TEKNOLOGI,JS- Pembayaran menggunakan QRIS semakin melekat dalam aktivitas transaksi masyarakat. Mulai dari membeli makanan di warung, membayar tagihan, berbelanja di pusat perbelanjaan, hingga memberikan donasi, masyarakat cukup memindai kode QR melalui aplikasi pembayaran yang mereka gunakan.
Kemudahan tersebut membuat transaksi berlangsung cepat tanpa perlu membawa uang tunai. Namun, kebiasaan melakukan pembayaran secara praktis juga membawa risiko baru. Penipu dapat memanfaatkan kelengahan pengguna melalui berbagai modus QRIS scam, termasuk mengganti kode pembayaran, memasang QRIS palsu, atau meminta korban melakukan transaksi untuk kedua kalinya.
Karena itu, pengguna perlu membangun kebiasaan memeriksa informasi transaksi sebelum menekan tombol pembayaran. Jangan hanya melihat nominal yang harus dibayar. Nama penerima, tujuan transaksi, serta sumber QRIS juga perlu mendapat perhatian.
Hal ini penting karena kode QR secara visual dapat terlihat serupa. Pengguna baru mengetahui adanya masalah setelah aplikasi menampilkan nama penerima yang berbeda atau ketika uang sudah berpindah ke rekening yang tidak semestinya.
Berikut lima modus penipuan QRIS yang perlu diketahui agar masyarakat dapat melakukan secure digital payment dengan lebih aman.
1. QRIS Palsu Mengarahkan Pembayaran ke Rekening Penipu
Salah satu modus yang perlu diwaspadai adalah penggunaan QRIS palsu. Pelaku dapat menempatkan kode QR miliknya di lokasi yang seharusnya menampilkan kode pembayaran milik merchant.
Situasi tersebut dapat terjadi ketika seseorang menempelkan QRIS baru di atas kode asli. Dari jarak tertentu, kode itu mungkin terlihat normal. Pengguna yang terburu-buru kemudian langsung melakukan pemindaian tanpa memeriksa identitas penerima.
Masalah muncul ketika aplikasi pembayaran menampilkan nama penerima yang tidak sesuai dengan nama toko atau usaha yang sedang dikunjungi.
Karena itu, jangan langsung menekan tombol bayar setelah proses pemindaian selesai. Luangkan beberapa detik untuk membaca nama penerima yang muncul pada layar.
Jika Anda sedang membayar makanan di sebuah restoran, misalnya, nama penerima seharusnya memiliki hubungan dengan merchant tersebut. Apabila nama yang muncul terasa asing atau sama sekali tidak berkaitan dengan transaksi, hentikan pembayaran dan tanyakan kepada kasir.
Mengapa nama penerima sangat penting?
Nominal pembayaran hanya menunjukkan jumlah uang yang akan keluar. Nama penerima menunjukkan pihak yang akan menerima uang tersebut.
Keduanya harus sesuai dengan transaksi yang Anda lakukan.
Kebiasaan sederhana ini dapat mengurangi risiko salah transfer sekaligus membantu pengguna mengenali fake QR code sebelum transaksi berlangsung.
2. QRIS Palsu Muncul di Tempat Umum
Modus berikutnya memanfaatkan tempat yang ramai. Pelaku dapat menempatkan kode QR pada poster, kotak donasi, meja, papan informasi, atau lokasi lain yang membuat orang mengira kode tersebut memang berasal dari pengelola tempat.
Pengguna biasanya lebih mudah percaya ketika kode berada di tempat yang terlihat resmi.
Padahal, keberadaan sebuah QRIS di lokasi tertentu tidak otomatis membuktikan bahwa kode tersebut benar-benar milik pihak yang bersangkutan.
Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan kondisi fisik kode QR. Jika terdapat stiker yang tampak baru, lapisan tempelan yang berbeda, tulisan yang tertutup, atau perubahan yang tidak biasa, jangan langsung melakukan pembayaran.
Untuk donasi, masyarakat juga perlu memastikan identitas lembaga atau penerima dana. Jangan hanya mengandalkan tulisan seperti “donasi”, “bantuan”, atau “amal” yang tercantum di sekitar kode.
