Saham LQ45 dengan PER Terendah dan Tertinggi: PGAS Menguat, SMGR Punya PBV Paling Murah

- Jurnalis

Sabtu, 7 November 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

BISNIS,JS- Pergerakan saham-saham penghuni indeks LQ45 di Bursa Efek Indonesia (BEI) menghadirkan sejumlah peluang menarik bagi investor. Pada perdagangan Kamis, 5 November 2026, beberapa emiten mencatatkan kenaikan harga cukup signifikan, sementara saham lainnya justru menghadapi tekanan jual.

Saham PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) memimpin penguatan kelompok saham dengan rasio Price to Earning (PER) relatif rendah. Di sisi lain, PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) ikut mencuri perhatian setelah menguat 3,28 persen.

Sementara itu, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mencatat lonjakan paling tinggi dalam kelompok saham pembanding, sedangkan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) memiliki rasio Price to Book Value (PBV) paling rendah.

Data Pusat Data Kontan dan RTI menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan saham pada Kamis berlangsung cukup ramai. Nilai transaksi harian BEI mencapai Rp10 triliun dengan volume perdagangan sekitar 22,46 miliar saham.

Namun, investor asing justru melakukan aksi jual bersih atau net sell senilai Rp65,53 miliar. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa aktivitas transaksi yang tinggi belum tentu mencerminkan masuknya dana asing ke pasar saham Indonesia.

BBTN Pimpin Penguatan Saham LQ45 dengan PER Rendah

BBTN menjadi salah satu saham yang paling menarik perhatian pada perdagangan 5 November 2026.

Saham perbankan milik negara tersebut melesat 7,65 persen dan menutup perdagangan pada harga Rp915 per saham. BBTN juga mencatatkan rasio PER sebesar 2,68 kali dan PBV 0,34 kali.

Angka tersebut menempatkan BBTN sebagai saham dengan PER terendah dalam kelompok pembanding yang tercantum pada data tersebut.

Selain BBTN, PGAS dan PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) sama-sama menguat 3,28 persen. Kedua saham tersebut menutup perdagangan pada harga Rp1.415 per saham.

PGAS memiliki PER 4,91 kali dan PBV 0,67 kali. Sementara itu, HRTA mencatat PER 5,44 kali dengan PBV 1,66 kali.

Penguatan juga datang dari PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA). Saham perusahaan sektor peternakan dan pangan tersebut naik 2,78 persen hingga mencapai Rp1.665 per saham.

JPFA memiliki PER 4,54 kali dan PBV 0,91 kali.

Di tengah penguatan beberapa saham, investor juga perlu mencermati emiten yang mengalami koreksi cukup dalam.

Baca Juga :  IHSG Anjlok 3,78% ke Level 4.904, Saham ANTM, EMTK dan HRTA Tertekan, Investor Wajib Waspada

Daftar Saham LQ45 dengan PER Rendah

Berikut sejumlah saham dalam kelompok pembanding berdasarkan data perdagangan 5 November 2026.

Kode Harga penutupan PER PBV Perubahan
BBTN Rp915 2,68 0,34 +7,65%
MEDC Rp1.210 3,09 0,73 -2,42%
INKP Rp6.475 3,21 0,27 -1,52%
NCKL Rp740 4,02 0,99 +2,07%
ELSA Rp555 4,44 0,72 0,00%
JPFA Rp1.665 4,54 0,91 +2,78%
AADI Rp10.250 4,90 1,18 -3,53%
PGAS Rp1.415 4,91 0,67 +3,28%
ADRO Rp2.330 5,42 0,74 -0,85%
HRTA Rp1.415 5,44 1,66 +3,28%

Data tersebut memperlihatkan perbedaan valuasi yang cukup lebar di antara sejumlah emiten.

BBTN memiliki PER paling rendah, sedangkan INKP mencatat PBV 0,27 kali. Angka PBV tersebut menunjukkan harga saham INKP berada di bawah nilai buku per saham menurut perhitungan rasio tersebut.

Namun, investor tidak sebaiknya hanya mengandalkan PER dan PBV ketika menentukan pilihan investasi. Kinerja laba, kualitas aset, utang perusahaan, prospek bisnis, serta kemampuan menghasilkan arus kas juga perlu mendapat perhatian.

AADI dan MEDC Hadapi Tekanan Jual

Tidak semua saham LQ45 mampu mempertahankan penguatan pada perdagangan tersebut.

PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) justru mengalami koreksi paling dalam dalam kelompok saham ber-PER rendah. Harga saham AADI turun 3,53 persen hingga mencapai Rp10.250 per saham.

AADI memiliki PER 4,90 kali dan PBV 1,18 kali.

Tekanan juga menghampiri PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC). Saham perusahaan energi tersebut melemah 2,42 persen dan menutup perdagangan pada harga Rp1.210 per saham.

Sementara itu, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) turun 1,52 persen ke level Rp6.475 per saham.

Berbeda dengan ketiga saham tersebut, ELSA tidak mengalami perubahan harga dan bertahan pada level Rp555 per saham.

Perbedaan arah pergerakan ini memperlihatkan bahwa investor perlu menganalisis setiap emiten berdasarkan kondisi fundamental dan prospek sektor usahanya, bukan sekadar mengikuti pergerakan indeks.

