AI Mulai Kuasai Industri Asuransi 2026, Underwriting Tak Lagi Jadi Satu-satunya Andalan

- Jurnalis

Jumat, 21 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

TEKNOLOGI,JS- Pemanfaatan artificial intelligence (AI) di industri asuransi memasuki fase baru. Perusahaan asuransi kini tidak lagi hanya mengandalkan teknologi kecerdasan buatan untuk melakukan underwriting atau menilai risiko calon pemegang polis.

AI mulai merambah berbagai fungsi strategis, mulai dari customer service, claims management, product development, marketing, hingga distribution. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa perusahaan asuransi semakin melihat AI sebagai bagian dari strategi transformasi bisnis, bukan sekadar alat untuk mengotomatisasi pekerjaan tertentu.

Temuan survei GlobalData pada kuartal III 2026 memperlihatkan perubahan menarik dalam peta penggunaan AI di sektor asuransi. Underwriting dan risk profiling memang masih menempati posisi teratas sebagai area yang dinilai paling berpotensi memperoleh manfaat dari AI.

Namun, porsinya mengalami penurunan cukup besar dibandingkan tahun sebelumnya.

Dalam survei yang dilakukan di seluruh situs Verdict Media tersebut, sebanyak 34,4 persen responden memilih underwriting dan risk profiling sebagai use case AI yang paling memberikan manfaat bagi industri asuransi.

Posisi berikutnya ditempati customer service sebesar 20,4 persen, kemudian claims management 18,3 persen, product development 16,1 persen, serta marketing and distribution 10,8 persen.

Underwriting Masih Nomor Satu, tetapi Dominasinya Menurun

Data GlobalData memperlihatkan bahwa underwriting masih menjadi pusat perhatian dalam penerapan AI di industri asuransi.

Meski demikian, perusahaan asuransi tampaknya mulai memperluas fokus mereka.

Pada periode yang sama tahun sebelumnya, sebanyak 45,8 persen responden memilih underwriting dan risk profiling sebagai area dengan potensi manfaat AI terbesar.

Setahun kemudian, angka tersebut turun menjadi 34,4 persen.

Artinya, porsi tersebut mengalami penurunan 11,4 percentage points dalam satu tahun.

Perubahan ini tidak serta-merta menunjukkan bahwa perusahaan asuransi mulai meninggalkan AI untuk underwriting. Sebaliknya, angka tersebut memperlihatkan bahwa semakin banyak fungsi bisnis yang kini mulai mendapatkan perhatian dari teknologi AI.

Perusahaan asuransi mulai melihat peluang AI di sepanjang rantai nilai bisnis.

Mulai dari memperoleh calon nasabah, memahami kebutuhan konsumen, merancang produk, menentukan harga, menerima risiko, melayani pelanggan, hingga menyelesaikan klaim.

Dengan demikian, AI insurance technology berpotensi berkembang dari sebuah perangkat pendukung menjadi infrastruktur digital yang menopang operasional perusahaan asuransi.

Baca Juga :  Rumah Serba Otomatis? Teknologi AI Ini Siap Gantikan Pekerjaan Rumah!

Product Development Menjadi Area AI yang Semakin Menjanjikan

Salah satu perubahan paling mencolok muncul pada area product development.

Dalam survei terbaru, sebanyak 16,1 persen responden menilai pengembangan produk sebagai area yang paling berpotensi mendapatkan manfaat dari AI.

Angka tersebut meningkat 8,9 percentage points dibandingkan periode sebelumnya.

Kenaikan tersebut memberikan sinyal penting bagi industri asuransi.

Perusahaan tidak hanya membutuhkan teknologi untuk mempercepat proses internal. Mereka juga membutuhkan AI untuk memahami perubahan perilaku konsumen dan menciptakan produk yang lebih relevan.

AI dapat membantu perusahaan menganalisis data dalam jumlah besar. Dari data tersebut, perusahaan dapat menemukan pola kebutuhan konsumen, perubahan profil risiko, tren perilaku, hingga peluang pasar yang sebelumnya sulit terlihat melalui analisis manual.

Teknologi tersebut kemudian dapat mendukung proses insurance product development.

Misalnya, perusahaan dapat menggunakan analitik berbasis AI untuk mengidentifikasi kelompok konsumen tertentu yang membutuhkan perlindungan spesifik.

Perusahaan juga dapat menggabungkan data perilaku, karakteristik risiko, dan tren pasar untuk membantu merancang produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan pelanggan.

