INTERNASIONAL,JS– Nilai mata uang Iran terus merosot tajam, menembus 1.457.000 rial per dolar AS. Jika dibandingkan dengan Revolusi Iran 1979, ketika 1 dolar AS setara 70 rial, rial telah kehilangan sekitar 20 ribu kali nilainya dalam empat dekade terakhir.
Sanksi dan Isolasi Menghantam Ekonomi
Depresiasi rial semakin dalam akibat kombinasi sanksi internasional, inflasi tinggi, dan isolasi diplomatik. Pada September 2025, PBB kembali memberlakukan sanksi terhadap Iran, termasuk embargo senjata, pembekuan aset, dan larangan perjalanan, setelah Dewan Keamanan gagal memperpanjang keringanan sanksi terkait program nuklir.
Uni Eropa juga menambahkan tekanan, dengan sanksi terkait hak asasi manusia dan peran Iran dalam pasokan drone ke Rusia. Akibatnya, Iran harus menjual minyak melalui jalur tidak langsung yang mahal. Proyek jurnalisme data Iran Open Data memperkirakan negara kehilangan sekitar 20 persen potensi pendapatan ekspor minyak.
Depresiasi Tajam Sepanjang Tahun 2025
Rial kehilangan sekitar 45 persen nilainya hanya sepanjang 2025. Inflasi tetap tinggi, mencapai 42,2 persen pada Desember 2025, mendorong harga makanan, perumahan, dan barang impor naik drastis. Perusahaan dan rumah tangga beralih menyimpan tabungan dalam dolar, emas, atau properti untuk melindungi nilai. Strategi ini justru memperlemah rial lebih jauh.
Dampak Inflasi dan Kenaikan Harga Impor
Perbedaan inflasi dengan mitra dagang membuat rial melemah terus-menerus. Harga barang domestik naik lebih cepat daripada harga di luar negeri, sehingga importir membutuhkan lebih banyak rial untuk membeli barang impor. Akibatnya, biaya produksi naik dan harga jual meningkat, memperburuk tekanan bagi rumah tangga.
Sektor yang bergantung pada impor, seperti gandum, minyak goreng, pakan ternak, dan bahan baku farmasi, paling merasakan dampaknya. Harga barang-barang ini melonjak, memaksa konsumen menanggung biaya lebih tinggi setiap hari.
Masa Depan Rial Tergantung Langkah Pemerintah
Para ekonom menekankan, nilai rial akan bergantung pada kemampuan Iran menstabilkan inflasi, mengamankan arus devisa, dan membangun kembali kepercayaan publik terhadap sistem keuangan. IMF memperkirakan inflasi tahunan Iran akan mencapai 42 persen pada 2025, naik dari 33 persen pada 2024, dengan kenaikan signifikan pada makanan, sewa, transportasi, dan layanan kesehatan.
Jika pemerintah gagal menahan inflasi, rial kemungkinan akan terus melemah. Tekanan ini akan semakin membebani rumah tangga dan bisnis, sekaligus menghambat pemulihan ekonomi jangka panjang.(AN)









