Banyak yang Keliru, Ini Beda Harta PPS dan Investasi PPS

- Jurnalis

Sabtu, 21 Februari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Perbedaan harta PPS dan investasi PPS.

Ilustrasi Perbedaan harta PPS dan investasi PPS.

BISNIS,JS- Meski Program Pengungkapan Sukarela (PPS) telah berakhir pada 30 Juni 2022, kewajiban peserta program belum sepenuhnya selesai. Wajib pajak yang pernah memanfaatkan PPS tetap harus memahami perbedaan antara harta PPS dan investasi PPS, karena keduanya memiliki konsekuensi pelaporan yang berbeda hingga saat ini.

Mengacu pada penjelasan Komite Wajib Pajak, Jumat (20/2/2026), PPS merupakan kebijakan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (HPP). Pemerintah merancang program ini untuk mendorong kepatuhan sukarela sekaligus memperluas basis pajak nasional melalui pembayaran Pajak Penghasilan (PPh) final.

Baca Juga :  Pengamat: Pengetatan Skema Restitusi Bisa Balikkan Reformasi Pajak

Namun demikian, dalam praktiknya masih banyak wajib pajak yang menyamakan istilah harta PPS dan investasi PPS. Padahal, keduanya memiliki fungsi, tujuan, dan kewajiban yang berbeda.

Memahami Konsep Harta PPS

Harta PPS merujuk pada harta bersih yang diungkapkan wajib pajak karena sebelumnya belum tercantum atau belum sepenuhnya dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan. Melalui PPS, wajib pajak secara aktif mendeklarasikan aset tersebut dan membayar PPh final sesuai tarif yang berlaku.

Selanjutnya, setelah proses pengungkapan selesai, wajib pajak harus mencantumkan harta PPS dalam daftar harta pada SPT Tahunan.

Baca Juga :  Penerimaan Pajak Melejit Rp116 Triliun di Awal 2026

Investasi PPS: Insentif Pajak dengan Syarat

Berbeda dari harta PPS, investasi PPS menekankan pada penempatan dana hasil pengungkapan ke sektor-sektor yang menjadi prioritas pemerintah. Melalui skema ini, pemerintah memberikan tarif PPh final yang lebih rendah sebagai insentif.

Adapun instrumen investasi yang diperbolehkan meliputi Surat Berharga Negara (SBN), baik Surat Utang Negara (SUN) maupun Surat Berharga Syariah Negara (SBSN). Selain itu, wajib pajak juga dapat menempatkan dana pada kegiatan usaha sektor pengolahan sumber daya alam serta sektor energi terbarukan.

Pemerintah kemudian memperkuat kebijakan ini melalui Keputusan Menteri Keuangan Nomor KMK 52/KMK.010/2022. Aturan tersebut menetapkan ratusan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) yang berhak menerima penempatan investasi PPS dengan tarif pajak terendah.

Baca Juga :  Waspada Modus Penipuan Mengatasnamakan Ditjen Pajak

Perbedaan Tujuan: Deklarasi vs Pembangunan

Dari sisi tujuan, harta PPS berfungsi untuk menertibkan pelaporan aset agar seluruh harta wajib pajak tercatat secara resmi dalam sistem perpajakan. Sebaliknya, investasi PPS tidak hanya menawarkan kepatuhan pajak, tetapi juga mendorong pembiayaan pembangunan nasional melalui sektor-sektor strategis.

Dengan kata lain, pemerintah menggunakan investasi PPS sebagai instrumen fiskal untuk mengarahkan dana masyarakat ke bidang yang memiliki dampak ekonomi jangka panjang.

Tarif Pajak yang Membedakan

Perbedaan berikutnya terlihat jelas pada tarif pajak. Investasi PPS memperoleh tarif PPh final yang lebih rendah dibandingkan sekadar deklarasi harta.

Dalam Kebijakan I, misalnya, tarif PPh final dapat turun hingga 6 persen apabila wajib pajak menempatkan dana sesuai ketentuan.

Mekanisme Penempatan Dana

Dari sisi mekanisme, harta PPS tidak mensyaratkan penempatan dana pada instrumen tertentu. Wajib pajak cukup mendeklarasikan aset dan melunasi PPh final.

Tanpa penempatan tersebut, wajib pajak tidak dapat menikmati tarif pajak yang lebih rendah.

Kewajiban Pelaporan Setelah PPS Berakhir

Terakhir, perbedaan penting juga muncul dalam kewajiban pelaporan. Harta PPS hanya perlu dicantumkan dalam SPT Tahunan selama aset masih dimiliki.

Baca Juga :  DJP Tambah Hingga 4.000 Pemeriksa Pajak, Perkuat Pengawasan

Sementara itu, investasi PPS mewajibkan pelaporan realisasi investasi secara elektronik hingga masa penempatan atau holding period berakhir. Pemerintah menetapkan jangka waktu penempatan ini maksimal lima tahun.

Sebagai penutup, meskipun PPS sudah tidak berlaku, kewajiban peserta program tetap berjalan. Oleh karena itu, pemahaman yang tepat mengenai perbedaan harta PPS dan investasi PPS menjadi kunci agar wajib pajak tetap patuh dan terhindar dari risiko sanksi di kemudian hari.(*)

Berita Terkait

Cara Mengurus Akta Kelahiran Online 2026, Cek Syarat Dokumen dan Langkah Pengajuannya
Pajak Dropshipper dan Reseller 2026: Ini Aturan dan Cara Menghitungnya
BCA Lanjutkan Buyback Saham Oktober 2026, Harga BBCA Turun ke Rp4.820
Rupiah Menguat ke Rp18.029 per Dolar AS, Simak Prediksi Kurs Hari Ini
Bansos Beras 30 Kg Oktober–Desember 2026: Cek Syarat, Jadwal, dan Cara Ambil
Tabel Angsuran KUR BNI Rp50 Juta 2026: Cicilan 3 Tahun Rp1,52 Juta per Bulan
PPPK Paruh Waktu Menanti Kepastian Status, BKN Siapkan Aturan Baru dan Skema Gaji 2027
Kabar Baik Guru Honorer! TPG Oktober 2026 Mulai Masuk Rekening
Berita ini 57 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 22:01 WIB

Cara Mengurus Akta Kelahiran Online 2026, Cek Syarat Dokumen dan Langkah Pengajuannya

Selasa, 20 Oktober 2026 - 14:31 WIB

BCA Lanjutkan Buyback Saham Oktober 2026, Harga BBCA Turun ke Rp4.820

Selasa, 20 Oktober 2026 - 10:30 WIB

Rupiah Menguat ke Rp18.029 per Dolar AS, Simak Prediksi Kurs Hari Ini

Selasa, 20 Oktober 2026 - 10:01 WIB

Bansos Beras 30 Kg Oktober–Desember 2026: Cek Syarat, Jadwal, dan Cara Ambil

Selasa, 20 Oktober 2026 - 09:01 WIB

Tabel Angsuran KUR BNI Rp50 Juta 2026: Cicilan 3 Tahun Rp1,52 Juta per Bulan

Berita Terbaru