AI Mulai Mengubah Cara Perusahaan Memahami Nasabah

Selain pengembangan produk, customer service juga menjadi salah satu area penting dalam transformasi AI.

Sebanyak 20,4 persen responden memilih layanan pelanggan sebagai bidang yang paling berpotensi memperoleh manfaat dari kecerdasan buatan.

Perusahaan asuransi menghadapi kebutuhan pelanggan yang semakin cepat. Konsumen menginginkan jawaban yang mudah dipahami, proses yang sederhana, dan layanan yang tersedia kapan saja.

Karena itu, perusahaan dapat memanfaatkan AI untuk meningkatkan kualitas interaksi dengan pelanggan.

Teknologi seperti chatbot berbasis AI, virtual assistant, analisis percakapan, dan sistem rekomendasi dapat membantu perusahaan memberikan respons lebih cepat.

Namun, perusahaan tetap perlu menjaga keseimbangan antara otomatisasi dan interaksi manusia.

Tidak semua persoalan nasabah dapat diselesaikan melalui sistem otomatis. Kasus yang kompleks, sensitif, atau membutuhkan keputusan khusus tetap membutuhkan tenaga profesional.

Dengan pendekatan tersebut, AI dapat menangani pekerjaan rutin sementara tenaga manusia fokus pada persoalan yang membutuhkan empati, penilaian, dan pengambilan keputusan.

Claims Management Jadi Target Penting Transformasi AI

Claims management menempati posisi berikutnya dengan porsi 18,3 persen responden.

Area ini memiliki peluang besar untuk memanfaatkan AI karena proses klaim biasanya melibatkan banyak dokumen, data, pemeriksaan, dan tahapan verifikasi.

AI dapat membantu perusahaan mengelompokkan klaim berdasarkan karakteristik tertentu. Sistem juga dapat membantu membaca dokumen, menemukan pola transaksi yang tidak biasa, dan memberikan sinyal awal terhadap potensi fraud.

Dalam konteks tersebut, AI fraud detection menjadi salah satu teknologi yang berpotensi memberikan nilai ekonomi besar bagi perusahaan asuransi.

Deteksi fraud yang lebih cepat dapat membantu perusahaan mengurangi potensi kerugian sekaligus mempercepat penanganan klaim yang valid.

Namun, perusahaan tidak boleh menyerahkan seluruh keputusan kepada mesin.

AI sebaiknya memberikan rekomendasi atau sinyal awal yang kemudian diperiksa oleh tenaga profesional. Pendekatan tersebut penting untuk menghindari kesalahan sistem yang dapat merugikan konsumen.

Marketing dan Distribution Juga Mulai Memanfaatkan AI

Sementara itu, marketing and distribution memperoleh porsi 10,8 persen dalam survei tersebut.

Angka ini memang menjadi yang terkecil dibandingkan use case lainnya. Namun, sektor pemasaran dan distribusi tetap memiliki peluang besar untuk memanfaatkan AI.

Perusahaan dapat menggunakan AI untuk menganalisis perilaku calon pelanggan, menentukan segmentasi pasar, memprediksi kebutuhan konsumen, dan mengoptimalkan strategi pemasaran.

Dengan data yang semakin besar, perusahaan dapat membuat kampanye yang lebih terarah.

AI juga dapat membantu perusahaan menentukan produk yang paling relevan untuk kelompok pelanggan tertentu. Dengan begitu, perusahaan tidak perlu menggunakan strategi pemasaran yang sama untuk seluruh konsumen.

Pendekatan tersebut berpotensi meningkatkan efisiensi biaya pemasaran sekaligus memperbaiki pengalaman pelanggan.

Dari Efisiensi Operasional Menuju Transformasi Bisnis

Perkembangan tersebut menunjukkan perubahan paradigma dalam penggunaan AI untuk industri asuransi.

Pada tahap awal, banyak perusahaan memanfaatkan AI untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu.

Contohnya, perusahaan menggunakan AI untuk membantu underwriting, mendeteksi fraud, mengotomatisasi layanan pelanggan, atau memproses dokumen.

Kini, perusahaan mulai mengembangkan pendekatan yang lebih luas.

AI dapat terhubung dengan berbagai fungsi bisnis sehingga menghasilkan aliran data yang lebih terintegrasi.

