditas sebesar Rp 427,5 triliun untuk perbankan.(Sumber/Google)

BISNIS,JS- Bank Indonesia (BI) terus mengakselerasi stimulus moneter dengan menyalurkan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) sebesar Rp 427,5 triliun kepada perbankan. Melalui kebijakan ini, BI menargetkan peningkatan kredit ke sektor prioritas sekaligus percepatan penurunan suku bunga kredit.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga momentum pemulihan ekonomi nasional di tengah perlambatan global.

Baca Juga :  Prabowo Promosikan Program MBG di Forum Bisnis AS

Insentif Lebih Besar untuk Bank yang Responsif

Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa penguatan implementasi KLM mulai berlaku sejak 16 Desember 2025. BI memberikan insentif lebih besar kepada bank yang aktif menurunkan suku bunga kredit baru sesuai arah kebijakan moneter.

“Bank yang lebih responsif menurunkan suku bunga kredit akan memperoleh insentif likuiditas yang lebih tinggi,” ujar Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar secara daring, Kamis (19/2/2026).

Dengan pendekatan tersebut, BI ingin memastikan transmisi kebijakan suku bunga berjalan lebih cepat dan merata.

Baca Juga :  Dividen Bank Mandiri 2025 Diproyeksi Naik, Investor Wajib Tahu!

Mayoritas Insentif Mengalir ke Lending Channel

Secara rinci, BI mengalokasikan Rp 357,9 triliun insentif KLM melalui lending channel. Sementara itu, BI menyalurkan Rp 69,6 triliun melalui interest rate channel untuk mendorong penyesuaian suku bunga kredit.

Dari sisi kelompok bank, bank BUMN menerima porsi terbesar senilai Rp 207,1 triliun. Selanjutnya, Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) memperoleh Rp 184,8 triliun, Bank Pembangunan Daerah (BPD) Rp 28,5 triliun, dan Kantor Cabang Bank Asing (KCBA) Rp 7,1 triliun.

Distribusi tersebut mencerminkan peran masing-masing kelompok bank dalam menopang pembiayaan ekonomi domestik.

Fokus ke Sektor Prioritas dan UMKM

Selain berdasarkan jenis bank, BI juga mengarahkan KLM ke sektor-sektor prioritas. Penyaluran mencakup sektor pertanian, industri, hilirisasi, jasa, konstruksi, perumahan, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Melalui fokus sektoral ini, BI berharap insentif likuiditas tidak hanya memperbesar kredit, tetapi juga memperkuat struktur ekonomi nasional.

Baca Juga :  Ramai Bank Sentral Borong Emas, BI Angkat Bicara

Suku Bunga Kredit Terus Menurun

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menilai KLM berbasis interest rate channel berhasil memperkuat transmisi kebijakan suku bunga. BI mencatat suku bunga kredit perbankan turun 40 basis poin, dari 9,20 persen pada awal 2025 menjadi 8,80 persen pada Januari 2026.

“Untuk kredit baru, penurunannya bahkan sudah mencapai 75 basis poin. Angka ini cukup sejalan dengan penurunan BI-Rate yang sejak 2025 mencapai 125 basis poin,” jelas Destry.

Masih Ada Ruang Pemanfaatan Insentif

BI menyalurkan insentif KLM melalui skema pengurangan Giro Wajib Minimum (GWM). Hingga kini, bank telah memanfaatkan sekitar 4,83 persen dari Dana Pihak Ketiga (DPK), sementara batas maksimal mencapai 5,5 persen.

Dengan demikian, perbankan masih memiliki ruang sekitar 0,7 persen DPK untuk memanfaatkan insentif likuiditas.

“Kami terus mendorong bank agar menyalurkan sisa insentif ini ke sektor padat karya, hilirisasi, perumahan, serta untuk mendukung penurunan suku bunga kredit,” tutup Destry.(*)

Berita Terkait

IHSG Hari Ini Menguat, Saham Energi dan Komoditas Jadi Motor Penggerak
Biaya Admin OVO Terbaru Juli 2026 Resmi Berlaku! Transfer, Top Up hingga Bayar Tagihan, Cek Daftar Lengkapnya Sebelum Bertransaksi
Harga Emas Perhiasan Hari Ini Kamis 9 Juli 2026 Turun, Cek Daftar Harga Terbarunya Disini
Rupiah Kembali Tertekan! Dolar AS Nyaris Sentuh Rp18.000, Investor Waspadai Faktor Global Ini
Harga Emas Perhiasan Hari Ini Rabu 8 Juli 2026 Melonjak, Cek Daftar Lengkap 24K hingga 5 Karat
Update Terbaru!, Harga Emas Perhiasan Hari Ini Selasa 7 Juli 2026
Deposito BRI Juli 2026 Naik? Cek Suku Bunga Terbaru BRI, BNI, dan Mandiri Sebelum Menabung
Harga Emas Perhiasan Hari Ini 6 Juli 2026 Tidak Berubah, Simak Daftar Lengkap Semua Kadar Karat
Berita ini 18 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 9 Juli 2026 - 23:01 WIB

IHSG Hari Ini Menguat, Saham Energi dan Komoditas Jadi Motor Penggerak

Kamis, 9 Juli 2026 - 22:01 WIB

Biaya Admin OVO Terbaru Juli 2026 Resmi Berlaku! Transfer, Top Up hingga Bayar Tagihan, Cek Daftar Lengkapnya Sebelum Bertransaksi

Kamis, 9 Juli 2026 - 08:05 WIB

Harga Emas Perhiasan Hari Ini Kamis 9 Juli 2026 Turun, Cek Daftar Harga Terbarunya Disini

Rabu, 8 Juli 2026 - 11:01 WIB

Rupiah Kembali Tertekan! Dolar AS Nyaris Sentuh Rp18.000, Investor Waspadai Faktor Global Ini

Rabu, 8 Juli 2026 - 09:01 WIB

Harga Emas Perhiasan Hari Ini Rabu 8 Juli 2026 Melonjak, Cek Daftar Lengkap 24K hingga 5 Karat

Berita Terbaru