OTOMOTIF,JS– Mobil hybrid (HEV) semakin populer sebagai kendaraan jembatan transisi dari mesin bakar (ICE) menuju mobil listrik murni (BEV). Mobil ini menggabungkan motor listrik, baterai, dan mesin bakar, sehingga mampu menggerakkan roda sekaligus mengisi daya baterai secara otomatis.
Self-Charging Bikin Penggunaan Lebih Fleksibel
Sujaka, Area Manager Area 3 sekaligus Branch Manager Nasmoco Slamet Riyadi, mengatakan HEV lebih ramah pengguna karena fitur self-charging. “Kalau baterai BEV habis, mobil akan berhenti. SPKLU (stasiun pengisian kendaraan listrik umum) belum merata, terutama di Jawa Tengah dan Yogyakarta. HEV bisa mengisi baterai melalui mesin bakar, sehingga tetap bisa dipakai di mana saja,” jelas Sujaka.
Baterai Rusak Tidak Langsung Ganggu Performa
Dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM), Jayan Sentanuhady, menambahkan, penurunan kapasitas baterai HEV tidak langsung menurunkan performa mobil. Mesin bakar akan mengambil alih tenaga yang dibutuhkan, sehingga mobil tetap bisa dikendarai normal.
“Kalau level kesehatan baterai tinggal 50 persen, jarak tempuh listrik berkurang setengah. Mesin bakar bekerja lebih sering, dan konsumsi bahan bakar meningkat. Namun mobil tetap berjalan dan tenaga keseluruhan hanya sedikit berkurang,” kata Jayan.
HEV sebagai Solusi Transisi Energi
Dengan sistem hybrid, pengguna tidak perlu khawatir soal infrastruktur pengisian listrik yang belum merata. HEV memungkinkan transisi dari bahan bakar fosil ke kendaraan listrik berjalan lebih lancar, tanpa mengorbankan kenyamanan dan fleksibilitas penggunaan.(AN)









