LIFESTYLE,JS- Selama beberapa tahun terakhir, publik mengenal istilah ekonomi berbentuk K untuk menggambarkan jurang antara kelompok kaya dan miskin. Namun kini, para ekonom melihat pola ketimpangan itu berubah. Struktur ekonomi tidak lagi terbelah dua, melainkan membentuk pola baru yang lebih kompleks dan mengkhawatirkan, yakni ekonomi E-shaped.
Dalam pola ini, kelas menengah tidak lagi berdiri sejajar dengan kelompok atas. Mereka juga belum jatuh ke titik terendah seperti kelompok miskin. Akibatnya, ketimpangan ekonomi terasa semakin berlapis dan sulit dijembatani.
Daya Beli Tidak Lagi Bergerak Seirama
Pertama, perbedaan daya beli kini terlihat semakin jelas. Berdasarkan analisis ekonom dari Bank of America yang dikutip Fortune, pola belanja masyarakat tidak lagi mencerminkan huruf K.
Kelompok berpenghasilan tinggi terus meningkatkan belanja tanpa hambatan berarti. Sebaliknya, kelompok berpenghasilan rendah harus menahan konsumsi akibat tekanan harga. Di tengah kondisi tersebut, kelas menengah hanya mencatat pertumbuhan belanja yang sangat tipis.
Data internal Bank of America menunjukkan jarak konsumsi antarkelompok melebar. Kelompok kaya memimpin pertumbuhan belanja, kelompok bawah tertahan, sementara kelas menengah nyaris stagnan. Para ekonom menilai kondisi ini sebagai tanda melemahnya peran kelas menengah sebagai motor konsumsi.
Pertumbuhan Gaji Menguntungkan Kelompok Atas
Selain daya beli, perbedaan juga muncul dari sisi pendapatan. Selanjutnya, Bank of America mencatat pertumbuhan gaji setelah pajak jauh lebih cepat di kelompok berpenghasilan tinggi. Jarak kenaikan ini menjadi yang terlebar dalam hampir lima tahun terakhir.
Sebaliknya, kelas menengah hanya menikmati kenaikan gaji terbatas. Pada saat yang sama, harga kebutuhan pokok terus meningkat. Akibatnya, banyak keluarga menunda rencana keuangan, menekan pengeluaran, dan kesulitan menambah tabungan.
Bahkan, sebagian rumah tangga mulai mengandalkan kartu kredit untuk memenuhi kebutuhan bulanan. Kondisi ini meningkatkan risiko keuangan dan membuat kelas menengah semakin rentan terhadap guncangan ekonomi.
Kesenjangan Kekayaan Kian Mengakar
Sementara itu, dari sisi aset, jurang kekayaan terus melebar. Data distribusi kekayaan dari Federal Reserve menunjukkan bahwa ketimpangan sudah terbentuk sejak lebih dari satu dekade lalu.
Kelompok 0,1 persen teratas menguasai aset dalam jumlah sangat besar dibandingkan 50 persen terbawah. Meski kelompok bawah tetap mencatat pertumbuhan kekayaan, lajunya jauh tertinggal.
Dalam beberapa tahun terakhir, kekayaan kelompok terkaya tumbuh ratusan persen lebih cepat. Kelas menengah menghadapi tekanan karena sulit mengejar kenaikan nilai rumah dan investasi yang melaju lebih cepat dibanding pendapatan. Akibatnya, mobilitas ekonomi terasa semakin berat, terutama bagi generasi produktif.
Tekanan Utang Terkonsentrasi di Lapisan Bawah
Di sisi lain, risiko finansial paling besar terkonsentrasi pada kelompok tertentu. Laporan dari Federal Reserve Bank of New York menunjukkan keterlambatan pembayaran utang paling banyak terjadi di wilayah berpenghasilan rendah.
Masalah ini terutama muncul pada pinjaman rumah dan pendidikan, terutama di daerah dengan harga properti yang menurun. Tekanan ekonomi terasa paling berat di lapisan bawah masyarakat.
Meski demikian, secara umum tingkat utang rumah tangga masih relatif stabil. Banyak masyarakat mulai bersikap lebih hati-hati dengan berusaha melunasi tagihan kartu kredit setiap bulan. Perubahan ini mencerminkan meningkatnya kewaspadaan terhadap kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih.
Pola Belanja Bergeser ke Arah Lebih Hemat
Terakhir, kebiasaan belanja masyarakat juga berubah. Bank of America mencatat fenomena trading-down, yaitu kecenderungan konsumen memilih toko dan produk dengan harga lebih terjangkau.
Pertumbuhan belanja di toko murah melampaui toko premium dalam beberapa tahun terakhir. Kelas menengah dan kelas atas sama-sama menahan pengeluaran akibat tekanan inflasi. Namun, kelompok berpenghasilan rendah tetap mencatat pertumbuhan belanja tertinggi di segmen harga murah.
Bagi kelas menengah, perubahan ini awalnya bersifat strategis. Namun, jika pendapatan tidak segera membaik, pola berhemat berpotensi berubah menjadi keharusan.
Sinyal Peringatan bagi Stabilitas Ekonomi
Secara keseluruhan, ekonomi E-shaped menunjukkan bahwa ketimpangan kini tidak lagi sederhana. Perbedaan belanja, pendapatan, dan kekayaan semakin melebar, sementara kelas menengah berada di posisi paling rentan.
Para ekonom menilai kondisi ini sebagai sinyal peringatan bagi stabilitas ekonomi jangka panjang. Tanpa kebijakan yang mampu memperkuat daya beli dan aset kelas menengah, tekanan ekonomi berisiko semakin dalam.
Bagi masyarakat kelas menengah, fenomena ini menjadi pengingat penting untuk mengelola keuangan secara lebih disiplin. Dengan memahami arah perubahan ekonomi, langkah antisipasi dapat diambil lebih awal untuk menghadapi tantangan finansial yang semakin kompleks.(*)









