JAMBI,JS– Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jambi menilai banjir yang melanda Kota Jambi bukan hanya akibat curah hujan tinggi, tetapi juga dampak dari pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan.
Direktur WALHI Jambi, Oscar Anugrah, menyebut peristiwa ini sebagai bencana ekologis yang muncul karena kebijakan pembangunan yang tidak mempertimbangkan kajian lingkungan. Menurutnya, “Banjir ini bukan sekadar bencana alam, tetapi akibat langsung dari pembangunan yang tidak berpihak pada kelestarian lingkungan.”
Oscar menegaskan WALHI tidak menolak pembangunan, tetapi menekankan pentingnya pembangunan berkelanjutan yang mengutamakan keselamatan dan kesejahteraan masyarakat. Ia juga mendorong pemerintah meninjau kembali izin-izin pembangunan yang mengabaikan aspek lingkungan.
Selain faktor tata ruang, risiko ekologis muncul akibat sistem drainase yang kurang memadai dan pembangunan yang tidak memperhatikan keselamatan warga. Oscar menambahkan, hujan singkat pun mampu melumpuhkan aktivitas sosial dan ekonomi, menunjukkan kegagalan menyediakan ruang hidup yang aman.
Ia menekankan bahwa masyarakat seharusnya tidak selalu menjadi pihak yang paling dirugikan. Pemerintah harus menjamin pemulihan, menata wilayah dengan aman, dan mengambil langkah pencegahan jangka panjang, bukan hanya menangani kondisi darurat.
“Setiap banjir tidak hanya merendam rumah dan harta benda, tetapi juga menggerus rasa aman, kesehatan keluarga, dan kemampuan warga untuk bangkit. Tanpa komitmen ekologis yang kuat, banjir hari ini bisa menjadi awal bencana berikutnya,” pungkasnya.(AN)









