JAMBI,JS- Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih menjadi persoalan serius di Provinsi Jambi. Gubernur Jambi Al Haris menyebut arah angin yang membawa asap dari sejumlah wilayah menjadi salah satu faktor yang membuat kondisi udara di daerah itu belum membaik.
Di tengah upaya penanganan karhutla, pemerintah daerah menghadapi kendala untuk memaksimalkan pemadaman melalui jalur udara. Jarak pandang yang hanya berkisar 1.000 meter belum memenuhi standar penerbangan untuk mendukung operasi water bombing atau pengeboman air.
Kondisi tersebut membuat Satgas Karhutla Jambi harus mengandalkan berbagai langkah penanganan di darat sambil menunggu cuaca yang lebih mendukung. Pemerintah Provinsi Jambi juga menyiapkan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk membantu mendatangkan hujan.
Al Haris menyampaikan kondisi tersebut saat memantau titik api dan pergerakan angin melalui aplikasi SiPongi di Posko Udara Satgas Karhutla Jambi, Sabtu (10/10/2026).
Arah Angin Membawa Asap Menuju Jambi
Dalam pemantauan itu, Al Haris menjelaskan bahwa arah angin berperan besar terhadap penyebaran kabut asap. Asap dari sejumlah titik kebakaran bergerak mengikuti angin hingga menyelimuti wilayah Jambi.
“Hal yang tidak bisa dimungkiri adalah arah angin yang semuanya terkunci dan menuju ke Jambi,” kata Al Haris.
Menurutnya, petugas memantau titik api di sejumlah daerah, termasuk Kabupaten Muaro Jambi, Tanjung Jabung Timur, dan Tebo. Keberadaan titik api di beberapa wilayah tersebut menjadi perhatian satgas dalam menentukan langkah penanganan.
Pergerakan asap juga menambah tantangan bagi pemerintah daerah. Api yang masih menyala membutuhkan penanganan langsung, sedangkan asap yang sudah menyebar mengikuti angin memerlukan kondisi cuaca yang mendukung agar konsentrasinya berkurang.
Karena itu, upaya pemadaman tidak cukup hanya dengan menangani titik api. Petugas juga perlu memantau perkembangan cuaca, arah angin, dan kondisi udara untuk menentukan langkah yang tepat.
Pemadaman Darat Terus Berjalan
Meski menghadapi kendala operasi udara, Satgas Karhutla Jambi tetap menjalankan penanganan melalui jalur darat. Petugas melakukan penyiraman pada area yang terbakar serta membuat sekat kanal untuk membantu mengendalikan kebakaran, terutama di kawasan yang sulit dijangkau.
Langkah tersebut menjadi bagian penting dalam mencegah api meluas ke area lain. Petugas harus menyesuaikan strategi dengan karakteristik lahan, kondisi di lapangan, dan akses menuju lokasi kebakaran.
Al Haris menegaskan bahwa seluruh tim terus berupaya menangani titik api. Namun, ia mengakui bahwa petugas menghadapi keterbatasan ketika asap sudah menyebar luas dan bergerak mengikuti arah angin.
“Semua tim bekerja. Kalau ada api yang membakar, InsyaAllah tim berusaha untuk memadamkannya. Tapi kalau sudah berupa kabut asap, tim tidak bisa apa-apa, kecuali Allah yang bisa menghentikannya,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan perbedaan tantangan antara memadamkan sumber kebakaran dan mengatasi asap yang telah menyebar. Pemadaman dapat mengurangi sumber asap baru, tetapi perubahan kondisi udara juga bergantung pada faktor cuaca dan pergerakan angin.
Oleh sebab itu, pemerintah berharap penanganan di lapangan dapat menekan kebakaran sekaligus mengurangi sumber asap yang terus memperburuk kondisi udara.
Jarak Pandang 1.000 Meter Hambat Water Bombing
Salah satu kendala utama dalam penanganan karhutla di Jambi saat ini berkaitan dengan jarak pandang. Al Haris menyebut jarak pandang di wilayah tersebut masih berada di kisaran 1.000 meter.
