Mengapa Banyak Lulusan S1 Jadi Ojol? Ini Penjelasan Akademisi

- Jurnalis

Minggu, 22 Februari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Llusan sarjana banyak yang jadi OJOL. (Sumber/Google)

Ilustrasi Llusan sarjana banyak yang jadi OJOL. (Sumber/Google)

JAKARTA,JS- Fenomena lulusan strata satu (S1) yang bekerja sebagai pengemudi ojek online (ojol) semakin terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Lulusan dari berbagai perguruan tinggi ternama di Indonesia memilih profesi ini di tengah ketatnya persaingan kerja.

Meski kerap menimbulkan kekhawatiran soal kondisi ekonomi nasional, fenomena tersebut tidak serta-merta mencerminkan kegagalan pendidikan tinggi maupun buruknya perekonomian Indonesia.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Imamudin Yuliadi, menyebut pilihan bekerja sebagai driver ojol lebih banyak bersifat sementara.

Baca Juga :  Ekonomi 6%, Lapangan Kerja Bakal Meledak! Ini Kata Pemerintah

Sarjana Tetap Incar Pekerjaan Sesuai Bidang

Menurut Imamudin, mayoritas lulusan perguruan tinggi tetap memiliki target bekerja sesuai dengan latar belakang keilmuannya. Namun, proses menuju pekerjaan ideal sering membutuhkan waktu yang tidak singkat.

Karena itu, banyak sarjana memilih bekerja sebagai pengemudi ojol sambil menunggu kesempatan yang lebih sesuai.

“Driver ojek online menjadi aktivitas antara atau batu loncatan. Mereka tetap mencari pekerjaan sesuai bidangnya,” ujarnya, dikutip dari laman UMY, Minggu (23/11/2025).

Ojol Dipilih karena Paling Mudah dan Cepat Hasilkan Uang

Selanjutnya, Imamudin menjelaskan alasan mengapa sektor ojek online menjadi pilihan utama. Menurutnya, pekerjaan digital ini sangat inklusif dan mudah diakses siapa saja.

Seseorang bisa langsung bekerja hanya dengan kendaraan pribadi dan waktu luang. Selain itu, pekerjaan ini tidak menuntut modal besar maupun pengalaman khusus.

Baca Juga :  Ribuan Sarjana Indonesia Masih Masuk “Pekerja Putus Asa”

“Ojol paling mudah dan paling murah. Penghasilan bisa langsung didapat sambil menunggu pekerjaan formal,” jelasnya.

Katup Pengaman di Tengah Tekanan Pengangguran

Lebih jauh, Imamudin menilai kehadiran pekerjaan berbasis digital berfungsi sebagai katup pengaman bagi kondisi ketenagakerjaan nasional. Hingga kini, Indonesia masih menghadapi tingkat pengangguran yang cukup tinggi.

Tidak hanya lulusan baru, sektor ini juga menyerap pekerja paruh baya yang kehilangan pekerjaan akibat pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai sektor.

Dalam konteks tersebut, ojol dan layanan digital lain membantu menahan lonjakan pengangguran.

“Tanpa pekerjaan digital seperti ojol dan layanan online, pengangguran bisa jauh lebih besar,” tegasnya.

Struktur Ketenagakerjaan Berubah Cepat

Di sisi lain, Imamudin menegaskan bahwa Indonesia sedang mengalami perubahan struktur ketenagakerjaan secara nyata. Sektor ekonomi digital tumbuh cepat dan agresif.

Baca Juga :  Pekerja dengan Gaji Dibawah Rp10 Juta Bebas PPh pada 2026

Sebaliknya, sejumlah sektor konvensional mengalami stagnasi bahkan penyusutan. Kondisi ini mendorong pergeseran pilihan kerja, terutama di kalangan usia produktif.

Kampus Perlu Lebih Adaptif dengan Dunia Industri

Meski berperan penting, fenomena sarjana menjadi ojol tetap harus menjadi perhatian serius bagi perguruan tinggi. Imamudin meminta kampus memperkuat keterkaitan antara dunia akademik dan kebutuhan industri.

