Aset Bank Mandiri Tembus Rp2.359 Triliun, Kredit Rp1.592 Triliun hingga Agustus 2026

- Jurnalis

Selasa, 20 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

BISNIS,JS- Bank Mandiri mencatat pertumbuhan bisnis yang kuat hingga akhir Agustus 2026. Bank pelat merah ini membukukan total aset sebesar Rp2.359 triliun secara bank only, tumbuh 20,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Di tengah ekspansi tersebut, Bank Mandiri tetap menjaga kualitas kredit, memperkuat pendanaan, dan mengelola likuiditas secara hati-hati.

Kinerja tersebut menunjukkan upaya Bank Mandiri dalam menyeimbangkan ekspansi bisnis dengan ketahanan neraca. Selain meningkatkan penyaluran kredit, perseroan juga memperluas basis dana nasabah dan mengoptimalkan layanan digital untuk mendukung kebutuhan transaksi masyarakat serta pelaku usaha.

Hingga Agustus 2026, Bank Mandiri menyalurkan kredit sebesar Rp1.592 triliun, tumbuh 17,6 persen secara tahunan atau year on year (YoY). Angka tersebut mencerminkan peran pembiayaan dalam mendukung aktivitas ekonomi, baik pada segmen korporasi maupun ritel.

Aset Bank Mandiri Tumbuh 20,7 Persen, Kredit Capai Rp1.592 Triliun

Pertumbuhan aset menjadi salah satu indikator penting dalam melihat perkembangan bisnis perbankan. Namun, ekspansi aset juga perlu berjalan seiring dengan pengelolaan risiko dan kemampuan bank memenuhi kewajiban kepada nasabah.

Bank Mandiri menempuh pendekatan tersebut melalui penyaluran kredit secara selektif. Perseroan menyasar kebutuhan pembiayaan pada segmen wholesale atau korporasi serta segmen ritel dengan tetap mempertimbangkan kualitas debitur dan profil risiko.

Melalui strategi ini, Bank Mandiri berupaya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan penyaluran kredit dan kesehatan portofolio pembiayaan. Langkah tersebut juga penting untuk mendukung keberlanjutan bisnis ketika kondisi ekonomi dan pasar keuangan mengalami perubahan.

Di sisi lain, pertumbuhan kredit dapat memperluas akses pembiayaan bagi dunia usaha. Perusahaan membutuhkan dukungan modal untuk mengembangkan kegiatan operasional, memperluas kapasitas bisnis, dan memenuhi kebutuhan transaksi. Sementara itu, nasabah ritel membutuhkan layanan kredit yang sesuai dengan kondisi keuangan mereka.

Meski demikian, pertumbuhan kredit tidak selalu menjadi satu-satunya ukuran kinerja bank. Kemampuan mengelola risiko, menjaga kecukupan modal, dan mempertahankan likuiditas juga menentukan kekuatan fundamental perusahaan.

Dana Nasabah Bank Mandiri Capai Rp1.687 Triliun

Selain memperkuat penyaluran kredit, Bank Mandiri mencatat perkembangan positif pada sisi pendanaan. Hingga akhir Agustus 2026, Dana Pihak Ketiga (DPK) secara bank only mencapai Rp1.687 triliun, tumbuh 17,6 persen secara tahunan.

Pertumbuhan tersebut melampaui pertumbuhan DPK industri perbankan yang mencapai 13,7 persen YoY. Selisih ini menunjukkan bahwa penghimpunan dana Bank Mandiri tumbuh lebih cepat daripada angka industri yang menjadi pembanding.

DPK mencakup dana yang nasabah tempatkan di bank melalui berbagai produk simpanan, seperti tabungan, giro, dan deposito. Bagi bank, dana tersebut menjadi salah satu sumber utama untuk mendukung kegiatan intermediasi, termasuk penyaluran kredit kepada masyarakat dan dunia usaha.

Karena itu, kemampuan menghimpun dana secara berkelanjutan menjadi bagian penting dari strategi bisnis Bank Mandiri. Bank perlu menjaga kepercayaan nasabah sekaligus mengelola komposisi pendanaan agar dapat memenuhi kebutuhan transaksi dan pembiayaan.

Pertumbuhan DPK juga perlu dilihat bersama perkembangan kredit. Hingga Agustus 2026, kredit Bank Mandiri mencapai Rp1.592 triliun, sedangkan DPK berada di level Rp1.687 triliun.

Kedua angka tersebut menggambarkan skala kegiatan intermediasi perseroan. Namun, perbandingan sederhana antara kredit dan DPK belum cukup untuk menilai seluruh kondisi likuiditas bank. Analisis yang lebih menyeluruh juga memerlukan indikator lain, termasuk rasio likuiditas, komposisi aset, serta profil jatuh tempo pendanaan.

Baca Juga :  Asing Jual Saham BBCA Rp34 Triliun, Bagaimana Prospek Saham Bank BCA, BRI dan Mandiri?

