Gawat! Harga Emas Terus Turun, Harus Jual atau Tahan?

- Jurnalis

Sabtu, 21 Maret 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

BISNIS,JS- Harga emas global kembali mengalami tekanan signifikan menjelang akhir pekan sekaligus mendekati perayaan Lebaran 2026. Tren penurunan ini menjadi sorotan karena berlangsung cukup panjang dan memicu kekhawatiran di kalangan investor.

Berdasarkan laporan dari Bloomberg, harga emas di pasar spot tercatat turun sekitar 3,1% ke level US$4.508,96 per ons pada perdagangan Jumat (20/3/2026). Penurunan ini memperpanjang tren negatif menjadi delapan sesi berturut-turut, menandakan tekanan jual yang cukup kuat di pasar global.

Padahal sebelumnya, harga emas sempat mencetak rekor mendekati US$5.600 per ons pada akhir Januari 2026. Namun, sejak saat itu, arah pergerakan berbalik tajam.

Baca Juga :  Harga Emas Perhiasan Terbaru, Ini Daftar Lengkap dari 24K sampai 9K

Harga Emas Antam Ikut Terkoreksi

Tidak hanya di pasar global, penurunan juga terjadi pada harga emas dalam negeri. Data dari PT Aneka Tambang Tbk menunjukkan bahwa harga buyback emas Antam ukuran 1 gram turun Rp55.000 menjadi Rp2.610.000.

Harga buyback ini merupakan acuan bagi investor yang ingin menjual kembali emasnya.

Meski mengalami penurunan, investor yang membeli emas di awal tahun 2026 masih memiliki peluang keuntungan. Pada awal tahun, harga emas Antam berada di kisaran Rp2.504.000 per gram. Sementara itu, investor yang masuk sejak awal 2025 bahkan mencatat keuntungan lebih besar, karena harga saat itu masih berada di kisaran Rp1,5 jutaan per gram.

Faktor Global yang Menekan Harga Emas

Penurunan harga emas saat ini dipengaruhi oleh berbagai faktor global yang saling berkaitan. Salah satu faktor utama adalah kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury).

Ketika imbal hasil obligasi meningkat, investor cenderung beralih ke instrumen tersebut karena memberikan return yang lebih pasti dibandingkan emas yang tidak menghasilkan bunga.

Selain itu, penguatan dolar AS juga menjadi faktor penting. Emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi investor luar negeri, sehingga permintaan menurun dan harga tertekan.

Di sisi lain, kondisi geopolitik turut memperburuk situasi. Konflik di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran, mendorong kenaikan harga energi seperti minyak mentah dan gas alam. Lonjakan ini memicu kekhawatiran inflasi global.

Baca Juga :  Jarang Diketahui Investor Ritel, Saham Preferen Bisa Jadi ‘Tambang Emas

Akibatnya, bank sentral seperti Federal Reserve memilih untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Ketua The Fed, Jerome Powell, menegaskan bahwa penurunan suku bunga hanya akan dilakukan jika inflasi benar-benar terkendali. Kebijakan ini secara tidak langsung menekan harga emas.

Aksi Jual Investor dan Arus Keluar ETF

Selain faktor makroekonomi, tekanan juga datang dari perilaku investor itu sendiri. Banyak investor melakukan aksi jual emas untuk menutup kerugian di aset lain yang terdampak volatilitas pasar.

Tak hanya itu, produk investasi berbasis emas seperti ETF (Exchange-Traded Fund) juga mencatat arus keluar dana. Hal ini menjadi sinyal bahwa minat terhadap emas sedang menurun dalam jangka pendek.

Menurut analis pasar, Robert Gottlieb, kondisi saat ini belum ideal untuk melakukan pembelian emas.

Ia menyarankan agar investor tidak terburu-buru masuk pasar karena volatilitas masih tinggi dan harga belum menunjukkan tanda stabil.

Belajar dari Sejarah: Pola yang Terulang

Pergerakan harga emas saat ini dinilai memiliki kemiripan dengan kondisi pada tahun 2022, saat terjadi konflik antara Rusia dan Ukraina.

Pada periode tersebut, harga emas sempat mengalami penurunan selama tujuh bulan berturut-turut hingga mencapai titik terendah pada Oktober.

