JAKARTA,JS – Rupiah Kian Tertekan, Mendekati level Rp 17.000
Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS kembali melemah dan mendekati level Rp 17.000. Bank Indonesia (BI) menyebut tekanan ini muncul dari meningkatnya gejolak di pasar keuangan global.
Tekanan Global Jadi Faktor Utama
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G. Hutapea, menjelaskan, pelemahan rupiah terjadi akibat eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di negara maju, dan ketidakpastian arah kebijakan The Fed. Selain itu, permintaan valuta asing domestik meningkat pada awal tahun, memperkuat tekanan pada rupiah.
Rupiah ditutup pada Rp 16.860 per dollar AS pada Selasa (13/1/2026), terdepresiasi 1,04 persen secara year-to-date. “Pergerakan mata uang global, termasuk rupiah, sangat dipengaruhi oleh tekanan di pasar keuangan dunia,” ujar Erwin.
Rupiah Tidak Sendirian
Pelemahan rupiah sejalan dengan tren regional. Misalnya, won Korea turun 2,46 persen dan peso Filipina melemah 1,04 persen secara year-to-date. “Rupiah bergerak sejalan dengan nilai tukar regional yang juga terdampak sentimen global,” tambah Erwin.
BI Jaga Stabilitas dengan Intervensi Aktif
BI menegaskan tetap menjaga stabilitas rupiah melalui kebijakan stabilisasi yang konsisten. Bank sentral melakukan intervensi NDF di pasar off-shore di Asia, Eropa, dan AS. Di pasar domestik, BI aktif melalui transaksi spot, DNDF, dan pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder.
Erwin menekankan, BI akan terus berada di pasar untuk memastikan rupiah bergerak sesuai fundamental dan mekanisme pasar yang sehat. Bank sentral juga mengoptimalkan instrumen operasi moneter pro-market untuk menjaga likuiditas, mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, dan mencapai sasaran inflasi.
Rupiah Menguat Tipis di Pasar Spot
Pada perdagangan Rabu pagi pukul 10.36 WIB, rupiah menguat 0,08 persen ke level Rp 16.863 per dollar AS. Pergerakan ini menunjukkan adanya stabilisasi meskipun tekanan global masih terasa.









