OTOMOTIF,JS- Perdebatan mengenai penggunaan bahan bakar beroktan tinggi pada motor tua masih sering muncul di kalangan pecinta otomotif. Banyak pemilik motor lawas percaya bahwa penggunaan Pertamax atau bensin dengan angka oktan lebih tinggi dapat membuat mesin cepat panas, boros, bahkan memperpendek usia komponen mesin.
Anggapan tersebut membuat sebagian pengguna kendaraan roda dua generasi lama tetap memilih bahan bakar dengan angka oktan yang lebih rendah. Namun, benarkah Pertamax menjadi penyebab utama mesin motor tua mengalami overheat?
Faktanya, persoalan ini tidak sesederhana memilih antara Pertamax atau Pertalite. Ada faktor teknis yang jauh lebih penting, yaitu rasio kompresi mesin, karakteristik pembakaran bahan bakar, serta pengaturan sistem pengapian kendaraan.
Memahami Perbedaan Angka Oktan pada Bahan Bakar
Sebelum membahas dampaknya terhadap motor tua, penting untuk memahami fungsi angka oktan pada bahan bakar.
Angka oktan menunjukkan kemampuan bensin menahan tekanan sebelum terbakar di ruang bakar. Semakin tinggi angka oktan, semakin besar kemampuan bahan bakar tersebut menahan detonasi atau pembakaran dini.
Mesin berkompresi tinggi membutuhkan bahan bakar yang mampu bertahan terhadap tekanan besar sebelum busi memicu pembakaran secara sempurna. Jika mesin modern menggunakan bahan bakar beroktan rendah, risiko knocking atau ngelitik akan meningkat dan dapat merusak komponen mesin dalam jangka panjang.
Sebaliknya, penggunaan bahan bakar beroktan tinggi pada mesin berkompresi rendah tidak selalu memberikan keuntungan signifikan.
Mengapa Motor Tua dan Pertamax Tidak Selalu Cocok?
Sebagian besar motor tua menggunakan desain mesin dengan rasio kompresi relatif rendah. Banyak motor lawas memiliki rasio kompresi di bawah 9:1 karena teknologi mesin pada masanya memang dirancang untuk menggunakan bahan bakar beroktan lebih rendah.
Ketika Pertamax dimasukkan ke dalam mesin seperti ini, proses pembakaran sering kali tidak berlangsung dalam kondisi ideal.
Bahan bakar beroktan tinggi memiliki karakteristik pembakaran yang lebih lambat dibanding bensin beroktan rendah. Karakteristik tersebut sangat menguntungkan pada mesin modern karena tekanan kompresinya tinggi.
Akibatnya, sebagian proses pembakaran masih berlangsung ketika piston mulai bergerak turun. Kondisi ini membuat panas lebih lama berada di dalam ruang bakar dan sebagian energi panas berpindah ke dinding silinder serta kepala silinder.
Inilah yang sering memunculkan persepsi bahwa Pertamax membuat mesin motor tua lebih panas.
Mesin Panas Bukan Karena Pertamax Lebih Panas
Banyak pengendara menganggap Pertamax menghasilkan suhu api yang lebih tinggi dibanding Pertalite. Padahal anggapan tersebut tidak tepat.
Pertamax tidak menghasilkan api yang secara otomatis lebih panas. Yang terjadi justru ketidaksesuaian antara karakteristik bahan bakar dan desain mesin.
Ketika pembakaran berlangsung kurang optimal, sebagian energi panas tidak berubah menjadi tenaga secara maksimal. Energi tersebut kemudian terserap oleh komponen mesin.
Dampak Jangka Panjang Jika Ketidaksesuaian Terus Terjadi
Penggunaan bahan bakar yang tidak sesuai rasio kompresi memang tidak langsung merusak mesin. Namun dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memengaruhi performa dan ketahanan beberapa komponen.
Saat temperatur mesin terus meningkat, oli mesin bekerja lebih keras untuk menjaga pelumasan.
Jika suhu terlalu tinggi dalam waktu lama, viskositas oli dapat menurun lebih cepat. Oli yang terlalu encer tidak mampu memberikan perlindungan optimal terhadap gesekan antar komponen.
