BISNIS,JS – Strategi pertumbuhan brand lokal tengah bertransformasi seiring perkembangan era digital. Dahulu, visibilitas dan penjualan bergantung pada iklan dan pencarian di marketplace. Kini, konten menjadi gerbang utama bagi konsumen menemukan produk. Video pendek, live streaming, hingga konten pengalaman mendorong konsumen mengetahui produk secara organik bahkan sebelum muncul niat membeli.
Konten Menggeser Peran Iklan
Fenomena ini menegaskan bahwa social commerce kini menjadi strategi inti pemasaran. Aktivitas belanja berawal dari paparan konten yang relevan dengan minat dan gaya hidup, bukan sekadar kebutuhan. Oleh karena itu, konten tidak lagi hanya alat promosi, tapi bagian dari mesin penjualan. Pola discovery commerce menuntut brand menyampaikan nilai produk, cara penggunaan, dan relevansi dalam kehidupan sehari-hari dengan cepat dan autentik.
Stephanie Susilo, Executive Director Tokopedia E-commerce Indonesia, menjelaskan, “Tahun 2025 menjadi tahun pertumbuhan dan konektivitas, di mana ekosistem e-commerce semakin menghubungkan jutaan penjual dengan konsumen.”
Efisiensi dan Kedekatan dengan Konsumen
Bagi brand lokal, social commerce menawarkan dua keuntungan strategis: efisiensi biaya pemasaran dan kedekatan dengan konsumen. Konten membantu brand membangun kepercayaan tanpa mengeluarkan biaya iklan besar. Selain itu, interaksi langsung memberi insight lebih dalam mengenai preferensi dan perilaku konsumen.
Studi Kasus Brand Lokal
Contohnya, Sakura Baru, merek mukena asal Tasikmalaya, memanfaatkan konten sebagai sarana edukasi. Brand menampilkan detail bahan, fungsi, dan keunggulan produk agar konsumen memahami produk dan segera membeli. Pendiri H. Firman menyatakan, “Konsumen bisa memahami produk lebih jelas dan langsung bertransaksi. Proses belanja jadi lebih praktis dan meyakinkan.”
Begitu pula Jiniso Jeans, brand fesyen lokal yang menyasar anak muda. Brand menggunakan konten visual dan live streaming untuk menampilkan sesi styling, mix-and-match, dan penggunaan produk sehari-hari. CEO Roby Chandra menekankan, “Interaksi real-time membuat brand lebih dekat dengan audiens dan memberi insight langsung tentang kebutuhan konsumen.”
Fondasi Kepercayaan dan Kepatuhan
Pertumbuhan berbasis social commerce menuntut fondasi kepercayaan yang kuat. Brand harus menjaga kualitas produk, memberikan informasi jelas, dan mematuhi aturan saat menjalankan strategi pemasaran. Stephanie menambahkan, Tokopedia menyaring lebih dari 250.000 akun penjual yang belum memenuhi standar dan meninjau belasan juta produk sebelum tayang pada Januari–Juni 2025.
Perlindungan Kekayaan Intelektual
Selain itu, perlindungan merek menjadi elemen penting. Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum RI, Hermansyah Siregar, menekankan bahwa penguatan perlindungan kekayaan intelektual membantu UMKM dan brand lokal bertahan dan berkembang di ekosistem digital.
Social commerce kini bukan sekadar tren, melainkan fondasi strategis untuk brand lokal meningkatkan kepercayaan konsumen, memperluas jangkauan, dan bersaing di era digital.(*)