Informasi pelanggan dapat membantu proses pengembangan produk. Data risiko dapat membantu underwriting. Informasi klaim dapat membantu perusahaan menemukan pola fraud. Sementara itu, data interaksi pelanggan dapat membantu perusahaan memahami kebutuhan pasar.

Dengan integrasi tersebut, perusahaan dapat membangun ekosistem digital insurance yang lebih responsif.

Data tidak lagi berhenti pada satu departemen. Perusahaan dapat memanfaatkannya untuk mendukung berbagai keputusan bisnis.

GlobalData: AI Dapat Menciptakan Keunggulan Kompetitif

Analis Asuransi GlobalData, Sahil Haider, menilai perluasan penggunaan AI menunjukkan meningkatnya pemahaman industri terhadap kemampuan teknologi tersebut.

Menurut Haider, perusahaan asuransi kini tidak hanya mengejar peningkatan kualitas seleksi risiko.

Perusahaan juga mulai menggunakan AI untuk meningkatkan keterlibatan pelanggan, mempercepat inovasi produk, dan mendukung efisiensi operasional.

Perubahan tersebut penting karena persaingan industri asuransi semakin bergeser.

Perusahaan tidak cukup hanya menawarkan produk dengan harga kompetitif. Mereka juga harus memberikan pengalaman pelanggan yang cepat, mudah, dan relevan.

Di sinilah AI dapat memberikan keunggulan.

Perusahaan yang mampu mengolah data secara cepat dapat memperoleh informasi yang lebih baik untuk mendukung pengambilan keputusan.

Namun, kemampuan teknologi saja tidak cukup.

Perusahaan juga membutuhkan strategi data, sumber daya manusia, infrastruktur teknologi, serta tata kelola yang kuat.

Tantangan AI Insurance: Data, Keamanan, dan Regulasi

Semakin luas penggunaan AI juga menghadirkan risiko baru.

Perusahaan asuransi mengelola data yang sangat penting. Informasi tersebut dapat mencakup identitas pelanggan, kondisi finansial, profil risiko, riwayat polis, hingga data yang berkaitan dengan klaim.

Karena itu, data privacy in insurance menjadi aspek yang sangat penting.

Perusahaan harus memastikan sistem AI menggunakan data secara aman dan bertanggung jawab.

Kualitas data juga menjadi faktor utama.

AI hanya dapat menghasilkan analisis yang baik jika perusahaan memasukkan data yang akurat, relevan, dan berkualitas.

Data yang buruk dapat menghasilkan keputusan yang buruk pula.

Selain itu, perusahaan harus memahami cara kerja model AI yang mereka gunakan. Mereka perlu melakukan pengujian secara berkala untuk menemukan potensi kesalahan, bias, maupun perubahan performa model.

AI Governance Menjadi Semakin Penting

Peningkatan penggunaan AI membuat konsep AI governance semakin relevan bagi industri asuransi.

Tata kelola AI tidak hanya berkaitan dengan teknologi. Perusahaan perlu menentukan siapa yang bertanggung jawab terhadap keputusan sistem, bagaimana perusahaan melakukan pengawasan, dan kapan manusia harus mengambil alih keputusan.

Aspek tersebut sangat penting karena keputusan dalam industri asuransi dapat berdampak langsung kepada konsumen.

Contohnya, sistem AI dapat membantu menilai risiko calon nasabah.

Baca Juga :  Dokumen Sekarang Bisa “Diajak Ngobrol”, Ini Teknologi AI di Baliknya

Sistem juga dapat membantu menentukan segmentasi risiko atau memberikan rekomendasi dalam proses klaim.

Jika sistem menghasilkan kesalahan, dampaknya dapat dirasakan langsung oleh pemegang polis.

Karena itu, perusahaan perlu menerapkan prinsip transparansi, akuntabilitas, keamanan data, dan perlindungan konsumen.

Masa Depan Industri Asuransi Semakin Bergantung pada Data

Perubahan pola penggunaan AI menunjukkan bahwa masa depan industri asuransi akan semakin berkaitan dengan kemampuan perusahaan mengelola data.

Underwriting memang masih menjadi use case terbesar. Namun, penurunan porsinya menunjukkan bahwa perusahaan mulai menemukan peluang baru.

Product development tumbuh. Customer service mendapatkan perhatian. Claims management terus berkembang. Marketing dan distribution juga mulai memanfaatkan teknologi.

Semua fungsi tersebut memiliki satu kesamaan: data.

