El Niño dan MBG Dorong Harga Pangan? Ini Risiko Inflasi Indonesia hingga Akhir 2026

- Jurnalis

Rabu, 2 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA,JS- Harga pangan kembali menjadi perhatian setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia mencapai 0,21 persen secara bulanan pada Agustus 2026. Kenaikan tersebut menandai perubahan arah setelah Indonesia mengalami deflasi 0,14 persen pada Juli 2026.

Tekanan harga terutama datang dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kelompok pengeluaran tersebut menyumbang andil terbesar terhadap inflasi bulanan, yakni 0,17 persen.

Sementara itu, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, inflasi nasional pada Agustus 2026 mencapai 3,19 persen. Angka tersebut meningkat dari 2,88 persen pada Juli 2026.

Kondisi tersebut membuat perkembangan harga pangan, daya beli masyarakat, inflasi Indonesia, dan kebijakan ekonomi kembali menjadi perhatian pemerintah, Bank Indonesia (BI), pelaku usaha, hingga masyarakat.

Terlebih lagi, sejumlah ekonom memperkirakan tekanan harga pangan masih dapat berlanjut akibat kombinasi meningkatnya permintaan pangan dan risiko cuaca kering yang berkaitan dengan fenomena El Niño.

Inflasi Agustus 2026 Naik, Pangan Jadi Penyumbang Terbesar

Data BPS menunjukkan perubahan cukup signifikan pada pergerakan harga selama Agustus 2026.

Secara bulanan, inflasi mencapai 0,21 persen. Padahal, pada bulan sebelumnya Indonesia mencatat deflasi sebesar 0,14 persen.

Artinya, tekanan harga kembali muncul setelah konsumen menikmati penurunan harga secara umum pada Juli.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi kontributor terbesar. Kelompok tersebut menyumbang 0,17 persen terhadap inflasi bulanan.

Jika melihat inflasi secara tahunan, kelompok yang sama memberikan kontribusi sebesar 1,13 persen terhadap inflasi nasional 3,19 persen.

Angka tersebut menunjukkan bahwa perkembangan harga kebutuhan sehari-hari memiliki pengaruh besar terhadap tingkat inflasi nasional.

Bagi rumah tangga, kondisi tersebut juga memiliki dampak langsung karena sebagian besar pengeluaran masyarakat berkaitan dengan kebutuhan makanan dan kebutuhan pokok.

Mengapa Harga Pangan Naik pada Agustus 2026?

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan sejumlah faktor yang mendorong kenaikan harga pangan.

Salah satu faktor utama berasal dari meningkatnya permintaan daging ayam ras.

Kenaikan permintaan tersebut berkaitan dengan sejumlah momentum pada Agustus, mulai dari peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, perayaan HUT ke-81 RI, hingga kembali berjalan program Makan Bergizi Gratis (MBG) setelah masa libur sekolah berakhir.

Dengan kata lain, peningkatan aktivitas konsumsi membuat kebutuhan terhadap sejumlah komoditas pangan ikut bertambah.

Ketika permintaan meningkat sementara pasokan belum mampu mengikuti pertumbuhan kebutuhan, harga berpotensi bergerak naik.

Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu mendapatkan perhatian dalam menjaga stabilitas inflasi pangan Indonesia.

Baca Juga :  Prabowo Libatkan Danantara di KSSK, Strategi Baru Perkuat Stabilitas Keuangan dan Investasi Nasional

Program MBG Tingkatkan Permintaan Komoditas Pangan

Program dengan cakupan besar tentu membutuhkan pasokan bahan makanan dalam jumlah besar. Komoditas seperti ayam, telur, beras, sayuran, dan bahan pangan lainnya harus tersedia secara rutin.

Dari sisi ekonomi, peningkatan permintaan tersebut dapat memberikan manfaat kepada petani, peternak, penggilingan, distributor, serta pelaku UMKM di sektor pangan.

Namun, pemerintah juga perlu memastikan pertumbuhan permintaan berjalan seimbang dengan pertumbuhan produksi.

Apabila permintaan meningkat jauh lebih cepat daripada pasokan, harga komoditas dapat mengalami tekanan.

Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai persoalan utama bukan terletak pada keberadaan program MBG.

Menurutnya, pemerintah perlu memperkuat manajemen pasokan agar tambahan permintaan dari program tersebut tidak langsung menyerap stok pasar yang terbatas.