Jangan hanya percaya pada tampilan QRIS
Kode QR sendiri bukan bukti bahwa penerima dana memang pihak yang benar.
Setelah melakukan pemindaian, periksa kembali nama penerima yang muncul dalam aplikasi. Jika informasi tersebut tidak sesuai dengan tujuan pembayaran, batalkan transaksi.
Langkah tersebut hanya membutuhkan beberapa detik, tetapi dapat mencegah kerugian yang jauh lebih besar.
3. Kode QRIS Merchant Diganti dengan Milik Pelaku
Pengguna juga perlu mengenali modus penggantian kode pembayaran.
Dalam skenario ini, seseorang mengharapkan pembayaran masuk ke rekening merchant. Namun, kode yang tersedia di meja kasir atau area pembayaran justru mengarahkan uang ke penerima lain.
Pelaku dapat memanfaatkan kondisi ketika pengguna hanya fokus pada nominal transaksi. Selama jumlah pembayaran terlihat benar, pengguna mungkin tidak lagi memperhatikan identitas penerima.
Padahal, nama penerima menjadi salah satu informasi paling penting sebelum transaksi selesai.
Misalnya, Anda hendak membayar Rp75.000 kepada sebuah toko. Setelah memindai QRIS, aplikasi menunjukkan nominal Rp75.000. Jumlahnya memang sesuai, tetapi nama penerimanya berbeda dari nama toko.
Dalam kondisi seperti itu, jangan lanjutkan pembayaran.
Tanyakan kepada kasir apakah nama penerima tersebut memang bagian dari usaha yang bersangkutan. Jika kasir meminta Anda menggunakan kode lain, lakukan pemeriksaan kembali sebelum membayar.
Cek nominal dan penerima secara bersamaan
Mengecek nominal saja belum cukup.
Pengguna perlu memastikan setidaknya tiga hal sebelum menekan tombol pembayaran:
- jumlah transaksi sesuai;
- nama penerima sesuai;
- tujuan pembayaran memang benar.
Kebiasaan tersebut menjadi bagian penting dari QRIS payment security, terutama ketika seseorang melakukan transaksi di tempat yang belum pernah dikunjungi sebelumnya.
4. Penipu Mengaku Pembayaran Sebelumnya Gagal
Modus lain muncul setelah seseorang menyelesaikan transaksi.
Pelaku dapat mengatakan bahwa pembayaran sebelumnya gagal, belum masuk, atau belum tercatat di sistem. Mereka kemudian meminta pengguna melakukan pembayaran ulang menggunakan kode QRIS lain.
Dalam kondisi ramai, pengguna bisa saja percaya karena ingin segera menyelesaikan pembayaran.
Padahal, aplikasi pembayaran biasanya menyimpan riwayat transaksi. Karena itu, jangan langsung melakukan pembayaran kedua hanya berdasarkan ucapan seseorang.
Buka kembali aplikasi yang Anda gunakan. Periksa status transaksi dan riwayat pembayaran.
Jika transaksi pertama menunjukkan status berhasil, jangan melakukan pembayaran kedua sebelum mendapatkan kepastian dari merchant.
Jangan panik ketika diminta membayar ulang
Situasi pembayaran gagal memang dapat membuat pengguna bingung. Namun, kepanikan justru dapat membuat seseorang melewati proses pemeriksaan.
Sebelum melakukan transaksi ulang, lakukan beberapa langkah sederhana:
- Periksa riwayat pembayaran.
- Pastikan status transaksi.
- Cocokkan nominal pembayaran.
- Tanyakan kepada merchant.
- Gunakan kode QRIS yang benar-benar sesuai.
Jika aplikasi menunjukkan transaksi berhasil, simpan bukti pembayaran. Bukti tersebut dapat membantu ketika merchant dan pengguna perlu melakukan pengecekan lebih lanjut.
5. QRIS Menjadi Umpan Promo, Hadiah, atau Verifikasi Palsu
Modus penipuan QRIS tidak selalu berakhir pada pembayaran langsung.
Pelaku juga dapat menggunakan kode QR sebagai umpan untuk mengarahkan pengguna mengikuti instruksi tertentu. Misalnya, pelaku menawarkan hadiah, voucher, cashback, promo khusus, atau meminta pengguna melakukan verifikasi.