Perusahaan yang mampu mengumpulkan, mengolah, dan menggunakan data secara bertanggung jawab akan memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan efisiensi sekaligus menciptakan produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar.

Karena itu, kompetisi perusahaan asuransi pada masa depan kemungkinan tidak hanya berlangsung pada harga premi atau jumlah produk.

Persaingan juga akan terjadi pada kemampuan perusahaan menggunakan teknologi untuk mengambil keputusan secara cepat dan akurat.

AI Bisa Menjadi Infrastruktur Baru Industri Asuransi

Perkembangan terbaru tersebut memperlihatkan bahwa AI sedang mengalami perubahan posisi dalam industri asuransi.

Jika sebelumnya perusahaan lebih banyak menggunakan AI sebagai alat untuk membantu underwriting, kini teknologi tersebut mulai memasuki berbagai lini bisnis.

Perubahan tersebut membuka peluang besar.

AI dapat membantu perusahaan mengembangkan produk, memahami pelanggan, mempercepat klaim, mendeteksi fraud, mengoptimalkan pemasaran, dan meningkatkan efisiensi operasional.

Namun, perusahaan harus menjalankan transformasi tersebut secara bertanggung jawab.

Teknologi tidak boleh mengorbankan transparansi, keamanan data, akurasi, maupun hak konsumen.

Dengan underwriting yang masih memimpin, tetapi dengan porsi yang terus menurun, arah industri menunjukkan satu hal yang semakin jelas: AI tidak lagi sekadar alat underwriting, tetapi berpotensi menjadi infrastruktur digital bagi seluruh rantai bisnis asuransi.

Bagi perusahaan asuransi, pertanyaan terbesar ke depan bukan lagi apakah mereka akan menggunakan AI.

Pertanyaannya adalah seberapa jauh mereka mampu mengintegrasikan artificial intelligence, insurance technology, data analytics, automation, fraud detection, customer experience, dan AI governance ke dalam strategi bisnis tanpa kehilangan kepercayaan konsumen.

Pada akhirnya, perusahaan yang mampu memadukan teknologi dengan tata kelola yang kuat berpeluang menjadi pemenang dalam transformasi industri asuransi berbasis AI.(*)

Berita Terkait

BNI wondrX 2026 Hadirkan Zona Travel, Tiket Pesawat Murah hingga Visa dalam Satu Tempat
Akun Instagram Kena Limit? Ini Cara Memulihkan Pembatasan Aktivitas agar Normal Kembali
Pembatasan Iklan YouTube 2026: Aturan Baru, Dampak bagi Kreator, dan Cara Menjaga RPM Adsense Tetap Optimal
ChatGPT untuk Remaja Resmi Hadir: Fitur Baru untuk Usia 13–17 Tahun, Orang Tua Bisa Atur Jam Penggunaan
FB Pro vs TikTok vs YouTube 2026: Platform Mana Paling Menguntungkan untuk Raup Cuan dari Konten Digital?
Mulai Oktober 2026, Biaya QRIS Bisa Rp0 untuk Semua Merchant, Cek Syarat dan Batasnya
AI Palsu Jadi Senjata Baru Hacker, ChatGPT Paling Banyak Dipakai sebagai Kedok
iPhone 18 Pro vs iPhone 18 Pro Max: Baterai Jumbo 5.567 mAh hingga Kamera Variable Aperture, Mana yang Lebih Layak Dibeli?
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 08:35 WIB

BNI wondrX 2026 Hadirkan Zona Travel, Tiket Pesawat Murah hingga Visa dalam Satu Tempat

Jumat, 21 Agustus 2026 - 18:01 WIB

AI Mulai Kuasai Industri Asuransi 2026, Underwriting Tak Lagi Jadi Satu-satunya Andalan

Kamis, 20 Agustus 2026 - 18:01 WIB

Akun Instagram Kena Limit? Ini Cara Memulihkan Pembatasan Aktivitas agar Normal Kembali

Kamis, 20 Agustus 2026 - 15:01 WIB

Pembatasan Iklan YouTube 2026: Aturan Baru, Dampak bagi Kreator, dan Cara Menjaga RPM Adsense Tetap Optimal

Rabu, 19 Agustus 2026 - 12:01 WIB

ChatGPT untuk Remaja Resmi Hadir: Fitur Baru untuk Usia 13–17 Tahun, Orang Tua Bisa Atur Jam Penggunaan

Berita Terbaru