Ia mendorong pemerintah menyusun pengadaan ayam, telur, dan beras sebagai bagian dari strategi rantai pasok.

Kontrak pasokan juga perlu pemerintah susun lebih awal dan tersebar ke berbagai daerah agar pelaku produksi memiliki kepastian permintaan.

El Niño Berpotensi Tekan Produksi Pertanian

Selain meningkatnya permintaan, faktor cuaca juga menjadi perhatian.

BPS mencatat rendahnya curah hujan di mayoritas wilayah Indonesia akibat fenomena El Niño.

Kondisi cuaca kering dapat memengaruhi produksi berbagai komoditas pertanian. Padi, cabai, bawang merah, dan sejumlah tanaman hortikultura membutuhkan ketersediaan air yang memadai agar produktivitas tetap terjaga.

Jika petani menghadapi kekurangan air dalam periode tertentu, produksi dapat menurun.

Pada saat yang sama, kebutuhan masyarakat tetap berjalan.

Situasi tersebut dapat menciptakan tekanan terhadap harga pangan apabila pemerintah tidak segera mengantisipasi gangguan produksi dan distribusi.

BPS juga menyoroti hubungan antara curah hujan dan budidaya tanaman padi di berbagai wilayah Indonesia.

Karena itu, perkembangan cuaca dalam beberapa bulan mendatang menjadi salah satu faktor penting yang perlu masyarakat dan pelaku ekonomi perhatikan.

Cabai dan Bawang Merah Menghadapi Tekanan Produksi

Komoditas hortikultura juga ikut menjadi perhatian karena produksi beberapa komoditas mengalami penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.

Cabai rawit dan bawang merah termasuk komoditas yang sensitif terhadap perubahan cuaca.

Ketika produksi turun, harga dapat bergerak lebih cepat karena karakteristik komoditas hortikultura yang mudah rusak dan memiliki masa penyimpanan relatif terbatas.

Pemerintah perlu memperkuat sistem distribusi agar pasokan dari daerah surplus dapat segera mengalir ke daerah yang mengalami kekurangan.

Selain itu, informasi mengenai produksi dan kebutuhan juga penting untuk membantu pemerintah menentukan langkah stabilisasi harga.

Ekonom Prediksi Inflasi Masih Berisiko Naik

Tekanan pangan tidak hanya berdampak pada harga kebutuhan rumah tangga.

Jika berlangsung dalam waktu lama, inflasi pangan juga dapat memengaruhi ekspektasi inflasi masyarakat dan pelaku usaha.

Kepala Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan PT Bank Permata Tbk, Faisal Rachman, menilai harga pangan masih menghadapi risiko kenaikan.

Menurutnya, dua faktor utama yang perlu pemerintah perhatikan adalah program MBG dan fenomena El Niño.

Program MBG dapat meningkatkan permintaan pangan. Sementara itu, El Niño dapat memberikan tekanan terhadap sisi produksi.

Kombinasi kedua faktor tersebut dapat menciptakan tantangan bagi pengendalian volatile food inflation atau inflasi pangan bergejolak.

Namun, tekanan tersebut dapat pemerintah redam apabila produksi pertanian dan sistem rantai pasok mampu berkembang sesuai kebutuhan.

Baca Juga :  Pidato Kenegaraan Prabowo 2026: 121 Kebijakan Transformatif, Swasembada Pangan, MBG hingga Koperasi Merah Putih

Proyeksi Inflasi Indonesia Akhir 2026

Tim ekonom Permata memperkirakan inflasi umum Indonesia dapat mencapai sekitar 3,13 persen pada akhir 2026.

Proyeksi tersebut lebih tinggi dibandingkan realisasi inflasi sebesar 2,92 persen pada akhir 2025.

Meski demikian, perkembangan inflasi tetap bergantung pada berbagai faktor.

Selain harga pangan, perkembangan harga energi global juga memiliki peranan penting.

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, misalnya, dapat memengaruhi harga minyak dunia. Jika harga energi global naik dalam waktu panjang, biaya produksi dan distribusi berbagai barang juga dapat meningkat.

Situasi tersebut berpotensi menciptakan tekanan tambahan terhadap inflasi domestik.

Dampaknya terhadap Suku Bunga Bank Indonesia

Perkembangan inflasi menjadi sangat penting bagi kebijakan moneter Bank Indonesia.