Akibatnya, beberapa bagian mesin berpotensi mengalami keausan lebih cepat, seperti:
- Ring piston
- Dinding silinder
- Poros engkol
- Bearing mesin
- Katup dan mekanisme klep
Selain itu, efisiensi pembakaran yang kurang optimal juga dapat menyebabkan konsumsi bahan bakar menjadi tidak maksimal.
Banyak pengguna berharap Pertamax membuat motor tua lebih irit. Namun pada beberapa kasus, hasil yang diperoleh justru tidak jauh berbeda atau bahkan lebih boros dibanding bahan bakar yang sesuai dengan spesifikasi mesin.
Kapan Pertamax Justru Menjadi Pilihan yang Tepat?
Beberapa modifikasi yang dapat meningkatkan kebutuhan oktan antara lain:
- Peningkatan rasio kompresi mesin
- Penggantian piston berkompresi tinggi
- Porting dan polishing
- Bore up
- Modifikasi sistem pengapian
Jika rasio kompresi meningkat secara signifikan, penggunaan Pertamax justru membantu mencegah knocking dan menjaga proses pembakaran tetap stabil.
Karena itu, pemilik motor yang telah melakukan modifikasi sebaiknya menyesuaikan pilihan bahan bakar dengan spesifikasi terbaru mesin.
Solusi Jika Tetap Ingin Menggunakan Pertamax
Sebagian pengguna tetap memilih Pertamax karena kandungan aditifnya dianggap lebih bersih dan mampu menjaga ruang bakar dari penumpukan kerak.
Hal tersebut memang memiliki dasar teknis yang cukup kuat. Namun penggunaan Pertamax pada motor tua sebaiknya diimbangi dengan penyesuaian tertentu.
Salah satu solusi yang umum dilakukan mekanik adalah mengatur ulang waktu pengapian atau ignition timing.
Dengan memajukan sedikit waktu percikan busi, proses pembakaran dapat dimulai lebih awal sehingga bahan bakar memiliki waktu cukup untuk terbakar secara sempurna.
Penyesuaian ini membantu mengoptimalkan pembakaran dan mengurangi potensi akumulasi panas berlebih di ruang bakar.
BBM Terbaik untuk Motor Tua Menurut Rasio Kompresi
Pemilihan bahan bakar ideal seharusnya mengikuti rekomendasi rasio kompresi mesin.
Secara umum, panduan sederhananya sebagai berikut:
- Rasio Kompresi di Bawah 9:1
- Bahan bakar beroktan 90 umumnya sudah mencukupi kebutuhan mesin.
- Rasio Kompresi 9:1 hingga 10:1
- Bahan bakar beroktan 92 menjadi pilihan yang lebih ideal.
- Rasio Kompresi di Atas 10:1
- Mesin membutuhkan bahan bakar dengan angka oktan lebih tinggi untuk mencegah knocking.
Karena itu, pemilik motor tua perlu mengetahui spesifikasi mesin sebelum menentukan jenis BBM yang digunakan setiap hari.
Kesimpulan
Mitos bahwa Pertamax membuat mesin motor tua cepat panas tidak sepenuhnya benar. Pertamax bukan penyebab langsung meningkatnya suhu mesin.
Masalah muncul karena karakteristik bahan bakar beroktan tinggi tidak selalu cocok dengan mesin berkompresi rendah yang banyak digunakan pada motor lawas.
Ketika pembakaran berlangsung kurang optimal, panas lebih banyak terserap oleh komponen mesin sehingga suhu kerja terasa meningkat. Kondisi tersebut dapat memengaruhi kualitas pelumasan dan efisiensi mesin jika terjadi dalam jangka panjang.
Bagi motor tua yang masih menggunakan spesifikasi standar pabrikan, bahan bakar dengan angka oktan sesuai rekomendasi biasanya menjadi pilihan paling aman dan ekonomis.
Sementara itu, motor lawas yang telah mengalami peningkatan performa dapat memperoleh manfaat lebih besar dari penggunaan bahan bakar beroktan tinggi seperti Pertamax.
Pada akhirnya, kunci utama menjaga mesin tetap awet bukan terletak pada penggunaan BBM paling mahal, melainkan pada kesesuaian antara rasio kompresi, sistem pengapian, dan jenis bahan bakar yang digunakan.(*)









