BISNIS,JS- Kenaikan harga komoditas global diperkirakan membawa dampak positif bagi kinerja PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Sejumlah analis menilai emiten tambang pelat merah yang dikenal sebagai Antam ini berpotensi mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba yang signifikan sepanjang tahun 2026.
Optimisme tersebut muncul seiring tren penguatan harga emas dan nikel di pasar internasional. Kedua komoditas itu selama ini menjadi kontributor utama bagi bisnis Antam.
Analis OCBC Sekuritas, Devi Harjoto, memproyeksikan Antam mampu mencatat kinerja yang kuat pada tahun ini. Ia memperkirakan laba bersih perusahaan dapat mencapai sekitar Rp11 triliun pada 2026.
Sementara itu, pendapatan Antam diperkirakan melonjak hingga Rp125,9 triliun.
Menurut Devi, pertumbuhan tersebut terutama didorong oleh kondisi harga komoditas yang menguntungkan.
“Pertumbuhan pendapatan terutama didorong oleh lingkungan harga komoditas yang mendukung, khususnya untuk produk emas dan nikel,” ujar Devi dalam risetnya yang dirilis pada 10 Februari 2026.
Ia juga mengasumsikan harga emas berada di kisaran US$4.600 per ons pada tahun 2026. Proyeksi ini mencerminkan meningkatnya volatilitas pasar global sekaligus tingginya permintaan terhadap aset safe haven, terutama dari investor ritel di dalam negeri.
Pasokan Emas Mulai Normal pada Semester II
Di sisi lain, volume penjualan emas Antam diperkirakan pulih secara bertahap. Pemulihan tersebut terjadi seiring normalisasi pasokan dari tambang Grasberg yang mulai terlihat sejak kuartal II-2026.
Selain mengandalkan pemulihan pasokan, Antam juga memperkuat ketersediaan bahan baku melalui kerja sama strategis. Perusahaan telah menandatangani perjanjian penjualan dan pembelian emas (gold sales and purchase agreement/GSPA) dengan PT Bumi Suksesindo (BSI) dan PT Puncak Emas Tani Sejahtera (PETS).
Kedua perusahaan yang berada di bawah Merdeka Group tersebut akan memasok sekitar 3 metrik ton emas per tahun kepada Antam.
Lebih lanjut, kebijakan pemerintah yang menaikkan bea ekspor emas diperkirakan mendorong lebih banyak penjualan di pasar domestik. Langkah ini berpotensi mempersempit kesenjangan pasokan yang sempat terganggu akibat produksi dari Grasberg.
Harga Nikel Berpotensi Tetap Premium
Selain emas, segmen nikel juga diperkirakan memberikan kontribusi penting terhadap kinerja Antam pada tahun ini.
Devi menjelaskan bahwa kebijakan pemerintah terkait izin Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang lebih ketat akan meningkatkan persaingan dalam mendapatkan bijih nikel. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat menjaga harga tetap tinggi.
Ia memperkirakan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) bijih nikel mencapai sekitar US$56 per wet metric ton (WMT) pada 2026.
Selain itu, harga nikel global diproyeksikan naik hingga sekitar US$16.500 per ton. Sementara harga jual rata-rata feronikel diperkirakan mencapai sekitar US$13.000 per ton nikel (TNi).
Ekspansi SGAR Dorong Penjualan Bauksit
Tak hanya emas dan nikel, segmen bauksit juga menunjukkan prospek yang cukup menjanjikan. Peningkatan kapasitas Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) diperkirakan akan mendorong pertumbuhan volume penjualan.
Antam bahkan berencana menggandakan kapasitas SGAR hingga mencapai 2 juta ton. Proyek ekspansi tersebut diperkirakan mulai berjalan pada tahun 2026.
Seiring rencana ekspansi tersebut, Devi memperkirakan volume penjualan bijih bauksit dapat mencapai sekitar 2 juta WMT pada tahun ini. Sementara itu, harga jual rata-rata diprediksi tetap stabil di kisaran US$35 per WMT.
Permintaan Emas Ritel Terus Menguat
Sementara itu, Analis Maybank Sekuritas, Hasan Barakwan, juga melihat prospek positif bagi Antam. Ia memperkirakan volume penjualan emas perusahaan dapat mencapai 40 ton pada tahun 2026.
