BISNIS,JS- Harga emas global kembali mengalami tekanan signifikan menjelang akhir pekan sekaligus mendekati perayaan Lebaran 2026. Tren penurunan ini menjadi sorotan karena berlangsung cukup panjang dan memicu kekhawatiran di kalangan investor.
Berdasarkan laporan dari Bloomberg, harga emas di pasar spot tercatat turun sekitar 3,1% ke level US$4.508,96 per ons pada perdagangan Jumat (20/3/2026). Penurunan ini memperpanjang tren negatif menjadi delapan sesi berturut-turut, menandakan tekanan jual yang cukup kuat di pasar global.
Padahal sebelumnya, harga emas sempat mencetak rekor mendekati US$5.600 per ons pada akhir Januari 2026. Namun, sejak saat itu, arah pergerakan berbalik tajam.
Harga Emas Antam Ikut Terkoreksi
Tidak hanya di pasar global, penurunan juga terjadi pada harga emas dalam negeri. Data dari PT Aneka Tambang Tbk menunjukkan bahwa harga buyback emas Antam ukuran 1 gram turun Rp55.000 menjadi Rp2.610.000.
Harga buyback ini merupakan acuan bagi investor yang ingin menjual kembali emasnya.
Meski mengalami penurunan, investor yang membeli emas di awal tahun 2026 masih memiliki peluang keuntungan. Pada awal tahun, harga emas Antam berada di kisaran Rp2.504.000 per gram. Sementara itu, investor yang masuk sejak awal 2025 bahkan mencatat keuntungan lebih besar, karena harga saat itu masih berada di kisaran Rp1,5 jutaan per gram.
Faktor Global yang Menekan Harga Emas
Penurunan harga emas saat ini dipengaruhi oleh berbagai faktor global yang saling berkaitan. Salah satu faktor utama adalah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury).
Ketika imbal hasil obligasi meningkat, investor cenderung beralih ke instrumen tersebut karena memberikan return yang lebih pasti dibandingkan emas yang tidak menghasilkan bunga.
Selain itu, penguatan dolar AS juga menjadi faktor penting. Emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi investor luar negeri, sehingga permintaan menurun dan harga tertekan.
Di sisi lain, kondisi geopolitik turut memperburuk situasi. Konflik di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran, mendorong kenaikan harga energi seperti minyak mentah dan gas alam. Lonjakan ini memicu kekhawatiran inflasi global.
Akibatnya, bank sentral seperti Federal Reserve memilih untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Ketua The Fed, Jerome Powell, menegaskan bahwa penurunan suku bunga hanya akan dilakukan jika inflasi benar-benar terkendali. Kebijakan ini secara tidak langsung menekan harga emas.
Aksi Jual Investor dan Arus Keluar ETF
Selain faktor makroekonomi, tekanan juga datang dari perilaku investor itu sendiri. Banyak investor melakukan aksi jual emas untuk menutup kerugian di aset lain yang terdampak volatilitas pasar.
Tak hanya itu, produk investasi berbasis emas seperti ETF (Exchange-Traded Fund) juga mencatat arus keluar dana. Hal ini menjadi sinyal bahwa minat terhadap emas sedang menurun dalam jangka pendek.
Menurut analis pasar, Robert Gottlieb, kondisi saat ini belum ideal untuk melakukan pembelian emas.
Ia menyarankan agar investor tidak terburu-buru masuk pasar karena volatilitas masih tinggi dan harga belum menunjukkan tanda stabil.
Belajar dari Sejarah: Pola yang Terulang
Pergerakan harga emas saat ini dinilai memiliki kemiripan dengan kondisi pada tahun 2022, saat terjadi konflik antara Rusia dan Ukraina.
Pada periode tersebut, harga emas sempat mengalami penurunan selama tujuh bulan berturut-turut hingga mencapai titik terendah pada Oktober.
Fenomena ini menunjukkan bahwa emas tidak selalu naik saat terjadi konflik global. Dalam kondisi tertentu, tekanan dari suku bunga tinggi dan penguatan dolar justru lebih dominan.
Bagi investor yang berencana menjual emas, penting untuk memahami aspek perpajakan. Berdasarkan aturan yang berlaku, transaksi buyback dengan nilai lebih dari Rp10 juta akan dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22.
Besaran pajak adalah 1,5% bagi pemilik NPWP dan 3% untuk non-NPWP. Pajak ini langsung dipotong dari nilai transaksi, sehingga memengaruhi hasil akhir yang diterima investor.
Strategi Investasi di Tengah Harga Turun
Di tengah kondisi harga yang melemah, investor tetap memiliki peluang untuk meraih keuntungan.
Beberapa strategi yang bisa dipertimbangkan antara lain:
- Menunggu harga stabil sebelum membeli dalam jumlah besar
- Membeli secara bertahap (averaging) untuk mengurangi risiko
- Fokus jangka panjang karena emas cenderung naik dalam periode panjang
- Memantau kebijakan suku bunga global sebagai indikator utama
Pendekatan ini penting agar investor tidak terjebak dalam penurunan harga yang masih berlanjut.
Kesimpulan: Waspada, Tapi Jangan Panik
Penurunan harga emas menjelang Lebaran 2026 menjadi fenomena yang cukup menarik. Meski terlihat mengkhawatirkan, kondisi ini sebenarnya merupakan bagian dari siklus pasar yang normal.
Dengan analisis yang tepat dan strategi yang matang, peluang cuan tetap terbuka meskipun harga sedang turun.
Ke depan, arah harga emas akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi global, kebijakan suku bunga, serta kondisi geopolitik dunia.(*)









