JAKARTA,JS — Tren pengalihan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) atau take over antarbank terus meningkat seiring berakhirnya masa bunga tetap (fixed rate) dan beralih ke bunga floating yang masih relatif tinggi. PT Bank Central Asia Tbk (BCA) mencatat pertumbuhan signifikan pada segmen ini sepanjang 2025.
Permintaan Take Over KPR Tumbuh Pesat
EVP Consumer Loan BCA, Welly Yandoko, menyampaikan bahwa kenaikan permintaan take over KPR terjadi karena masyarakat semakin memahami fasilitas ini. Selain itu, berbagai promo dari bank juga mendorong minat nasabah.
“Sepanjang 2025, KPR BCA yang berasal dari take over naik sekitar 24% dibandingkan 2024. Meski begitu, kontribusinya terhadap total kredit baru masih di bawah 10%,” jelas Welly kepada Kontan.co.id.
Take Over sebagai Solusi Lonjakan Cicilan
Nasabah beralih ke take over KPR karena cicilan meningkat setelah masa bunga fixed berakhir dan berubah menjadi bunga floating. Kondisi ini membuat nasabah mencari skema bunga yang lebih kompetitif.
Menurut BCA, jumlah debitur yang memindahkan KPR ke BCA lebih banyak daripada yang keluar ke bank lain. Welly menambahkan, hal ini menegaskan bahwa suku bunga KPR BCA sesuai kebutuhan nasabah dan kepercayaan masyarakat tetap tinggi.
BCA memproyeksikan tren take over KPR akan terus meningkat. Informasi yang mudah diakses melalui media sosial dan kampanye promosi perbankan menjadi faktor pendorong utama.
Untuk mempertahankan daya saing, BCA fokus pada tiga strategi utama: transparansi suku bunga, peningkatan kualitas layanan, dan penawaran promo khusus. Saat ini, nasabah yang mengajukan take over KPR ke BCA bisa menikmati diskon biaya provisi hingga 75% dan bebas biaya administrasi.
“Strategi kami sederhana: menjaga transparansi bunga dan terus meningkatkan layanan agar tetap kompetitif sekaligus sesuai kebutuhan nasabah,” tutup Welly.(*)