Apabila inflasi pangan terus meningkat dan kemudian memengaruhi harga barang serta jasa lainnya, ruang bagi BI untuk melonggarkan kebijakan moneter dapat semakin terbatas.

Kondisi tersebut penting bagi masyarakat karena kebijakan suku bunga dapat memengaruhi biaya kredit perbankan.

Suku bunga juga berkaitan dengan berbagai keputusan ekonomi, termasuk kredit rumah, kredit kendaraan, pinjaman usaha, deposito, investasi, dan konsumsi rumah tangga.

Karena itu, perkembangan inflasi tidak hanya menjadi perhatian pemerintah, tetapi juga masyarakat yang memiliki kebutuhan pembiayaan.

Daya Beli Masyarakat Bisa Tertekan

Kenaikan harga pangan memiliki dampak langsung terhadap daya beli.

Ketika harga beras, ayam, telur, cabai, bawang, dan kebutuhan pokok lainnya meningkat sementara pendapatan masyarakat tidak mengalami kenaikan yang sebanding, kemampuan masyarakat membeli barang dan jasa lainnya dapat berkurang.

Kondisi tersebut dapat memengaruhi konsumsi rumah tangga.

Padahal, konsumsi masyarakat memiliki peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Oleh sebab itu, menjaga stabilitas harga pangan bukan hanya persoalan inflasi. Kebijakan tersebut juga berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan stabilitas daya beli.

Pemerintah Waspadai Dampak El Niño

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah mewaspadai dampak El Niño terhadap harga pangan dan energi.

Menurutnya, gangguan terhadap produksi dan distribusi dapat meningkatkan tekanan harga.

Pemerintah karena itu perlu melakukan langkah antisipatif sejak dini.

Strategi tersebut dapat mencakup penguatan produksi pangan, pengelolaan cadangan komoditas strategis, perbaikan distribusi, serta koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah.

Dengan persiapan yang lebih cepat, pemerintah memiliki ruang lebih besar untuk merespons apabila harga pangan mulai bergerak naik.

BI dan Pemerintah Perkuat Pengendalian Inflasi

Gubernur Terpilih Bank Indonesia Destry Damayanti juga menyoroti kenaikan inflasi pangan bergejolak.

Inflasi volatile food meningkat dari 2,52 persen secara tahunan pada Juli 2026 menjadi 4,06 persen pada Agustus 2026.

Kenaikan tersebut menunjukkan bahwa komponen pangan memberikan tekanan cukup besar terhadap inflasi nasional.

BI bersama pemerintah pusat dan pemerintah daerah terus berkoordinasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).

Koordinasi tersebut penting karena pengendalian harga pangan membutuhkan kebijakan lintas sektor.

Produksi berada di sektor pertanian, distribusi melibatkan sektor transportasi dan perdagangan, sementara stabilisasi harga membutuhkan koordinasi pemerintah pusat dan daerah.

Strategi Pemerintah Hadapi Risiko Inflasi Pangan

Untuk menghadapi potensi kenaikan harga pangan, pemerintah perlu memperkuat beberapa sektor sekaligus.

  • Pertama, pemerintah perlu memastikan ketersediaan air untuk sektor pertanian.
  • Kedua, pemerintah perlu mempercepat program irigasi dan pompanisasi di wilayah yang mengalami risiko kekeringan.
  • Ketiga, petani membutuhkan dukungan terhadap penyesuaian jadwal tanam.
  • Keempat, penggunaan benih yang lebih tahan terhadap kekeringan dapat membantu menjaga produktivitas ketika kondisi cuaca tidak normal.
  • Kelima, pemerintah perlu memastikan cadangan pangan, terutama beras, tetap mencukupi.

Cadangan tersebut dapat menjadi instrumen penting ketika harga mulai mengalami kenaikan yang terlalu cepat.

Tantangan Inflasi 2026 Tidak Hanya dari Pangan

Perkembangan inflasi Indonesia pada 2026 tidak hanya bergantung pada komoditas pangan.

Harga energi, nilai tukar rupiah, kondisi ekonomi global, kebijakan suku bunga, harga minyak dunia, geopolitik, serta perkembangan permintaan domestik juga dapat memengaruhi inflasi.

