MUAROJAMBI,JS- Krisis air bersih kembali menghantui warga di Kabupaten Muaro Jambi. Sebanyak 115 kepala keluarga (KK) di Perumahan Kembar Lestari I dan II, tepatnya di RT 28 dan RT 33, Desa Mendalo Darat, Kecamatan Jambi Luar Kota (Jaluko), mengalami kesulitan air bersih selama sekitar 15 hari terakhir.
Akibat terhentinya pasokan air dari Perumda Tirta Muaro Jambi, aktivitas harian warga terganggu secara signifikan. Mereka kesulitan memenuhi kebutuhan dasar seperti mandi, mencuci, hingga buang air (MCK).
Air Ledeng Mati, Warga Terpaksa Cari Alternatif
Kondisi ini memaksa warga mengambil berbagai langkah darurat. Sebagian warga memilih membeli air bersih, sementara yang lain harus menumpang ke rumah kerabat.
Ketua RT 28, Sutrisno, menjelaskan bahwa gangguan distribusi air sudah berlangsung cukup lama dan belum menunjukkan tanda pemulihan total.
“Kalau dihitung, sudah sekitar 15 hari air tidak mengalir. Memang sempat hidup dua hari lalu, tetapi debitnya sangat kecil,” jelasnya.
Selain itu, ia menambahkan bahwa warga mulai merasa kelelahan menghadapi kondisi ini karena gangguan air bukan pertama kali terjadi.
Keluhan Warga Sudah Disampaikan, Tapi Belum Tuntas
Warga tidak tinggal diam. Mereka langsung menyampaikan keluhan ke pemerintah desa hingga ke pihak kecamatan. Bahkan, pihak Kecamatan Jaluko telah meminta data jumlah warga terdampak sebagai bahan tindak lanjut.
Sutrisno menegaskan bahwa laporan juga sudah sampai ke pihak Perumda Tirta Muaro Jambi. Namun hingga saat ini, solusi permanen belum terlihat.
“Beberapa hari lalu ada bantuan air bersih dari mobil tangki BPBD, tetapi jumlahnya belum cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh warga,” ungkapnya.
Diduga Akibat Kerusakan Pipa Distribusi
Warga menduga gangguan ini terjadi akibat kerusakan pada jalur pipa distribusi utama. Jalur tersebut mengarah ke Perumahan Kembar Lestari dan kawasan Puri Arza.
Menariknya, wilayah lain seperti Perumahan Kembar Lestari III dan Perumahan Masurai justru masih menerima pasokan air secara normal. Hal ini semakin memperkuat dugaan adanya gangguan teknis di jalur tertentu.
Dampak Nyata: Beban Ekonomi Warga Meningkat
Krisis air bersih ini tidak hanya mengganggu aktivitas, tetapi juga menambah beban ekonomi warga. Mereka harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli air bersih setiap hari.
Bagi keluarga dengan penghasilan terbatas, kondisi ini tentu sangat memberatkan. Salah seorang warga mengungkapkan kekecewaannya terhadap pelayanan Perumda.
“Di sini air mati memang sering terjadi, terutama saat akhir pekan. Tapi kali ini paling lama sampai dua minggu. Kami terpaksa beli air atau numpang mandi,” ujarnya.
Sebagian Warga Bertahan dengan Sumur Bor
Di sisi lain, sebagian kecil warga yang memiliki sumur bor pribadi masih bisa bertahan.
Namun demikian, jumlah warga dengan sumur bor sangat terbatas. Mayoritas warga tetap bergantung pada distribusi air dari Perumda.
Harapan Warga: Pemerintah Harus Bertindak Cepat
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi segera turun tangan secara serius. Mereka meminta perhatian langsung dari Bupati dan DPRD untuk menyelesaikan persoalan ini.
Selain itu, warga juga menuntut transparansi terkait penyebab gangguan air. Hingga kini, belum ada penjelasan resmi yang detail dari pihak terkait.
Jika kondisi ini terus berlanjut, dikhawatirkan akan memicu masalah kesehatan dan kebersihan lingkungan.
Masalah Air Bersih: Isu Klasik yang Harus Segera Diatasi
Kasus ini menunjukkan bahwa masalah distribusi air bersih masih menjadi isu klasik di berbagai daerah di Indonesia. Infrastruktur yang belum optimal serta minimnya respons cepat sering memperparah kondisi.
Oleh karena itu, pemerintah daerah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem distribusi air. Perbaikan jaringan pipa serta peningkatan pelayanan harus menjadi prioritas utama.
Kesimpulan
Krisis air bersih yang dialami 115 KK di Muaro Jambi menjadi peringatan serius bagi semua pihak. Gangguan selama 15 hari bukan hanya soal teknis, tetapi juga menyangkut kualitas pelayanan publik.
Jika tidak segera ditangani, dampaknya akan semakin luas, mulai dari ekonomi hingga kesehatan masyarakat.(*)









