JAKARTA,JS- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia agar meningkatkan kewaspadaan terhadap pertumbuhan awan cumulonimbus pada Selasa, 22 September 2026.
Awan cumulonimbus dapat berkembang dengan cepat dan memicu perubahan cuaca dalam waktu singkat. Ketika pertumbuhannya semakin kuat, awan tersebut dapat membawa hujan berintensitas sedang hingga lebat. Selain itu, petir dan angin kencang juga dapat menyertai kondisi tersebut.
Peringatan ini menjadi penting karena sebagian besar wilayah Indonesia masih menghadapi kondisi cuaca yang cenderung kering. Perbedaan kondisi atmosfer tersebut tetap memungkinkan pertumbuhan awan hujan secara lokal di sejumlah daerah.
Karena itu, masyarakat tidak cukup hanya melihat kondisi langit di sekitar tempat tinggal. Cuaca dapat berubah dalam waktu singkat, terutama ketika awan konvektif tumbuh di suatu wilayah.
BMKG Pantau Potensi Cumulonimbus di 17 Wilayah
Dalam tayangan prakiraan cuaca BMKG, Lintang menjelaskan bahwa potensi pertumbuhan awan cumulonimbus masih muncul di sejumlah kawasan Indonesia.
Wilayah tersebut mencakup kawasan Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, hingga beberapa wilayah perairan.
“Potensi awan kumulonimbus dapat menghasilkan hujan sedang hingga lebat serta dapat disertai petir dan angin kencang,” ujar Lintang dalam tayangan prakiraan cuaca BMKG.
Mengacu pada informasi tersebut, masyarakat perlu memperhatikan perubahan cuaca, terutama ketika awan gelap mulai berkembang dengan cepat di sekitar wilayahnya.
Berikut wilayah yang masuk dalam perhatian BMKG:
- Aceh
- Riau
- Bengkulu
- Sumatera Selatan
- Lampung
- Kepulauan Mentawai
- Selat Malaka bagian utara
- Kepulauan Natuna
- Kalimantan Barat
- Kalimantan Tengah
- Kalimantan Utara
- Sulawesi Tengah
- Sulawesi bagian barat
- Papua
- Papua Pegunungan
- Papua Tengah
- Samudra Pasifik utara Papua
Masyarakat di wilayah tersebut perlu memantau perkembangan cuaca secara berkala. Terlebih lagi, hujan lebat dapat muncul secara lokal meskipun daerah di sekitarnya masih mengalami cuaca cerah atau hanya berawan.
Apa Itu Awan Cumulonimbus?
Awan cumulonimbus merupakan salah satu jenis awan konvektif yang dapat tumbuh sangat tinggi di atmosfer.
Pertumbuhan awan ini biasanya berkaitan dengan kondisi atmosfer yang mendukung proses konveksi. Ketika udara hangat dan lembap bergerak naik secara kuat, awan dapat berkembang secara vertikal.
Dalam kondisi tertentu, pertumbuhan cumulonimbus dapat menghasilkan hujan deras, petir, dan hembusan angin yang kuat.
Karakter tersebut membuat masyarakat perlu memperhatikan perkembangan awan cumulonimbus, terutama ketika melakukan perjalanan atau menjalankan aktivitas di luar ruangan.
Selain itu, awan cumulonimbus juga menjadi perhatian penting dalam sektor penerbangan karena keberadaan awan konvektif dapat memengaruhi kondisi di sekitar jalur penerbangan.
Penerbangan Perlu Mengikuti Informasi Terbaru
Potensi cumulonimbus juga mendapat perhatian khusus dari sisi transportasi udara.
BMKG mengimbau penumpang pesawat agar mengikuti informasi terbaru dari bandara dan maskapai. Imbauan tersebut terutama berlaku ketika pesawat melakukan lepas landas, pendaratan, atau melintas di sekitar wilayah yang mengalami pertumbuhan awan konvektif.
Penumpang tidak perlu mengambil keputusan berdasarkan kondisi cuaca yang terlihat dari sekitar bandara saja. Sebaliknya, informasi dari otoritas penerbangan, bandara, dan maskapai menjadi acuan utama selama perjalanan.
