INTERNASIONAL,JS- Enam maskapai internasional menghentikan penerbangan ke Venezuela setelah Amerika Serikat memperingatkan adanya “situasi berbahaya” di wilayah udara negara tersebut. Peringatan itu muncul setelah aktivitas militer meningkat di sekitar Venezuela.
Al Jazeera melaporkan bahwa Iberia, TAP, LATAM, Avianca, GOL, dan Caribbean Airlines langsung menahan operasional sejak Sabtu. Presiden Asosiasi Maskapai Venezuela, Marisela de Loaiza, menyebut enam maskapai itu merespons peringatan tersebut dengan cepat.
FAA juga meminta seluruh maskapai meningkatkan kewaspadaan. Badan itu menilai wilayah udara Venezuela memiliki risiko “di semua ketinggian”.
Ketegangan di Karibia Meningkat
Militer AS memperbesar kehadiran di Karibia dengan mengerahkan kapal induk dan kapal perang dalam operasi anti narkotika. Pemerintah Venezuela memandang langkah itu sebagai upaya Washington untuk menggulingkan Presiden Nicolas Maduro.
TAP membatalkan penerbangan pada Sabtu dan Selasa mendatang. Iberia juga menghentikan rute ke Caracas tanpa batas waktu. Namun, penerbangan yang sudah terjadwal tetap berangkat. Sebaliknya, Copa Airlines, Wingo, Air Europa, PlusUltra, Turkish Airlines, dan LASER masih melayani penerbangan.
Otoritas penerbangan sipil Kolombia memperingatkan adanya risiko di sekitar Bandara Maiquetia akibat memburuknya keamanan dan aktivitas militer.
FAA menyebut gangguan penerbangan kemungkinan meningkat karena pergerakan militer di wilayah tersebut terus bertambah.
Tekanan Washington dan Respons Caracas
Militer AS mengklaim telah menghancurkan 21 kapal yang mereka duga membawa narkoba. Operasi itu menewaskan 83 orang. Selain itu, Washington menaikkan hadiah penangkapan Nicolas Maduro menjadi 50 juta dolar AS dan menuduhnya memimpin “Kartel de los Soles”.
Presiden AS Donald Trump memberikan sinyal yang berbeda-beda. Ia mengatakan tidak melihat potensi perang dengan Venezuela, tetapi juga menyebut masa jabatan Maduro “sudah terhitung”.
Pejabat AS yang dikutip Reuters menyebut Washington tengah menyiapkan fase baru operasi di Venezuela. Mereka membahas opsi tindakan rahasia untuk meningkatkan tekanan terhadap Maduro, termasuk kemungkinan penggulingan.
Tokoh oposisi Venezuela, Maria Corina Machado, menilai penggulingan Maduro bukan pergantian rezim. Ia beralasan bahwa Maduro “kalah dalam pemilu dan memanipulasi hasilnya”.
Maduro menolak semua tuduhan dari AS. Ia menegaskan bahwa Venezuela tidak akan tunduk pada tekanan asing dan memperingatkan bahwa setiap upaya yang mengganggu stabilitas negara akan mendapat “kejutan besar”.(AN)