Ia menilai mahasiswa perlu mengenal realitas dunia kerja sejak dini agar tidak mengalami gegar transisi setelah lulus.

“Program magang yang digagas pemerintah sudah tepat. Mahasiswa harus paham peta kerja yang sebenarnya,” katanya.

Ekonomi Nasional Masih Punya Ruang Tumbuh

Menanggapi anggapan bahwa tren sarjana menjadi ojol menandakan ekonomi Indonesia sedang tidak baik-baik saja, Imamudin memberikan pandangan yang lebih seimbang.

Menurutnya, ekonomi nasional masih menyimpan potensi pertumbuhan besar. Percepatan belanja daerah serta program ekonomi lokal seperti Multiplier Based Growth (MBG) ikut menopang optimisme tersebut.

“Ada sektor yang terkontraksi, tetapi banyak juga sektor yang berkembang. Ekonomi kita masih bisa tumbuh lebih tinggi,” ujarnya.

Tiga Langkah Ciptakan Lapangan Kerja untuk Sarjana

Sebagai penutup, Imamudin menekankan tiga langkah utama untuk mengatasi persoalan ketenagakerjaan secara struktural, yakni menciptakan iklim investasi yang kondusif, memperbaiki tata kelola pemerintahan, serta memperkuat UMKM dan koperasi.

Ia meyakini generasi muda mampu memanfaatkan potensi ekonomi daerah untuk menciptakan lapangan kerja baru.

“Setiap daerah punya karakter dan potensi ekonomi. Anak muda bisa mengelolanya untuk meningkatkan kesejahteraan,” pungkasnya.(*)

Berita Terkait

Lulusan S1 Banyak Menganggur, 5 Jurusan Ini Sumbang Pengangguran Sarjana Terbesar
2.722 ASN Mundur pada Semester I 2026, Mayoritas Baru Bekerja hingga 5 Tahun: Alarm Serius bagi Pemerintah
Pajak ETF Emas Bisa Dibebaskan? Ini Strategi Baru Pemerintah untuk Dongkrak Investasi Gold ETF
Orang Kaya Dilarang Beli Pertalite, Pemerintah Siapkan Sistem Baru Berdasarkan Desil
Terbaru!, KIP Kuliah 2026: Cara Cek Penerima, Jadwal Terbaru, Besaran Bantuan hingga Proses Pencairan Dana
Suhu Indonesia Tembus 37,4°C, Ini Wilayah Terpanas dan Ancaman Kemarau Makin Kering
PPPK Tak Boleh Dirumahkan! Pemerintah Siapkan Rp18,9 Triliun untuk 546 Daerah
Karhutla Mengancam Sejumlah Wilayah, Bromo hingga Rinjani Terbakar di Tengah Musim Kemarau
Berita ini 34 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 13 Agustus 2026 - 14:01 WIB

Lulusan S1 Banyak Menganggur, 5 Jurusan Ini Sumbang Pengangguran Sarjana Terbesar

Rabu, 12 Agustus 2026 - 14:30 WIB

2.722 ASN Mundur pada Semester I 2026, Mayoritas Baru Bekerja hingga 5 Tahun: Alarm Serius bagi Pemerintah

Rabu, 12 Agustus 2026 - 11:01 WIB

Pajak ETF Emas Bisa Dibebaskan? Ini Strategi Baru Pemerintah untuk Dongkrak Investasi Gold ETF

Selasa, 11 Agustus 2026 - 22:01 WIB

Orang Kaya Dilarang Beli Pertalite, Pemerintah Siapkan Sistem Baru Berdasarkan Desil

Selasa, 11 Agustus 2026 - 19:01 WIB

Terbaru!, KIP Kuliah 2026: Cara Cek Penerima, Jadwal Terbaru, Besaran Bantuan hingga Proses Pencairan Dana

Berita Terbaru