Kondisi atmosfer di suatu wilayah dapat berubah dengan cepat. Karena itu, jadwal penerbangan juga dapat menyesuaikan kondisi operasional dan keselamatan penerbangan.
Bagi masyarakat yang hendak bepergian menggunakan pesawat pada 22 September 2026, memeriksa informasi dari maskapai sebelum berangkat menjadi langkah penting.
Perjalanan Darat Juga Perlu Perhatian
Tidak hanya penerbangan, masyarakat yang melakukan perjalanan darat juga perlu memperhatikan perubahan cuaca.
Hujan lebat yang muncul secara lokal dapat mengurangi jarak pandang pengendara. Selain itu, air hujan juga dapat membuat permukaan jalan menjadi licin.
Pengendara sepeda motor maupun mobil sebaiknya mengurangi kecepatan ketika hujan deras mulai turun. Pengendara juga perlu menjaga jarak aman dengan kendaraan lain.
Selanjutnya, masyarakat perlu menghindari berteduh di bawah pohon besar ketika petir dan angin kencang muncul. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko akibat dahan patah atau pohon tumbang.
Dengan demikian, masyarakat perlu mengutamakan keselamatan ketika cuaca berubah secara tiba-tiba.
Sebagian Besar Indonesia Masih Mengalami Kondisi Kering
Di luar wilayah yang berpotensi mengalami pertumbuhan cumulonimbus, BMKG memperkirakan sebagian wilayah Indonesia mengalami cuaca berawan hingga hujan ringan.
Kondisi kering masih menjadi karakter utama cuaca di sejumlah wilayah. Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua masih menghadapi pengaruh musim kemarau.
Namun, kondisi kering tersebut tidak berarti seluruh wilayah akan terbebas dari hujan.
Pertumbuhan awan konvektif dapat terjadi secara lokal. Karena itu, satu daerah dapat mengalami hujan cukup deras, sementara wilayah lain di sekitarnya tetap mengalami cuaca panas atau cerah.
Situasi tersebut membuat masyarakat perlu membedakan antara gambaran cuaca secara umum dengan kondisi cuaca lokal.
Ancaman Kekeringan dan Karhutla Tetap Perlu Diwaspadai
Selain potensi hujan lebat, BMKG juga mengingatkan masyarakat agar tetap memperhatikan dampak musim kemarau.
Cuaca kering dalam periode panjang dapat meningkatkan risiko kekurangan air di sejumlah daerah. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan apabila masyarakat melakukan aktivitas yang memicu munculnya api.
Karena itu, masyarakat perlu menghindari pembakaran lahan secara sembarangan.
Pengelola perkebunan dan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan rawan kebakaran juga perlu meningkatkan pengawasan ketika cuaca panas dan kering berlangsung dalam waktu lama.
Dengan kewaspadaan lebih awal, masyarakat dapat mengurangi risiko kebakaran yang kemudian berdampak terhadap kualitas udara dan aktivitas sehari-hari.
Gelombang hingga 4 Meter Mengintai Sejumlah Perairan
Perhatian BMKG tidak hanya tertuju pada kondisi daratan. Aktivitas masyarakat di laut juga perlu mempertimbangkan kondisi gelombang.
BMKG memperkirakan gelombang dengan ketinggian sekitar 1,25 hingga 2,5 meter dapat muncul di sejumlah perairan.
Wilayah tersebut antara lain Selat Malaka bagian utara, Laut Jawa, Selat Makassar, Laut Sumbawa, Laut Banda, Laut Arafuru, serta Samudra Pasifik bagian utara Maluku hingga Papua.
Kondisi tersebut perlu mendapat perhatian nelayan, operator kapal, serta masyarakat yang menjalankan aktivitas di wilayah perairan.
Selain gelombang 1,25 hingga 2,5 meter, BMKG juga mengantisipasi gelombang yang lebih tinggi.
Gelombang dengan ketinggian sekitar 2,5 hingga 4 meter berpotensi terjadi di Samudra Hindia sebelah barat Aceh hingga Lampung. Potensi gelombang tinggi juga mencakup perairan selatan Banten hingga Nusa Tenggara Timur.
Masyarakat pesisir dan pelaku aktivitas laut perlu menyesuaikan kegiatan dengan perkembangan kondisi perairan.(*)










