BISNIS,JS- Bank Indonesia (BI) terus mengakselerasi stimulus moneter dengan menyalurkan insentif likuiditas makroprudensial (KLM) sebesar Rp 427,5 triliun kepada perbankan. Melalui kebijakan ini, BI menargetkan peningkatan kredit ke sektor prioritas sekaligus percepatan penurunan suku bunga kredit.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga momentum pemulihan ekonomi nasional di tengah perlambatan global.
Insentif Lebih Besar untuk Bank yang Responsif
Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa penguatan implementasi KLM mulai berlaku sejak 16 Desember 2025. BI memberikan insentif lebih besar kepada bank yang aktif menurunkan suku bunga kredit baru sesuai arah kebijakan moneter.
“Bank yang lebih responsif menurunkan suku bunga kredit akan memperoleh insentif likuiditas yang lebih tinggi,” ujar Perry dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar secara daring, Kamis (19/2/2026).
Dengan pendekatan tersebut, BI ingin memastikan transmisi kebijakan suku bunga berjalan lebih cepat dan merata.
Mayoritas Insentif Mengalir ke Lending Channel
Secara rinci, BI mengalokasikan Rp 357,9 triliun insentif KLM melalui lending channel. Sementara itu, BI menyalurkan Rp 69,6 triliun melalui interest rate channel untuk mendorong penyesuaian suku bunga kredit.
Dari sisi kelompok bank, bank BUMN menerima porsi terbesar senilai Rp 207,1 triliun. Selanjutnya, Bank Umum Swasta Nasional (BUSN) memperoleh Rp 184,8 triliun, Bank Pembangunan Daerah (BPD) Rp 28,5 triliun, dan Kantor Cabang Bank Asing (KCBA) Rp 7,1 triliun.
Distribusi tersebut mencerminkan peran masing-masing kelompok bank dalam menopang pembiayaan ekonomi domestik.
Fokus ke Sektor Prioritas dan UMKM
Selain berdasarkan jenis bank, BI juga mengarahkan KLM ke sektor-sektor prioritas. Penyaluran mencakup sektor pertanian, industri, hilirisasi, jasa, konstruksi, perumahan, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Melalui fokus sektoral ini, BI berharap insentif likuiditas tidak hanya memperbesar kredit, tetapi juga memperkuat struktur ekonomi nasional.
Suku Bunga Kredit Terus Menurun
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menilai KLM berbasis interest rate channel berhasil memperkuat transmisi kebijakan suku bunga. BI mencatat suku bunga kredit perbankan turun 40 basis poin, dari 9,20 persen pada awal 2025 menjadi 8,80 persen pada Januari 2026.
“Untuk kredit baru, penurunannya bahkan sudah mencapai 75 basis poin. Angka ini cukup sejalan dengan penurunan BI-Rate yang sejak 2025 mencapai 125 basis poin,” jelas Destry.
Masih Ada Ruang Pemanfaatan Insentif
BI menyalurkan insentif KLM melalui skema pengurangan Giro Wajib Minimum (GWM). Hingga kini, bank telah memanfaatkan sekitar 4,83 persen dari Dana Pihak Ketiga (DPK), sementara batas maksimal mencapai 5,5 persen.
Dengan demikian, perbankan masih memiliki ruang sekitar 0,7 persen DPK untuk memanfaatkan insentif likuiditas.
“Kami terus mendorong bank agar menyalurkan sisa insentif ini ke sektor padat karya, hilirisasi, perumahan, serta untuk mendukung penurunan suku bunga kredit,” tutup Destry.(*)









