BISNIS,JS- Pergerakan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menunjukkan tren lesu jika dibandingkan dengan saham-saham perbankan milik negara atau Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Tekanan pada saham bank swasta terbesar nasional itu mulai terasa sejak 21 Januari 2026 dan belum sepenuhnya pulih hingga kini.
Di tengah dinamika pasar, investor mencermati perbedaan kinerja yang semakin jelas antara saham BBCA dan bank-bank BUMN. Kondisi ini pun memicu pertanyaan besar di kalangan pelaku pasar: apa yang sebenarnya terjadi?
Sentimen Global Jadi Pemicu Awal Tekanan
Pada awalnya, tekanan pada saham BBCA muncul setelah pengelola indeks global MSCI mengumumkan penangguhan rebalancing saham Indonesia secara mendadak. Kebijakan tersebut langsung memengaruhi pergerakan investor global, terutama pada saham-saham dengan kepemilikan asing besar seperti BBCA.
Akibatnya, harga saham BBCA sempat terkoreksi lebih dalam. Namun, situasi itu tidak berlangsung lama. Manajemen BBCA segera mengambil langkah strategis dengan mengumumkan aksi pembelian kembali saham (buyback). Langkah ini sukses menahan tekanan lanjutan dan mengembalikan kepercayaan pasar.
Saham Perbankan Tetap Tangguh Hadapi Tekanan
Meski berbagai sentimen negatif menekan pasar, sektor perbankan nasional justru menunjukkan daya tahan yang kuat. Selain dinamika MSCI, pelaku pasar juga merespons keputusan Moody’s Ratings yang menurunkan outlook peringkat lima bank besar nasional.
Namun demikian, tekanan tersebut tidak menggoyahkan seluruh saham bank. Sebaliknya, saham-saham bank BUMN justru mampu mencatatkan penguatan yang relatif konsisten dalam sebulan terakhir.
Bank Himbara Mencuri Perhatian Investor
Empat saham bank Himbara yang menjadi pembanding kinerja BBCA meliputi PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), serta PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN).
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (23/2), seluruh saham perbankan ditutup menguat. BBCA naik 1,04% ke Rp 7.300 per saham. Di saat yang sama, BBRI menguat 1,56% ke Rp 3.900, BMRI melonjak 2,93% ke Rp 5.275, BBNI naik 0,67% ke Rp 4.500, dan BBTN bertambah 1,10% ke Rp 1.380.
Performa Sebulan Terakhir: Kontras Terlihat Jelas
Jika ditarik ke periode satu bulan terakhir, perbedaan kinerja semakin mencolok. Saham BBTN mencatatkan penguatan tertinggi sebesar 12,20%. Selanjutnya, BMRI naik 5,92% dan BBRI menguat 2,36%.
Sebaliknya, saham BBCA justru terkoreksi paling dalam hingga 4,58%. Saham BBNI juga masih berada di zona merah dengan penurunan 1,96%.
Bahkan secara tahunan, saham BTN tampil sebagai pemimpin dengan lonjakan harga mencapai 47,59%. Pada periode yang sama, saham BBCA melemah signifikan sebesar 18,89%. Data ini menegaskan bahwa kinerja BBCA tertinggal dari bank-bank Himbara, terutama dalam jangka pendek.
Dana Asing Mengalir ke Bank Pelat Merah
Selain dari pergerakan harga, minat investor global juga memperlihatkan pergeseran. Dalam periode 1–20 Februari 2026, investor asing mencatatkan pembelian bersih saham BMRI senilai Rp 1,88 triliun atau sekitar 3,6 juta saham.
Selanjutnya, dana asing juga masuk ke saham BBTN sebesar Rp 246,6 miliar dan BBRI senilai Rp 44,8 miliar. Sebaliknya, investor asing melepas saham BBCA dengan nilai fantastis mencapai Rp 4,05 triliun. Saham BBNI juga mencatatkan aksi jual bersih asing sebesar Rp 309,1 miliar.
Valuasi Premium Tekan Ruang Gerak BBCA
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta Utama, menilai tekanan pada saham BBCA muncul seiring derasnya arus keluar dana asing. Menurut dia, porsi kepemilikan asing yang besar membuat saham BBCA lebih sensitif terhadap sentimen global.
Selain itu, pertumbuhan laba bersih BBCA yang masih berada di level single digit turut membatasi ruang kenaikan harga saham. Sepanjang tahun buku 2025, BBCA mencatatkan laba bersih Rp 57,5 triliun atau tumbuh 4,9% secara tahunan.
“Fundamental BCA tetap kuat dan solid. Namun, valuasinya masih premium, sehingga potensi kenaikan harga menjadi lebih terbatas,” ujar Nafan.
Bank BUMN Diuntungkan Banyak Katalis
Di sisi lain, saham bank Himbara mendapat dukungan dari sejumlah faktor positif. Bank-bank pelat merah menawarkan dividend payout ratio yang lebih menarik dengan valuasi yang relatif lebih murah dibandingkan BBCA.
Selain itu, keterlibatan aktif bank BUMN dalam pembiayaan program strategis pemerintah, termasuk hilirisasi, memberikan kepastian prospek bisnis jangka menengah. Setiap bank juga memiliki fokus segmen yang berbeda, sehingga memperkuat daya tarik di mata investor.
Kondisi ini membuat saham bank BUMN lebih diminati dalam jangka pendek, sementara BBCA cenderung bergerak lebih terbatas karena faktor valuasi.
Target Harga Saham Masih Menarik Dicermati
Seiring dengan dinamika tersebut, Head of Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, tetap memberikan target harga positif untuk saham-saham perbankan.
Ia membidik saham BBCA di kisaran Rp 7.450–7.750 per saham. Untuk saham BBRI, target harga berada di level Rp 3.940–4.010. Sementara itu, saham BBNI diproyeksikan bergerak di kisaran Rp 5.375–5.475 dan BBTN di level Rp 1.415–1.450 per saham.
Dengan beragam katalis dan perbedaan valuasi, sektor perbankan tetap menarik. Namun, investor perlu lebih selektif dalam menentukan pilihan saham ke depan.
Catatan ; Artikel ini hanya memuat tentang informasi semata, bukan untuk mengajak masyarakat dan mengikuti investasi, pasar saham, trending dan sebagainya. segala resiko seperti kegagalan di luar tanggung jawab jambisun.id. (*)