Menurut Hasan, lonjakan permintaan tersebut dipicu oleh minat investasi ritel yang terus meningkat. Fenomena yang kerap disebut sebagai “demam emas” diperkirakan akan berlanjut sepanjang tahun fiskal ini.
Selain itu, Hasan menilai strategi Antam yang mulai mengutamakan pengadaan emas domestik akan memberikan dampak positif terhadap margin perusahaan. Strategi ini menggantikan sebagian impor emas yang sebelumnya memiliki biaya lebih tinggi.
“Perubahan struktur biaya ini, ditambah dengan lingkungan harga tinggi yang berlaku, akan memberikan fondasi kuat bagi pertumbuhan pendapatan Antam pada 2026,” jelas Hasan dalam risetnya pada 6 Februari 2026.
Proyeksi Pendapatan Terus Tumbuh
Hasan juga memperkirakan pendapatan Antam pada periode 2025 hingga 2027 akan tumbuh di kisaran 8,5% hingga 22%.
Proyeksi tersebut menggunakan asumsi harga emas yang berpotensi menembus US$5.000 per troy ounce serta harga bijih nikel sekitar US$50 per ton.
Namun demikian, ia menilai persetujuan RKAB tahun 2026 masih menjadi salah satu risiko utama bagi industri nikel.
Meski begitu, Hasan tetap mempertahankan asumsi volume penjualan bijih nikel Antam sebesar 16 juta ton per tahun untuk periode 2026–2027, sesuai dengan kuota sebelumnya.
Segmen Emas Jadi Penopang Utama
Di sisi lain, Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Miftahul Khaer, menilai kinerja Antam pada awal tahun masih relatif stabil.
Ia menjelaskan bahwa segmen emas menjadi penopang utama perusahaan karena karakteristiknya yang lebih defensif saat kondisi ekonomi global belum stabil.
Sebaliknya, kinerja segmen nikel tetap sangat bergantung pada pergerakan harga dan volume penjualan di pasar internasional.
Miftahul juga menyoroti faktor geopolitik global, khususnya konflik di Timur Tengah, yang berpotensi menjadi katalis positif bagi harga emas.
“Situasi geopolitik yang memanas biasanya mendorong harga emas naik. Kondisi tersebut dapat menjadi katalis positif bagi Antam dalam jangka pendek,” ujarnya, Kamis (5/3/2026).
Meski demikian, ia menegaskan bahwa keberlanjutan kinerja perusahaan tetap bergantung pada konsistensi operasional serta kemampuan perusahaan menjaga margin di tengah dinamika pasar.
Rekomendasi Saham ANTM
Secara keseluruhan, Devi memproyeksikan pendapatan Antam pada 2026 mencapai Rp125,93 triliun dengan laba bersih sekitar Rp11,03 triliun.
Sebagai perbandingan, pendapatan perusahaan diperkirakan mencapai Rp86,12 triliun pada 2025 dengan laba bersih Rp7,29 triliun. Sementara pada 2024, Antam mencatatkan pendapatan sebesar Rp69,19 triliun dan laba bersih Rp3,85 triliun.
Dari sisi rekomendasi investasi, Devi dan Hasan sama-sama memberikan rekomendasi buy untuk saham ANTM.
Devi memasang target harga Rp5.000 per saham, sedangkan Hasan menetapkan target Rp4.500 per saham.
Sementara itu, Miftahul merekomendasikan hold dengan target harga Rp4.900 per saham.
Meski prospeknya cukup positif, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko yang dapat memengaruhi kinerja Antam.
Beberapa risiko tersebut antara lain potensi penurunan harga nikel akibat perlambatan ekonomi global. Selain itu, pemerintah juga berpotensi menaikkan royalti atau pajak ekspor untuk produk nikel kelas dua.
Risiko lain meliputi kemungkinan keterlambatan pengoperasian fasilitas feronikel baru serta proses persetujuan RKAB yang lebih lama dari perkiraan.
Catatan ; Artikel ini hanya memuat tentang informasi semata, bukan untuk mengajak masyarakat dan mengikuti investasi, pasar saham, trending dan sebagainya. segala resiko seperti kegagalan di luar tanggung jawab jambisun.id. (*)









