SPORT,JS- Pengamat sepak bola asal Slovenia, Jernej Kamense, memicu perdebatan besar setelah ia melontarkan kritik tajam terhadap kualitas pembinaan pemain di Asia Tenggara. Ia menyoroti langsung perkembangan sepak bola Indonesia, Thailand, dan Vietnam dalam sebuah wawancara dengan media Vietnam, Dantri.com.vn, pada 12 April 2026.
Kamense menilai kawasan Asia Tenggara masih belum mampu mencetak banyak pemain dengan bakat murni hasil sistem pembinaan yang kuat. Ia menegaskan pandangannya secara terbuka dan tanpa ragu, sehingga pernyataannya langsung menyebar luas di media sosial dan komunitas sepak bola internasional.
Vietnam Jadi Awal Pembahasan, Lalu Indonesia dan Thailand Terseret
Kamense awalnya membahas sistem pembinaan sepak bola di Vietnam. Ia menjelaskan bahwa Vietnam masih menghadapi banyak kendala dalam pengembangan pemain muda, terutama pada aspek fasilitas dan struktur kompetisi usia dini.
Setelah itu, wartawan Dantri.com.vn meminta Kamense membandingkan Vietnam dengan negara lain di Asia Tenggara seperti Indonesia dan Thailand. Pertanyaan itu langsung memicu jawaban yang lebih kontroversial.
Kamense menegaskan bahwa ia tidak mengikuti secara detail perkembangan sistem pembinaan di Indonesia dan Thailand. Namun ia tetap memberikan penilaian keras berdasarkan pengamatan umum terhadap sepak bola kawasan tersebut.
Pernyataan Kontroversial: “Tidak Banyak Talenta Murni”
Dalam komentarnya, Kamense menyebut Indonesia dan Thailand tidak banyak menghasilkan pemain berbakat dari sistem pembinaan lokal.
Ia menegaskan bahwa banyak negara di Asia Tenggara masih belum memahami standar profesionalisme sepak bola modern secara menyeluruh.
Menurut Kamense, masalah utama tidak hanya terjadi di satu negara, tetapi hampir di seluruh kawasan Asia Tenggara.
Ia mengatakan bahwa struktur pengembangan pemain muda masih tertinggal dibandingkan wilayah sepak bola yang lebih maju.
Kritik Menyasar Pola Pikir Sepak Bola ASEAN
Kamense juga menyoroti cara berpikir banyak pihak di Asia Tenggara yang menurutnya masih belum sepenuhnya memahami ekosistem sepak bola profesional.
Ia menilai banyak orang masih melihat sepak bola dari sisi hasil instan, bukan proses jangka panjang.
Ia juga menegaskan bahwa banyak negara di kawasan ini masih mengejar pengakuan instan tanpa membangun fondasi pembinaan yang kuat.
Pelatih Bintang Tidak Selalu Jadi Solusi Instan
Kamense juga mengkritik tren negara ASEAN yang mendatangkan pelatih atau figur besar dunia sepak bola untuk meningkatkan performa tim nasional atau klub.
Ia menyinggung beberapa nama besar seperti Keisuke Honda yang menangani Kamboja, Shin Tae-yong di Indonesia, serta Harry Kewell yang melatih di Vietnam.
Kamense menegaskan bahwa kehadiran pelatih terkenal tidak otomatis mengubah struktur sepak bola sebuah negara secara menyeluruh.
Ia menjelaskan bahwa keberhasilan pelatih sangat bergantung pada kecocokan dengan lingkungan, budaya, dan sistem sepak bola lokal.
“Sistem Lebih Penting dari Nama Besar”
Kamense menekankan bahwa sepak bola tidak bisa berkembang hanya dengan mendatangkan pelatih terkenal.
Ia menjelaskan bahwa negara harus membangun sistem pembinaan yang konsisten, mulai dari akademi usia muda hingga kompetisi profesional yang stabil.
Ia juga menyebut banyak pihak di Asia Tenggara terlalu fokus pada nama besar tanpa memperkuat fondasi sepak bola dari bawah.
Harapan Baru: Generasi Muda Mulai Bangkit
Meski memberikan kritik keras, Kamense tetap melihat adanya harapan untuk masa depan sepak bola Asia Tenggara.
Ia menilai generasi muda saat ini mulai menunjukkan perubahan pola pikir.
Ia juga melihat munculnya pelatih muda di kawasan tersebut yang mau belajar, mendengarkan, dan mengembangkan diri secara profesional.
Menurutnya, perubahan ini bisa membawa dampak besar jika sistem pembinaan ikut berkembang secara serius.
Dampak Pernyataan: Publik Terbelah
Pernyataan Kamense langsung memicu reaksi beragam dari publik sepak bola Asia Tenggara.
Sebagian pihak menilai kritik tersebut terlalu keras dan tidak adil, sementara pihak lain menganggap komentar itu sebagai “cermin jujur” kondisi sepak bola regional.
Diskusi ini semakin ramai di media sosial karena menyangkut reputasi negara-negara besar seperti Indonesia, Thailand, dan Vietnam dalam sepak bola internasional.
Kesimpulan: Kritik Tajam yang Jadi Alarm
Pernyataan Jernej Kamense membuka kembali diskusi besar tentang kualitas pembinaan sepak bola di Asia Tenggara.
Indonesia, Thailand, dan Vietnam kini menghadapi tekanan untuk terus memperbaiki sistem pengembangan pemain muda agar mampu bersaing di level global.
Meski kontroversial, kritik ini bisa menjadi alarm penting bagi federasi sepak bola di kawasan ASEAN untuk membangun fondasi yang lebih kuat.(*)









