BISNIS,JS- Wang Guanran, pria muda asal China berusia 25 tahun, berhasil masuk jajaran miliarder dunia setelah mengambil alih sebagian bisnis tambang emas milik keluarganya. Lonjakan nilai saham perusahaan tambang Lingbao Gold Group Co. dalam beberapa tahun terakhir mendorong kekayaannya melesat tajam.
Menurut Bloomberg Billionaires Index, kekayaan bersih Wang saat ini mencapai sekitar US$1,2 miliar. Peningkatan tersebut terjadi setelah ayahnya menyerahkan 31 persen saham Lingbao Gold kepadanya pada tahun 2020.
Lonjakan Saham Dorong Kekayaan
Dalam 12 bulan terakhir, saham Lingbao Gold melonjak lebih dari 400 persen. Kenaikan ini langsung meningkatkan nilai kepemilikan Wang di perusahaan tersebut.
Sebagian besar kekayaan Wang berasal dari saham Lingbao Gold yang bernilai sekitar US$1 miliar. Selain itu, ia juga memiliki saham di Zhejiang Yueling Co., produsen roda paduan aluminium yang tercatat di bursa Shenzhen.
Kenaikan harga emas global menjadi faktor utama di balik lonjakan saham perusahaan tambang tersebut. Di sisi lain, ketegangan geopolitik di berbagai kawasan dunia turut memicu permintaan emas sebagai aset aman.
Misalnya, konflik di Iran serta ketidakstabilan politik di Venezuela membuat banyak investor mengalihkan dana mereka ke emas batangan.
Strategi Ekspansi Global
Tidak hanya menikmati kenaikan harga emas, Lingbao Gold juga memanfaatkan momentum tersebut untuk memperluas bisnis secara global.
Pada Desember 2025, perusahaan ini mengakuisisi 50 persen saham St. Barbara Mining. Melalui langkah tersebut, Lingbao Gold memperoleh akses ke tambang emas Simberi di Papua Nugini.
Selain itu, perusahaan juga memperluas jejak di Amerika Selatan. Lingbao Gold membeli 9,9 persen saham Titan Minerals, sehingga mendapatkan eksposur pada Proyek Emas Dynasty di Ekuador.
Meski agresif berekspansi, Lingbao Gold tetap tergolong pemain kecil di industri pertambangan China. Perusahaan ini menghasilkan kurang dari 10 ton emas per tahun.
Sebagai perbandingan, raksasa pertambangan China Zijin Mining Group Co. mampu memproduksi sekitar 90 ton emas setiap tahun.
Namun demikian, keberhasilan perusahaan swasta seperti Lingbao Gold tetap menarik perhatian pelaku industri.
Joshua Rotbart, pendiri perusahaan broker emas J. Rotbart & Co., menilai perusahaan swasta memiliki sejumlah keunggulan.
Menurutnya, perusahaan swasta biasanya lebih dekat dengan perdagangan logam fisik. Selain itu, mereka sering menerapkan disiplin biaya yang lebih ketat serta mengambil keputusan bisnis lebih cepat.
Profil Wang Guanran
Wang Guanran lahir pada Mei 2000. Ia sempat menempuh pendidikan hubungan internasional dan ekonomi di George Washington University School of Business di Amerika Serikat.
Namun pandemi Covid-19 pada tahun 2020 mengubah rencananya. Ia memutuskan menghentikan studi dan kembali ke China untuk bergabung dalam bisnis keluarga.
Menariknya, sebelum aktif di dunia bisnis, Wang sempat dikenal sebagai blogger perjalanan. Ia menulis pengalaman bepergian dengan nama samaran “Dominicus.”
Dalam sebuah tulisan pada 2019, Wang bahkan menceritakan pengalamannya membeli tiket kelas satu Cathay Pacific dengan harga diskon besar.
Karier Bisnis Sejak Usia 20 Tahun
Karier Wang di dunia bisnis berkembang sangat cepat. Pada usia 20 tahun, ia sudah menjabat sebagai ketua dan presiden Shenzhen Jiesi Weiye Holding, perusahaan induk keluarga yang bergerak di sektor logam.
Tidak lama kemudian, ia bergabung dengan dewan direksi Londian Wason Group pada tahun 2020. Perusahaan tersebut memproduksi foil tembaga presisi tinggi, komponen penting dalam baterai kendaraan listrik.
Pada tahun 2023, Wang bahkan naik jabatan menjadi salah satu CEO perusahaan tersebut.
Selain itu, sejak 2021 ia juga menjabat sebagai direktur non-eksekutif Lingbao Gold dan tetap menjadi pemegang saham pengendali perusahaan.
Peran Besar Sang Ayah
Di balik kesuksesan Wang Guanran, terdapat peran besar ayahnya, Wang Weidong, yang kini berusia 56 tahun.
Weidong memiliki pengalaman panjang di dunia keuangan China. Ia pernah bekerja di Komisi Regulasi Sekuritas China dan ikut mengelola proses pencatatan saham serta IPO perusahaan China di luar negeri.
Selanjutnya, ia berkarier di divisi perbankan investasi China International Capital Corp serta memegang posisi kepemimpinan di Beijing Securities.
Pada tahun 2007, Weidong mendirikan Beijing Jiesi Haneng Asset Management, salah satu perusahaan ekuitas swasta profesional pertama di China. Kemudian pada 2010, ia mendirikan D&R Asset Management Group.
Awal Masuk ke Bisnis Logam
Keluarga Wang mulai masuk ke sektor logam pada Desember 2016. Saat itu, perusahaan investasi D&R membeli 24 persen saham Lingbao Gold dari entitas milik negara.
Nilai transaksi tersebut mencapai 498 juta yuan atau sekitar US$72,5 juta.
Namun perjalanan bisnis itu tidak selalu mulus. Pada tahun 2021, regulator China menjatuhkan teguran kepada D&R karena mempromosikan produk reksa dana swasta secara terbuka di situs web perusahaan.
Selain itu, perusahaan juga mempekerjakan ketua yang belum memiliki sertifikasi industri reksa dana yang diwajibkan.
Akibat pelanggaran tersebut, regulator menangguhkan pengajuan produk baru selama enam bulan serta memberikan teguran publik.
Transfer Saham ke Generasi Baru
Seiring waktu, Wang Weidong mulai mengalihkan kepemilikan sahamnya kepada putranya. Ia mentransfer saham di D&R Asset Management dan Shenzhen Jiesi Weiye kepada Wang Guanran.
Saat ini, kepemilikan 31 persen saham Lingbao Gold milik Wang dikelola melalui Shenzhen Jiesi Weiye, perusahaan yang mayoritas sahamnya ia kuasai.
Dalam menjalankan bisnis keluarga, Wang juga bekerja bersama adiknya, Wang Pinran, lulusan teknik dari University College London. Pinran kini menjabat sebagai direktur eksekutif di perusahaan tersebut.
Membangun Kerajaan Logam
Keluarga Wang secara perlahan mengalihkan fokus bisnis mereka dari ekuitas swasta menuju sektor logam fisik.
Langkah tersebut terlihat dari berbagai ekspansi dan investasi yang mereka lakukan dalam industri tambang dan logam.
Pada tahun 2024, pendapatan tahunan Lingbao Gold bahkan telah melampaui US$1,6 miliar. Perusahaan ini tidak hanya menambang dan memurnikan emas, tetapi juga menghasilkan perak dan tembaga sebagai produk sampingan.
Meski demikian, pemain swasta seperti keluarga Wang masih menghadapi tantangan besar. Industri pertambangan China hingga kini tetap didominasi oleh perusahaan raksasa yang mendapat dukungan negara.(*)