Sementara itu, menurut penjelasannya, operasi penerbangan untuk mendukung water bombing membutuhkan jarak pandang di atas 1.800 meter. Selisih kondisi tersebut membuat tim belum dapat memaksimalkan upaya pemadaman dari udara.
“Kendala kita yang pertama, kita tidak bisa melakukan langkah-langkah water bombing karena sampai hari ini jarak pandang kita masih di angka 1.000 meter. Padahal, standar penerbangan itu harus di atas 1.800 meter,” jelasnya.
Water bombing menjadi salah satu metode penanganan karhutla karena pesawat atau helikopter dapat membawa air menuju lokasi kebakaran yang sulit dijangkau petugas darat. Akan tetapi, operasi ini membutuhkan kondisi penerbangan yang aman.
Kabut asap yang tebal dapat mengganggu jarak pandang dan menyulitkan awak pesawat saat menjalankan misi. Karena itu, tim harus mempertimbangkan keselamatan penerbangan sebelum melaksanakan pemadaman melalui udara.
Kendala ini membuat pemerintah perlu mengoptimalkan langkah lain sembari menunggu kondisi cuaca membaik. Penanganan melalui jalur darat tetap berjalan, sedangkan rencana operasi udara mengikuti perkembangan jarak pandang dan hasil evaluasi petugas.
Pemprov Jambi Siapkan Teknologi Modifikasi Cuaca
Selain memadamkan titik api, Pemerintah Provinsi Jambi menyiapkan Teknologi Modifikasi Cuaca untuk membantu mendatangkan hujan. Pemerintah berharap hujan dapat membantu membasahi lahan yang kering, mengurangi potensi kebakaran lanjutan, dan mendukung pemulihan kualitas udara.
Namun, pelaksanaan TMC membutuhkan kondisi atmosfer yang sesuai. Ketersediaan awan dan perkembangan cuaca menjadi faktor penting dalam menentukan waktu pelaksanaan operasi.
Al Haris mengatakan tim TMC telah bersiap menjalankan operasi apabila kondisi memungkinkan. Pemerintah berharap peluang pelaksanaan pada malam hari, sekitar pukul 19.00 WIB, dapat dimanfaatkan jika kondisi awan mendukung.
“Kita berharap kondisi awan memungkinkan sehingga TMC bisa dilaksanakan dan hujan segera turun untuk membantu mengatasi karhutla di Jambi,” tutupnya.
Meski demikian, pelaksanaan modifikasi cuaca tidak menjamin hujan turun tepat di lokasi yang membutuhkan. Tim tetap harus menilai kondisi atmosfer sebelum menentukan langkah operasional.
Perubahan Cuaca Jadi Harapan Mengurangi Kabut Asap
Al Haris berharap arah angin segera berubah sehingga tidak lagi membawa asap menuju wilayah Jambi. Ia juga berharap hujan turun untuk membantu mengurangi dampak kebakaran hutan dan lahan.
Perubahan cuaca menjadi salah satu faktor penting dalam penanganan kabut asap. Hujan dapat membantu membasahi vegetasi dan lahan yang kering, sedangkan perubahan arah angin dapat memengaruhi pergerakan asap di suatu wilayah.
Di sisi lain, petugas tetap perlu mengendalikan sumber kebakaran agar tidak menambah produksi asap. Kombinasi pemadaman darat, kesiapan operasi udara, pemantauan cuaca, dan langkah modifikasi cuaca menjadi bagian dari upaya menghadapi karhutla.
Masyarakat juga perlu mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara dan perkembangan penanganan kebakaran. Ketika kabut asap mengganggu aktivitas, masyarakat sebaiknya mengurangi kegiatan berat di luar ruangan, terutama jika mengalami gangguan pernapasan, serta menggunakan masker yang sesuai saat harus beraktivitas di luar.
Hingga kondisi cuaca membaik, penanganan karhutla di Jambi masih membutuhkan koordinasi lintas tim dan pemantauan berkelanjutan. Pemerintah berharap pemadaman titik api serta dukungan hujan dapat membantu mengurangi kabut asap yang menyelimuti wilayah tersebut.(*)