Livin’ by Mandiri Tembus 42,2 Juta Pengguna

Bank Mandiri juga mengandalkan pengembangan layanan digital untuk memperluas hubungan dengan nasabah. Salah satu platform utamanya, Livin’ by Mandiri, mencatat sekitar 42,2 juta pengguna hingga periode pelaporan, tumbuh 23,4 persen YoY.

Platform tersebut mencatat frekuensi transaksi sebanyak 3,32 miliar. Angka ini memperlihatkan besarnya aktivitas nasabah dalam memanfaatkan layanan digital untuk memenuhi berbagai kebutuhan perbankan.

Melalui Livin’, nasabah dapat mengakses layanan perbankan tanpa harus selalu datang ke kantor cabang. Kemudahan akses tersebut mendukung transaksi sehari-hari sekaligus membuka peluang bagi Bank Mandiri untuk memperluas penggunaan produk dan layanan keuangan.

Selain jumlah pengguna, frekuensi transaksi menjadi indikator penting dalam melihat aktivitas pada platform digital. Namun, jumlah pengguna dan transaksi tidak secara otomatis menunjukkan jumlah nasabah aktif, nilai transaksi, atau besarnya pendapatan yang dihasilkan dari layanan tersebut.

Oleh sebab itu, Bank Mandiri perlu menjaga keandalan sistem, keamanan transaksi, dan kemudahan penggunaan agar layanan digital tetap relevan dengan kebutuhan nasabah.

Kopra by Mandiri Dukung Transaksi Pelaku Usaha

Di segmen bisnis, Bank Mandiri terus mengembangkan Kopra by Mandiri sebagai platform digital untuk mendukung aktivitas perbankan perusahaan dan pelaku usaha.

Hingga Agustus 2026, Kopra by Mandiri mencatat 385,3 ribu pengguna terdaftar, meningkat 31,9 persen YoY. Platform ini juga membukukan frekuensi transaksi sebanyak 1,05 miliar.

Pertumbuhan tersebut memperlihatkan perluasan pemanfaatan layanan digital dalam kegiatan bisnis. Pelaku usaha membutuhkan sistem perbankan yang dapat membantu mereka mengelola transaksi dan mengakses layanan keuangan secara lebih praktis.

Dengan dukungan layanan digital, Bank Mandiri berupaya menjangkau kebutuhan nasabah dari berbagai skala usaha. Sementara itu, integrasi layanan pada ekosistem digital dapat memperkuat hubungan antara bank dan nasabah melalui penggunaan produk yang sesuai dengan kebutuhan operasional mereka.

Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, menjelaskan bahwa Livin’ dan Kopra terus berkembang sebagai pintu utama bagi nasabah untuk mengakses produk serta layanan perbankan.

Menurutnya, Bank Mandiri ingin membangun interaksi yang lebih luas dengan nasabah. Dengan demikian, hubungan tersebut tidak hanya berfokus pada transaksi, tetapi juga berkembang mengikuti kebutuhan finansial dan aktivitas usaha masing-masing nasabah.

Baca Juga :  Pinjaman Bank Mandiri Rp100 Juta untuk Modal Usaha, Ini Simulasi Cicilan KUR dan Non-KUR

Bank Mandiri Perkuat Likuiditas dan Antisipasi Risiko

Di tengah pertumbuhan aset, kredit, dan pendanaan, Bank Mandiri tetap menempatkan pengelolaan likuiditas sebagai salah satu prioritas utama.

Likuiditas memegang peranan penting karena bank harus mampu memenuhi kebutuhan penarikan dana, pembayaran, dan transaksi nasabah setiap saat. Oleh karena itu, pertumbuhan bisnis perlu berjalan bersama kesiapan menghadapi perubahan kondisi pasar.

Novita menegaskan bahwa kekuatan neraca tidak hanya bergantung pada besarnya pertumbuhan bisnis. Bank juga perlu memastikan ketersediaan likuiditas dalam berbagai skenario ekonomi dan keuangan.

“Bagi kami, pertumbuhan harus berjalan seiring dengan ketahanan. Karena itu, kami memantau arus dana setiap hari, melakukan stress test secara berkala, dan menyiapkan buffer likuiditas yang memadai. Disiplin ini penting agar Bank Mandiri senantiasa siap melayani kebutuhan nasabah dan mendukung aktivitas dunia usaha,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (20/10/2026).

Pemantauan arus dana membantu bank memahami perubahan pola transaksi dan kebutuhan likuiditas. Sementara itu, stress test memungkinkan bank menguji ketahanan keuangan melalui berbagai skenario tekanan.

Bank juga membutuhkan penyangga likuiditas atau liquidity buffer untuk mengantisipasi kebutuhan dana ketika kondisi pasar berubah. Pendekatan tersebut membantu menjaga kesiapan operasional sekaligus mendukung kepercayaan nasabah.

