LIFESTYLE,JS- Meski penghasilan tinggi, banyak keluarga kelas menengah tetap hidup dari gaji ke gaji. Tingginya pendapatan tidak otomatis membangun kekayaan jika mereka salah mengelola uang. Kebiasaan yang terlihat wajar—mengandalkan cicilan, menggunakan kartu kredit untuk gaya hidup, atau mengira gaji sama dengan kekayaan—justru menghambat tabungan dan investasi.
Berikut 10 kebiasaan finansial yang sering menggerus potensi kekayaan, dilansir dari New Trader U, Kamis (27/11/2025).
1. Menyamakan Gaji dengan Kekayaan
Banyak orang salah kaprah menganggap gaji tinggi sama dengan kaya. Gaji hanya menunjukkan uang yang masuk setiap bulan, sedangkan kekayaan berasal dari uang yang berhasil mereka simpan. Ketika gaji naik, sebagian orang langsung meningkatkan gaya hidup—mereka memindahkan rumah ke lokasi lebih mahal, membeli mobil baru, atau menambah layanan berlangganan. Uang tambahan itu pun tidak menambah aset sama sekali.
2. Membeli Barang dengan Cicilan
Orang sering membeli barang mahal dengan cicilan untuk meringankan beban. Mereka mencicil mobil enam tahun, ponsel dua tahun, furnitur empat tahun, bahkan liburan dengan kartu kredit. Sayangnya, bunga cicilan menaikkan harga akhir barang dan mengurangi ruang untuk menabung maupun berinvestasi.
3. Fokus pada Besaran Cicilan, Bukan Harga Sebenarnya
Banyak orang menilai kemampuan beli dari cicilan bulanan, bukan harga total barang. Contohnya, mobil 40.000 dollar AS terasa “murah” karena cicilan 650 dollar per bulan. Pola pikir ini menutupi biaya sebenarnya dan membuat pendapatan masa depan mereka terikat pada pengeluaran masa lalu.
4. Tidak Menyiapkan Dana Darurat
Tanpa tabungan darurat, orang membayar pengeluaran tak terduga, seperti perbaikan kendaraan atau biaya kesehatan, dengan kartu kredit. Utang menumpuk dengan cepat dan sulit dihapus. Mereka harus menyiapkan dana darurat sebagai prioritas utama untuk menjaga stabilitas finansial.
5. Menggunakan Kartu Kredit untuk Gaya Hidup
Banyak orang menggunakan kartu kredit untuk membiayai gaya hidup di luar kemampuan mereka, mulai dari makan di luar, liburan singkat, hingga belanja pakaian. Seiring waktu, gaya hidup meningkat lebih cepat daripada kemampuan finansial, sehingga utang mereka sulit dikendalikan.
6. Menyimpan Uang Tanpa Investasi
Banyak keluarga membiarkan uang menumpuk di rekening tabungan dengan bunga rendah. Inflasi terus menggerus nilai uang. Sebaliknya, orang kaya secara rutin menempatkan sebagian pendapatan ke akun pensiun, reksa dana, atau instrumen investasi lain sebelum menggunakan sisanya untuk belanja.
7. Belanja Demi Tampilan dan Status
Orang membeli mobil baru, pakaian desainer, gadget terbaru, atau merenovasi rumah untuk terlihat lebih baik. Begitu keluar dari dealer, nilai barang langsung turun. Renovasi rumah hanya mengembalikan sebagian biaya saat dijual. Belanja demi status ini tidak menambah kekayaan dan justru menimbulkan biaya tambahan.
8. Mengabaikan Pajak dan Persiapan Pensiun
Kurangnya pengetahuan soal pajak, imbal hasil investasi, dan program pensiun membuat banyak orang kehilangan potensi keuntungan besar. Misalnya, orang yang tidak memanfaatkan program pensiun perusahaan melewatkan “uang gratis” yang bisa bertambah signifikan dalam jangka panjang.
9. Pengeluaran Kecil yang Berkembang Diam-diam
Orang sering menambah pengeluaran kecil tanpa disadari, seperti layanan pesan antar, langganan streaming, aplikasi premium, dan jasa kebersihan rumah. Tiga kali pesan antar per minggu menghabiskan 2.340 dollar AS per tahun, sedangkan lima layanan streaming bernilai 900 dollar AS per tahun. Pengeluaran kecil itu mengurangi porsi mereka untuk menabung atau berinvestasi.
10. Tidak Memantau Arus Kas Secara Rutin
Banyak keluarga tidak mencatat kemana uang mereka pergi. Pengeluaran kecil seperti makan di luar, belanja online, dan langganan yang terlupakan membuat saldo mereka menipis. Orang kaya selalu mencatat arus kas secara rinci sehingga setiap pengeluaran tetap sesuai prioritas.(*)









