PANDEGLANG, JS – Sejak ditugaskan sebagai guru honorer pada 2008, Armani (43) menempuh perjalanan hampir dua jam setiap hari. Ia berangkat dari rumahnya di Kampung Karim, Desa Mendung, menempuh jarak 15 kilometer. Ia memarkir motor di Desa Cibingbin, lalu berjalan kaki sekitar tiga kilometer. Medannya berat. Ia melewati tanah berlumpur dan menyeberangi dua sungai, salah satunya tanpa jembatan.
1. Perjalanan Berat Setiap Hari
Armani menempuh hampir dua jam perjalanan dari rumah ke sekolah. Ia berjalan kaki menyeberangi sungai dan tanah berlumpur, bahkan saat hujan deras.
2. Sekolah Swadaya Warga
Warga mendirikan SDN Sorongan 2 pada 2008 secara swadaya. Bangunan awal hanya satu ruang kelas kayu berukuran 4 x 5 meter.
3. Mengajar Seluruh Kelas dalam Satu Ruangan
Armani mengajar siswa dari kelas 1 hingga 6 dalam satu ruang. Ia menerapkan pembelajaran tematik dengan materi disesuaikan tiap tingkat kelas.
4. Honor Minim dan Tantangan Fisik
Honor awal Armani hanya Rp 150.000 per bulan. Kini menjadi PPPK, ia tetap menghadapi tantangan fisik, terutama saat musim hujan.
5. Harapan untuk Pemerintah
Armani berharap pemerintah memprioritaskan pembangunan sekolah dan penambahan tenaga guru di pelosok. Ia ingin semangat belajar anak-anak tetap terjaga.(AN)