Karena itu, investor dan pelaku usaha perlu memperhatikan perkembangan ekonomi global maupun domestik secara bersamaan.

Kenaikan inflasi dapat memengaruhi biaya produksi perusahaan, daya beli konsumen, suku bunga kredit, hingga keputusan investasi.

Dengan demikian, data inflasi BPS setiap bulan memiliki arti penting bagi pasar keuangan dan perekonomian nasional.

Apa Dampaknya bagi Masyarakat?

Masyarakat perlu memperhatikan perubahan harga kebutuhan pokok dan menyesuaikan pengeluaran secara bijak.

Ketika harga pangan meningkat, rumah tangga dapat melakukan evaluasi terhadap anggaran belanja.

Namun, pemerintah juga memiliki peran besar dalam menjaga agar kenaikan harga tidak berlangsung terlalu tinggi atau terlalu lama.

Kebijakan stabilisasi harga, penguatan produksi domestik, kelancaran distribusi, dan pengelolaan cadangan pangan dapat membantu mengurangi tekanan.

Pada akhirnya, keberhasilan pengendalian inflasi akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah menjaga keseimbangan antara permintaan dan pasokan.

Kesimpulan

Inflasi Indonesia pada Agustus 2026 menunjukkan tekanan baru setelah deflasi pada bulan sebelumnya.

BPS mencatat inflasi bulanan sebesar 0,21 persen dan inflasi tahunan sebesar 3,19 persen. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar.

Peningkatan permintaan akibat berbagai momentum serta kembalinya program MBG ikut mendorong kebutuhan terhadap sejumlah komoditas pangan.

Di sisi lain, El Niño menghadirkan risiko baru terhadap produksi pertanian.

Karena itu, pemerintah menghadapi tantangan ganda: menjaga agar pasokan pangan tetap tersedia sekaligus memenuhi pertumbuhan permintaan masyarakat.

Jika produksi dan distribusi mampu mengikuti peningkatan kebutuhan, tekanan harga dapat lebih terkendali.

Sebaliknya, jika gangguan cuaca mengurangi produksi sementara permintaan terus meningkat, inflasi pangan berpotensi menjadi salah satu tantangan utama ekonomi Indonesia hingga akhir 2026.(*)

Berita Terkait

Transaksi Rp28 di Livin’ by Mandiri Bisa Dapat Paket Makanan, Ini Cara dan Jadwal Program Berbagi Jelang HUT ke-28
Harga Emas Perhiasan Hari Ini 3 September 2026 Naik atau Turun? Cek Daftar 24K hingga 12K
SR025 BNI 2026: Investasi Mulai Rp1 Juta, Kupon 6,9%, Ada Cashback Rp15 Juta
KUR BSI 2026 Rp100 Juta: Cek Cicilan 1-5 Tahun, Syarat dan Cara Pengajuan Terbaru
Tarif Listrik September 2026 Tetap, Cek Harga per kWh Semua Golongan PLN dan Cara Hitung Tagihan
Harga BBM Pertamina Naik 1 September 2026, Pertamax Turbo Tembus Rp19.600, Ini Daftar Terbarunya
Harga Emas Perhiasan 1 September 2026 Naik atau Turun? Cek Daftarnya Disini
Harga BBM Hari Ini 31 Agustus 2026: Pertamax, BP, Shell, Vivo hingga Mobil Indostation, Mana Paling Murah?
Berita ini 11 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 15:01 WIB

Transaksi Rp28 di Livin’ by Mandiri Bisa Dapat Paket Makanan, Ini Cara dan Jadwal Program Berbagi Jelang HUT ke-28

Kamis, 3 September 2026 - 08:01 WIB

Harga Emas Perhiasan Hari Ini 3 September 2026 Naik atau Turun? Cek Daftar 24K hingga 12K

Rabu, 2 September 2026 - 09:01 WIB

SR025 BNI 2026: Investasi Mulai Rp1 Juta, Kupon 6,9%, Ada Cashback Rp15 Juta

Rabu, 2 September 2026 - 08:01 WIB

El Niño dan MBG Dorong Harga Pangan? Ini Risiko Inflasi Indonesia hingga Akhir 2026

Selasa, 1 September 2026 - 17:00 WIB

KUR BSI 2026 Rp100 Juta: Cek Cicilan 1-5 Tahun, Syarat dan Cara Pengajuan Terbaru

Berita Terbaru