Saat Orang Kaya Makin Kaya, Kelas Menengah Justru Tertekan

- Jurnalis

Minggu, 22 Februari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi  Fenomena Ekonomi e-shaped: Si kaya makin kaya, kelas menengah makin tertekan.

Ilustrasi Fenomena Ekonomi e-shaped: Si kaya makin kaya, kelas menengah makin tertekan.

LIFESTYLE,JS- Selama beberapa tahun terakhir, publik mengenal istilah ekonomi berbentuk K untuk menggambarkan jurang antara kelompok kaya dan miskin. Namun kini, para ekonom melihat pola ketimpangan itu berubah. Struktur ekonomi tidak lagi terbelah dua, melainkan membentuk pola baru yang lebih kompleks dan mengkhawatirkan, yakni ekonomi E-shaped.

Dalam pola ini, kelas menengah tidak lagi berdiri sejajar dengan kelompok atas. Mereka juga belum jatuh ke titik terendah seperti kelompok miskin. Akibatnya, ketimpangan ekonomi terasa semakin berlapis dan sulit dijembatani.

Baca Juga :  Ekonomi 6%, Lapangan Kerja Bakal Meledak! Ini Kata Pemerintah

Daya Beli Tidak Lagi Bergerak Seirama

Pertama, perbedaan daya beli kini terlihat semakin jelas. Berdasarkan analisis ekonom dari Bank of America yang dikutip Fortune, pola belanja masyarakat tidak lagi mencerminkan huruf K.

Kelompok berpenghasilan tinggi terus meningkatkan belanja tanpa hambatan berarti. Sebaliknya, kelompok berpenghasilan rendah harus menahan konsumsi akibat tekanan harga. Di tengah kondisi tersebut, kelas menengah hanya mencatat pertumbuhan belanja yang sangat tipis.

Data internal Bank of America menunjukkan jarak konsumsi antarkelompok melebar. Kelompok kaya memimpin pertumbuhan belanja, kelompok bawah tertahan, sementara kelas menengah nyaris stagnan. Para ekonom menilai kondisi ini sebagai tanda melemahnya peran kelas menengah sebagai motor konsumsi.

Baca Juga :  Mau Kaya Seperti Buffett? Terapkan 6 Strategi Investasinya

Pertumbuhan Gaji Menguntungkan Kelompok Atas

Selain daya beli, perbedaan juga muncul dari sisi pendapatan. Selanjutnya, Bank of America mencatat pertumbuhan gaji setelah pajak jauh lebih cepat di kelompok berpenghasilan tinggi. Jarak kenaikan ini menjadi yang terlebar dalam hampir lima tahun terakhir.

Sebaliknya, kelas menengah hanya menikmati kenaikan gaji terbatas. Pada saat yang sama, harga kebutuhan pokok terus meningkat. Akibatnya, banyak keluarga menunda rencana keuangan, menekan pengeluaran, dan kesulitan menambah tabungan.

Bahkan, sebagian rumah tangga mulai mengandalkan kartu kredit untuk memenuhi kebutuhan bulanan. Kondisi ini meningkatkan risiko keuangan dan membuat kelas menengah semakin rentan terhadap guncangan ekonomi.

Kesenjangan Kekayaan Kian Mengakar

Sementara itu, dari sisi aset, jurang kekayaan terus melebar. Data distribusi kekayaan dari Federal Reserve menunjukkan bahwa ketimpangan sudah terbentuk sejak lebih dari satu dekade lalu.

Kelompok 0,1 persen teratas menguasai aset dalam jumlah sangat besar dibandingkan 50 persen terbawah. Meski kelompok bawah tetap mencatat pertumbuhan kekayaan, lajunya jauh tertinggal.

Baca Juga :  Fenomena Unik: Konsumsi Melemah, Keyakinan Ekonomi Menguat

Dalam beberapa tahun terakhir, kekayaan kelompok terkaya tumbuh ratusan persen lebih cepat. Kelas menengah menghadapi tekanan karena sulit mengejar kenaikan nilai rumah dan investasi yang melaju lebih cepat dibanding pendapatan. Akibatnya, mobilitas ekonomi terasa semakin berat, terutama bagi generasi produktif.

Tekanan Utang Terkonsentrasi di Lapisan Bawah

Di sisi lain, risiko finansial paling besar terkonsentrasi pada kelompok tertentu. Laporan dari Federal Reserve Bank of New York menunjukkan keterlambatan pembayaran utang paling banyak terjadi di wilayah berpenghasilan rendah.