Tawaran tersebut dapat terlihat menarik, terutama ketika pengguna menerima informasi melalui pesan, poster, media sosial, atau tempat umum.
Masalah muncul ketika pelaku mulai meminta informasi sensitif.
Pengguna sebaiknya tidak memberikan PIN, password, OTP, kode keamanan, atau data perbankan kepada pihak lain. Bank, penyedia layanan pembayaran, dan platform resmi memiliki mekanisme keamanan sendiri. Pengguna perlu berhati-hati ketika seseorang meminta informasi rahasia dengan alasan verifikasi.
Waspadai kombinasi QRIS dan social engineering
Penipu sering memanfaatkan faktor psikologis untuk membuat korban bertindak cepat. Mereka dapat menggunakan kata-kata seperti “segera”, “hadiah terbatas”, “akun akan diblokir”, atau “verifikasi sekarang”.
Tekanan semacam itu dapat membuat seseorang lupa memeriksa informasi.
Karena itu, jangan mengambil keputusan hanya karena sebuah tawaran terlihat menguntungkan atau mendesak.
Jika sumber QRIS tidak jelas, cari informasi melalui kanal resmi sebelum melakukan tindakan apa pun.
Cara Aman Menggunakan QRIS untuk Transaksi Sehari-hari
Selain mengenali modus penipuan, pengguna juga perlu membangun kebiasaan safe QRIS payment.
Pertama, selalu periksa nama penerima setelah melakukan pemindaian. Jangan langsung menganggap kode tersebut benar hanya karena bentuknya terlihat seperti QRIS.
Kedua, cocokkan nominal pembayaran. Kesalahan nominal dapat terjadi karena pengguna salah memasukkan angka atau merchant memberikan informasi yang berbeda.
Ketiga, jangan melakukan pembayaran ulang sebelum memeriksa status transaksi pertama.
Keempat, simpan bukti pembayaran, terutama untuk transaksi bernilai besar.
Kelima, jangan memberikan PIN atau OTP kepada siapa pun. Informasi keamanan tersebut bersifat rahasia.
Keenam, jika menemukan QRIS yang tampak mencurigakan, tanyakan langsung kepada merchant atau pengelola lokasi.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Salah Bayar QRIS?
Kesalahan transaksi tidak selalu berarti uang langsung kembali. Karena itu, pengguna perlu bertindak secepat mungkin setelah menyadari adanya masalah.
Simpan bukti transaksi dan catat waktu pembayaran. Selanjutnya, hubungi merchant apabila transaksi berkaitan dengan pembelian barang atau jasa.
Jika Anda mencurigai adanya penipuan, hubungi penyedia jasa pembayaran melalui kanal layanan resmi dan jelaskan kronologi secara lengkap.
Jangan menghubungi nomor telepon atau akun media sosial yang diberikan oleh pihak tidak dikenal jika Anda belum memastikan keasliannya.
Semakin lengkap informasi yang tersedia, semakin mudah pihak terkait melakukan penelusuran terhadap transaksi.
QRIS Tetap Praktis, tetapi Pengguna Harus Tetap Teliti
QRIS memberikan kemudahan besar dalam transaksi digital. Pengguna tidak perlu membawa banyak uang tunai dan dapat menyelesaikan pembayaran hanya melalui perangkat yang mereka gunakan sehari-hari.
Namun, kemudahan tersebut tidak berarti pengguna boleh mengabaikan keamanan.
Modus seperti QRIS palsu, penggantian kode pembayaran, permintaan pembayaran ulang, hingga promo palsu menunjukkan bahwa penipuan dapat memanfaatkan kebiasaan pengguna yang terlalu cepat melakukan transaksi.
Karena itu, luangkan beberapa detik sebelum menekan tombol bayar.
Cek nama penerima, periksa nominal, pastikan tujuan transaksi, dan jangan pernah memberikan informasi keamanan kepada orang lain.
Kebiasaan sederhana tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga keamanan transaksi digital di tengah semakin luasnya penggunaan QRIS di Indonesia.(*)