Meski begitu, ketahanan likuiditas tetap perlu dinilai berdasarkan indikator keuangan yang lengkap. Pertumbuhan DPK saja belum cukup untuk memastikan kondisi likuiditas bank secara menyeluruh.

Laba Bersih Bank Mandiri Capai Rp37,5 Triliun

Kinerja bisnis Bank Mandiri turut tercermin dari pencapaian laba bersih. Hingga akhir Agustus 2026, perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp37,5 triliun secara bank only, tumbuh 22,3 persen YoY.

Pertumbuhan laba tersebut berjalan seiring dengan kenaikan aset, kredit, dan penghimpunan dana. Namun, untuk memahami sumber pertumbuhan laba secara lebih mendalam, pembaca juga perlu melihat perkembangan pendapatan bunga bersih, pendapatan berbasis komisi, biaya operasional, serta biaya pencadangan kredit.

Kinerja laba menjadi salah satu indikator yang dapat membantu investor dan masyarakat memahami perkembangan bisnis bank. Meski demikian, laba dalam satu periode tidak menjamin kinerja yang sama pada periode berikutnya karena hasil usaha dapat dipengaruhi perubahan ekonomi, biaya pendanaan, kualitas kredit, dan kondisi pasar.

Bagi Bank Mandiri, menjaga profitabilitas tetap penting agar perseroan memiliki ruang untuk mendukung pengembangan layanan, memperkuat operasional, dan memenuhi kebutuhan nasabah.

Strategi Bank Mandiri ke Depan: Pertumbuhan Sehat dan Layanan Digital

Ke depan, Bank Mandiri berkomitmen menjaga kesehatan neraca, kecukupan likuiditas, dan prinsip kehati-hatian dalam menjalankan kegiatan bisnis.

Perseroan juga akan terus memperluas ekosistem layanan melalui Livin’ by Mandiri, Kopra by Mandiri, serta jaringan layanan perbankan lainnya. Strategi ini bertujuan memberikan akses layanan yang lebih mudah dan relevan bagi masyarakat maupun pelaku usaha.

Novita menyampaikan bahwa Bank Mandiri ingin menjaga pertumbuhan yang sehat sekaligus memperkuat ekosistem keuangan yang mampu memenuhi kebutuhan nasabah.

“Fokus kami ke depan adalah menjaga pertumbuhan yang sehat dengan terus memperluas ekosistem Bank Mandiri. Kami ingin memastikan nasabah dapat memperoleh layanan yang andal, mudah diakses, dan sesuai dengan kebutuhannya melalui Livin’, Kopra, serta seluruh jaringan layanan Bank Mandiri,” tutup Novita.

Dengan pertumbuhan aset 20,7 persen, kredit Rp1.592 triliun, DPK Rp1.687 triliun, dan laba bersih Rp37,5 triliun hingga Agustus 2026, Bank Mandiri menunjukkan perkembangan bisnis yang positif. Selanjutnya, konsistensi dalam menjaga kualitas kredit, memperkuat pendanaan, dan mengelola likuiditas akan menjadi faktor penting untuk menopang pertumbuhan pada periode berikutnya.(*)

Berita Terkait

Harga Bitcoin dan Ethereum Kompak Turun, Kapitalisasi Pasar Kripto Susut ke US$2,73 Triliun
Alfin Perjuangkan Pasar Tanjung Bajure, Kemendag Beri Respons Positif
Sidak Kantor Camat Tabir Lintas, Bupati Merangin Kecewa: Pegawai Sepi
Reinkarnasi Supra X, Honda Biz 110 2026 Kini Sudah Hadir di Dealer
Waspada Jeratan Utang! Ini 4 Kesalahan Finansial yang Memicu Gagal Bayar Pinjaman
Wako Alfin Hadiri Pengukuhan DPC PKB Sungai Penuh 2026–2031
Catatan Kredit Buruk karena Pinjol, Bisakah Kembali Pulih?
Riwayat Pinjol Bisa Pengaruhi Kredit Bank, Ini Faktanya
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 23:01 WIB

Aset Bank Mandiri Tembus Rp2.359 Triliun, Kredit Rp1.592 Triliun hingga Agustus 2026

Selasa, 20 Oktober 2026 - 20:01 WIB

Harga Bitcoin dan Ethereum Kompak Turun, Kapitalisasi Pasar Kripto Susut ke US$2,73 Triliun

Selasa, 20 Oktober 2026 - 17:13 WIB

Alfin Perjuangkan Pasar Tanjung Bajure, Kemendag Beri Respons Positif

Selasa, 20 Oktober 2026 - 13:15 WIB

Sidak Kantor Camat Tabir Lintas, Bupati Merangin Kecewa: Pegawai Sepi

Senin, 19 Oktober 2026 - 21:01 WIB

Reinkarnasi Supra X, Honda Biz 110 2026 Kini Sudah Hadir di Dealer

Berita Terbaru