Masalah ini terutama muncul pada pinjaman rumah dan pendidikan, terutama di daerah dengan harga properti yang menurun. Tekanan ekonomi terasa paling berat di lapisan bawah masyarakat.

Meski demikian, secara umum tingkat utang rumah tangga masih relatif stabil. Banyak masyarakat mulai bersikap lebih hati-hati dengan berusaha melunasi tagihan kartu kredit setiap bulan. Perubahan ini mencerminkan meningkatnya kewaspadaan terhadap kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.

Pola Belanja Bergeser ke Arah Lebih Hemat

Terakhir, kebiasaan belanja masyarakat juga berubah. Bank of America mencatat fenomena trading-down, yaitu kecenderungan konsumen memilih toko dan produk dengan harga lebih terjangkau.

Pertumbuhan belanja di toko murah melampaui toko premium dalam beberapa tahun terakhir. Kelas menengah dan kelas atas sama-sama menahan pengeluaran akibat tekanan inflasi. Namun, kelompok berpenghasilan rendah tetap mencatat pertumbuhan belanja tertinggi di segmen harga murah.

Bagi kelas menengah, perubahan ini awalnya bersifat strategis. Namun, jika pendapatan tidak segera membaik, pola berhemat berpotensi berubah menjadi keharusan.

Sinyal Peringatan bagi Stabilitas Ekonomi

Secara keseluruhan, ekonomi E-shaped menunjukkan bahwa ketimpangan kini tidak lagi sederhana. Perbedaan belanja, pendapatan, dan kekayaan semakin melebar, sementara kelas menengah berada di posisi paling rentan.

Para ekonom menilai kondisi ini sebagai sinyal peringatan bagi stabilitas ekonomi jangka panjang. Tanpa kebijakan yang mampu memperkuat daya beli dan aset kelas menengah, tekanan ekonomi berisiko semakin dalam.

Bagi masyarakat kelas menengah, fenomena ini menjadi pengingat penting untuk mengelola keuangan secara lebih disiplin. Dengan memahami arah perubahan ekonomi, langkah antisipasi dapat diambil lebih awal untuk menghadapi tantangan finansial yang semakin kompleks.(*)

Berita Terkait

Sinyal HP Tiba-Tiba Turun ke 2G? Waspada Modus Fake BTS yang Bisa Mengincar M-Banking dan Saldo Rekening
Moneymaxxing Jadi Tren Keuangan Baru: Cara Anak Muda Mengoptimalkan Uang, Tabungan, dan Financial Wellness
Terbaru, Cara Menghapus Data Pinjol yang Belum Lunas? Ini Fakta, Langkah Aman, dan Cara Lapornya ke OJK
Jasa Pelunasan Pinjol di Media Sosial Jadi Modus Penipuan, Kenali Ciri-Ciri dan Cara Aman Melunasi Utang
Berapa Butir Telur yang Aman Dimakan Saat Diet? Ahli Ungkap Fakta yang Jarang Diketahui, Jangan Sampai Salah Konsumsi!
Rumah Belum Bersertifikat Bisa Dijual? Ini Aturan Terbaru, Risiko Besar, dan Cara Aman Agar Tidak Kehilangan Uang
Asuransi Penyakit Kritis 2026: Premi Mulai Rp44 Ribu, Ini Cara Melindungi Keuangan dari Biaya Kanker, Stroke, hingga Serangan Jantung
Kredit ASN 2026: Cara Ajukan Pinjaman dengan SK, Syarat Lengkap, Bunga Rendah, Plafon Besar hingga Ratusan Juta
Berita ini 27 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 15:01 WIB

Sinyal HP Tiba-Tiba Turun ke 2G? Waspada Modus Fake BTS yang Bisa Mengincar M-Banking dan Saldo Rekening

Kamis, 20 Agustus 2026 - 11:00 WIB

Moneymaxxing Jadi Tren Keuangan Baru: Cara Anak Muda Mengoptimalkan Uang, Tabungan, dan Financial Wellness

Selasa, 18 Agustus 2026 - 10:01 WIB

Terbaru, Cara Menghapus Data Pinjol yang Belum Lunas? Ini Fakta, Langkah Aman, dan Cara Lapornya ke OJK

Kamis, 13 Agustus 2026 - 16:01 WIB

Jasa Pelunasan Pinjol di Media Sosial Jadi Modus Penipuan, Kenali Ciri-Ciri dan Cara Aman Melunasi Utang

Rabu, 5 Agustus 2026 - 05:01 WIB

Berapa Butir Telur yang Aman Dimakan Saat Diet? Ahli Ungkap Fakta yang Jarang Diketahui, Jangan Sampai Salah Konsumsi!

Berita Terbaru