Hasil Lab Keluar, Sumber Keracunan Massal Siswa SD Muaro Jambi Akhirnya Terbongkar

- Jurnalis

Jumat, 20 Februari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Plejar di Muaro Jambi diduga keracunan MBG beberapa waktu lalu

Plejar di Muaro Jambi diduga keracunan MBG beberapa waktu lalu

MUAROJAMBI,JS– Kasus dugaan keracunan massal yang menimpa siswa sekolah dasar di wilayah Muaro Jambi akhirnya menemukan titik terang. Pemeriksaan laboratorium resmi memastikan adanya kontaminasi bakteri patogen berbahaya pada makanan yang dikonsumsi para siswa.

Ketua Satgas MBG Muaro Jambi, Budhi Hartono, menyampaikan hasil tersebut setelah tim menyelesaikan rangkaian uji laboratorium dan analisis etiologi. Ia menegaskan bahwa bakteri Staphylococcus aureus menjadi penyebab utama, dengan tambahan temuan Escherichia coli (E. coli).

“Uji laboratorium menunjukkan Staphylococcus aureus muncul dominan pada beberapa sampel makanan,” kata Budhi, Kamis (19/2/2026).

Baca Juga :  Birokrasi Dipercepat, Pemkab Muaro Jambi Lantik 12 Administrator

Beragam Menu Terpapar Bakteri

Selanjutnya, hasil pemeriksaan mengungkap bahwa kontaminasi tidak terjadi pada satu jenis makanan saja. Tim menemukan Staphylococcus aureus pada tahu dan toge yang tersimpan di bank sampel. Bakteri serupa juga muncul pada ayam suir dan kol yang berasal dari sisa makanan siswa.

Di sisi lain, E. coli terdeteksi pada bihun yang dikonsumsi siswa kelas 1 hingga 3. Bahkan, tim menemukan kombinasi Staphylococcus aureus dan E. coli sekaligus pada sampel ayam suir dari bank sampel.

Temuan ini memperlihatkan bahwa masalah keamanan pangan terjadi secara menyeluruh, bukan insiden terpisah.

Sampel Klinis Perkuat Dugaan Wabah

Selain memeriksa makanan, tim juga menguji sampel klinis dari siswa. Hasilnya, feses seorang anak berusia 7 tahun menunjukkan hasil positif E. coli.

Dengan temuan tersebut, tim memastikan bahwa gejala mual, muntah, dan diare yang dialami para siswa berkaitan langsung dengan paparan bakteri. Gejala itu tidak lagi dapat dianggap sebagai gangguan pencernaan ringan.

Baca Juga :  Panggil 15 Dapur MBG, Disdik Muaro Jambi Perketat Pengawasan Keamanan Makanan

Air Sumur Bor Jadi Faktor Risiko Tambahan

Air sumur bor di dapur produksi terbukti tidak memenuhi standar kualitas air bersih.

Hasil uji mencatat total coliform mencapai 33 CFU/100 ml, melampaui ambang batas yang diizinkan. Selain itu, kadar mangan tercatat sebesar 0,74 mg/l, jauh di atas standar mutu. Kondisi ini memperbesar risiko kontaminasi silang selama proses pengolahan makanan.

Pola Wabah Mengarah Satu Sumber

Berdasarkan seluruh temuan, tim menyimpulkan bahwa kejadian ini mengikuti pola common source outbreak atau wabah dengan satu sumber paparan. Pola tersebut ditandai oleh lonjakan kasus dalam waktu singkat.

Artinya, kontaminasi kemungkinan besar terjadi di tahap pengolahan atau distribusi makanan, sebelum siswa mengonsumsinya. Praktik higienitas yang lemah dan kualitas air yang buruk menjadi faktor pemicu utama.

Baca Juga :  Konsultasi ke Kemendagri, Muaro Jambi Perkuat Tata Kelola Keuangan

Satgas Sampaikan Rekomendasi Tegas

Dalam rapat evaluasi, Budhi Hartono menyampaikan sejumlah catatan serius kepada yayasan pengelola, Aziz Rukiyah Amanah.

Rekomendasi tersebut mencakup peningkatan pengawasan dapur, penerapan standar keamanan pangan yang lebih ketat, perbaikan sistem air bersih dan sanitasi, serta penguatan pengawasan harian oleh petugas SPPG.

“Petugas lapangan harus memastikan semua proses sesuai standar setiap hari. Kami tidak boleh lengah,” tegas Budhi.

Kewenangan Sanksi di Tangan Pusat

Terkait kemungkinan penghentian kerja sama atau penggantian pengelola, Budhi menegaskan bahwa kewenangan tersebut berada di BGN Pusat. Satgas daerah hanya bertugas menyampaikan hasil investigasi dan rekomendasi teknis.

Alarm Keras Keamanan Pangan Sekolah

Kasus ini menjadi peringatan serius bagi seluruh penyelenggara layanan makan sekolah. Keamanan pangan tidak boleh berhenti pada administrasi semata. Standar yang ketat dan pengawasan konsisten menjadi kunci perlindungan kesehatan anak.

Kini, publik menanti langkah lanjutan dari pihak berwenang. Evaluasi saja tidak cukup. Masyarakat berharap hadirnya jaminan konkret agar insiden serupa tidak kembali terulang.(*)

Berita Terkait

ASN Sungai Penuh Wajib Isi DMS, BKPSDM: Data Akurat Menentukan Layanan dan Masa Depan Kepegawaian
Wako Alfin Sambangi BNPB, Bawa Usulan Rehabilitasi Infrastruktur dan Strategi Penanganan Bencana Sungai Penuh
Setelah 37 Tahun Gelap, 86 KK di Merangin Segera Nikmati Listrik PLN, Jaringan 3 Km Mulai Dibangun
Sekolah Kembali Dibuka, SD-SMP di Muaro Jambi Wajib Pakai Masker, PAUD dan TK Masih Belajar dari Rumah
Tebo Dihantui Karhutla, Api Muncul di Sejumlah Lokasi dalam Beberapa Hari Terakhir
Bunda PAUD Sri Kartini Alfin Ajak Anak Cintai Buku Sejak Dini, Perpustakaan Jadi Ruang Belajar Ceria
Ujian Dinas dan Kenaikan Pangkat PNS 2026 Sungai Penuh Dibuka, Cek Syarat, Jadwal CAT BKN dan Cara Daftar
Karhutla Mengancam, BBTNKS Tutup Jalur Pendakian Gunung Kerinci Sejak 1 September
Berita ini 24 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 4 September 2026 - 08:01 WIB

ASN Sungai Penuh Wajib Isi DMS, BKPSDM: Data Akurat Menentukan Layanan dan Masa Depan Kepegawaian

Kamis, 3 September 2026 - 18:45 WIB

Wako Alfin Sambangi BNPB, Bawa Usulan Rehabilitasi Infrastruktur dan Strategi Penanganan Bencana Sungai Penuh

Kamis, 3 September 2026 - 16:01 WIB

Setelah 37 Tahun Gelap, 86 KK di Merangin Segera Nikmati Listrik PLN, Jaringan 3 Km Mulai Dibangun

Kamis, 3 September 2026 - 13:01 WIB

Tebo Dihantui Karhutla, Api Muncul di Sejumlah Lokasi dalam Beberapa Hari Terakhir

Kamis, 3 September 2026 - 12:20 WIB

Bunda PAUD Sri Kartini Alfin Ajak Anak Cintai Buku Sejak Dini, Perpustakaan Jadi Ruang Belajar Ceria

Berita Terbaru