Fenomena ini menunjukkan bahwa emas tidak selalu naik saat terjadi konflik global. Dalam kondisi tertentu, tekanan dari suku bunga tinggi dan penguatan dolar justru lebih dominan.

Bagi investor yang berencana menjual emas, penting untuk memahami aspek perpajakan. Berdasarkan aturan yang berlaku, transaksi buyback dengan nilai lebih dari Rp10 juta akan dikenakan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22.

Besaran pajak adalah 1,5% bagi pemilik NPWP dan 3% untuk non-NPWP. Pajak ini langsung dipotong dari nilai transaksi, sehingga memengaruhi hasil akhir yang diterima investor.

Baca Juga :  Kesempatan Emas! 5 Posisi LAM Dibuka untuk Lulusan SMA hingga D3

Strategi Investasi di Tengah Harga Turun

Di tengah kondisi harga yang melemah, investor tetap memiliki peluang untuk meraih keuntungan.

Beberapa strategi yang bisa dipertimbangkan antara lain:

  • Menunggu harga stabil sebelum membeli dalam jumlah besar
  • Membeli secara bertahap (averaging) untuk mengurangi risiko
  • Fokus jangka panjang karena emas cenderung naik dalam periode panjang
  • Memantau kebijakan suku bunga global sebagai indikator utama

Pendekatan ini penting agar investor tidak terjebak dalam penurunan harga yang masih berlanjut.

Kesimpulan: Waspada, Tapi Jangan Panik

Penurunan harga emas menjelang Lebaran 2026 menjadi fenomena yang cukup menarik. Meski terlihat mengkhawatirkan, kondisi ini sebenarnya merupakan bagian dari siklus pasar yang normal.

Dengan analisis yang tepat dan strategi yang matang, peluang cuan tetap terbuka meskipun harga sedang turun.
Ke depan, arah harga emas akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi global, kebijakan suku bunga, serta kondisi geopolitik dunia.(*)

Berita Terkait

Harga Emas Antam 7 November 2026 Naik Lagi, Buyback Tembus Rp2,37 Juta! Ini Selisih Harga Jual dan Beli
Harga Emas Perhiasan Hari Ini Sabtu 7 November 2026 Naik, 24 Karat Tembus Rp2,1 Juta per Gram
Saham LQ45 dengan PER Terendah dan Tertinggi: PGAS Menguat, SMGR Punya PBV Paling Murah
Bunga Deposito Bank Digital Terbaru: Tembus 8%, Ini Daftar Bank dengan Imbal Hasil Tertinggi
Dolar AS Masih Perkasa di Rp18.000, Rupiah Kembali Tertekan! Ini Pergerakan Kurs Terbaru 6 November 2026
Asuransi Swasta Mulai Kaji Kerja Sama dengan BPJS Kesehatan, Begini Skema Urun Biaya yang Disiapkan
Harga Emas Antam 5 November 2026 Naik, Buyback Tembus Rp2,357 Juta! Ini Selisih Harga Terbarunya
Kabar Baik Nasabah Bank Mandiri! Belanja di OBFit Bisa Diskon 20 Persen dan Cicilan 0 Persen hingga 12 Bulan
Berita ini 38 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 7 November 2026 - 14:15 WIB

Harga Emas Antam 7 November 2026 Naik Lagi, Buyback Tembus Rp2,37 Juta! Ini Selisih Harga Jual dan Beli

Sabtu, 7 November 2026 - 11:31 WIB

Harga Emas Perhiasan Hari Ini Sabtu 7 November 2026 Naik, 24 Karat Tembus Rp2,1 Juta per Gram

Sabtu, 7 November 2026 - 09:05 WIB

Saham LQ45 dengan PER Terendah dan Tertinggi: PGAS Menguat, SMGR Punya PBV Paling Murah

Jumat, 6 November 2026 - 21:31 WIB

Bunga Deposito Bank Digital Terbaru: Tembus 8%, Ini Daftar Bank dengan Imbal Hasil Tertinggi

Jumat, 6 November 2026 - 19:01 WIB

Dolar AS Masih Perkasa di Rp18.000, Rupiah Kembali Tertekan! Ini Pergerakan Kurs Terbaru 6 November 2026

Berita Terbaru