BISNIS,JS- Pertumbuhan kredit untuk sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di PT Bank Sahabat Sampoerna melambat pada tahun 2025. Direktur Finance & Business Planning, Henky Suryaputra, mengaitkan perlambatan ini dengan tekanan yang masih dirasakan dalam perekonomian domestik.
Menurut Henky, kondisi makroekonomi yang belum pulih menahan laju penyaluran kredit, terutama bagi pelaku UMKM yang masih mencoba bangkit dari dampak pandemi Covid‑19.
“Kondisi makroekonomi Indonesia yang kurang kondusif berdampak langsung terhadap aktivitas UMKM, sehingga pertumbuhan kredit di segmen ini ikut melambat,” ujar Henky kepada Kontan.
Target Pertumbuhan Single Digit pada 2026
Untuk 2026, Bank Sampoerna menargetkan pertumbuhan kredit di angka single digit. Henky menegaskan bahwa target itu akan disesuaikan dengan perkembangan ekonomi sepanjang tahun.
Sebagai langkah mencapai target, Bank Sampoerna fokus menjaga pertumbuhan kredit tetap sehat. Salah satu strateginya adalah memperkuat kolaborasi dengan berbagai mitra melalui layanan Bank as a Service (BaaS). Henky menekankan, bank tetap mengedepankan prinsip kehati‑hatian dalam menyalurkan kredit.
“Kami memastikan pertumbuhan kredit tidak hanya cepat, tetapi juga sehat dan terkendali,” ujarnya.
Dukung Integrasi Data UMKM oleh OJK
Bank Sampoerna juga menyambut positif rencana Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang membentuk organisasi khusus untuk menghubungkan data UMKM langsung dengan perbankan dan OJK.
Henky menilai langkah ini akan meminimalkan kesenjangan informasi di sektor pembiayaan UMKM. Dengan data UMKM yang lebih terintegrasi, bank dapat menilai profil risiko debitur secara transparan dan menyalurkan kredit dengan lebih percaya diri.
“Akses data yang lebih lengkap memungkinkan perbankan mengambil keputusan kredit lebih tepat dan efektif,” kata Henky.
Henky optimistis, jaringan data ini tidak hanya meningkatkan keyakinan perbankan, tetapi juga mendorong pertumbuhan permintaan kredit UMKM secara signifikan di masa depan.(*)