MDKA Melonjak 15,76 Persen, SMGR Catat PBV Terendah

Selain kelompok saham dengan PER rendah, sejumlah emiten lain juga memperlihatkan pergerakan harga yang menarik perhatian.

PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mencatat kenaikan paling tinggi dalam kelompok pembanding berikutnya. Harga saham MDKA melesat 15,76 persen hingga mencapai Rp2.130 per saham.

MDKA memiliki PER 14,39 kali dan PBV 3,31 kali.

Kinerja positif juga muncul pada PT Darma Henwa Tbk (DEWA). Saham perusahaan jasa pertambangan tersebut naik 4,55 persen dan mencapai Rp230 per saham.

Selanjutnya, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) menguat 3,33 persen ke level Rp310 per saham.

Kabar menarik juga datang dari PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR). Saham produsen semen tersebut menguat 2,24 persen hingga mencapai Rp1.370 per saham.

SMGR memiliki PER 13,05 kali dan PBV 0,21 kali. Rasio PBV tersebut menjadi yang paling rendah dalam kelompok pembanding kedua.

Kondisi ini membuat SMGR menarik perhatian investor yang sedang mencari saham dengan valuasi relatif rendah berdasarkan nilai buku perusahaan.

Meski demikian, PBV rendah tidak otomatis menunjukkan bahwa harga saham akan segera naik. Investor tetap perlu memperhatikan kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan, kondisi industri semen, tingkat permintaan pasar, serta perkembangan biaya produksi.

Daftar Saham dengan PER Lebih Tinggi

Berikut daftar saham dalam kelompok pembanding berikutnya berdasarkan data perdagangan 5 November 2026.

Kode Harga penutupan PER PBV Perubahan
GOTO Rp24 24,00 0,83 0,00%
BUMI Rp118 19,67 1,48 +1,72%
INDY Rp1.775 19,09 0,42 +2,01%
MBMA Rp310 17,22 1,15 +3,33%
BRPT Rp910 15,42 1,90 -6,67%
UNTR Rp23.500 14,72 0,89 +1,51%
MDKA Rp2.130 14,39 3,31 +15,76%
DEWA Rp230 13,53 1,13 +4,55%
PGEO Rp950 13,19 1,08 -1,55%
SMGR Rp1.370 13,05 0,21 +2,24%

Sumber: Pusat Data Kontan dan RTI.

BRPT Menjadi Saham dengan Koreksi Terdalam

Di tengah sejumlah saham yang menguat, PT Barito Pacific Tbk (BRPT) justru mengalami tekanan cukup besar.

Harga saham BRPT turun 6,67 persen dan berakhir pada level Rp910 per saham. Penurunan tersebut menjadi yang terdalam dalam kelompok pembanding kedua.

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) juga melemah 1,55 persen ke level Rp950 per saham.

Sementara itu, GOTO bergerak stagnan pada harga Rp24 per saham.

Pergerakan saham-saham tersebut memperlihatkan bahwa pasar memberikan respons berbeda terhadap setiap emiten. Karena itu, investor perlu memperhatikan perkembangan sektor usaha dan laporan keuangan sebelum mengambil keputusan.

Apa Arti PER dan PBV bagi Investor Saham?

Investor pemula sering menemukan istilah PER dan PBV ketika membaca laporan analisis saham. Kedua rasio tersebut membantu investor memahami valuasi perusahaan, tetapi memiliki fungsi yang berbeda.

Price to Earning Ratio (PER) membandingkan harga saham dengan laba bersih per saham atau Earnings Per Share (EPS).

Secara sederhana, PER menunjukkan berapa kali harga saham dibandingkan dengan laba yang perusahaan hasilkan untuk setiap lembar saham.

Semakin rendah PER, semakin rendah harga saham relatif terhadap laba per saham. Namun, investor tetap perlu memeriksa apakah perusahaan mampu mempertahankan keuntungan pada masa mendatang.

Sementara itu, Price to Book Value (PBV) membandingkan harga saham dengan nilai buku perusahaan per saham.

PBV di bawah satu kali menunjukkan harga saham berada di bawah nilai buku per saham. Akan tetapi, kondisi tersebut tidak selalu berarti saham sedang murah karena pasar mungkin juga memperhitungkan risiko bisnis, penurunan laba, atau prospek perusahaan yang melemah.

Oleh sebab itu, investor sebaiknya menggabungkan analisis PER dan PBV dengan pertumbuhan pendapatan, laba bersih, arus kas, serta kondisi keuangan perusahaan.

Investor Perlu Mencermati Pergerakan Saham LQ45

Perdagangan saham 5 November 2026 memberikan gambaran menarik mengenai perbedaan valuasi dan kinerja emiten dalam kelompok saham unggulan BEI.

BBTN memimpin kenaikan saham dengan PER rendah, sementara PGAS dan HRTA sama-sama mencatat penguatan 3,28 persen.

Di kelompok pembanding lainnya, MDKA mencuri perhatian melalui lonjakan 15,76 persen. Adapun SMGR memiliki PBV terendah sebesar 0,21 kali.

Meski demikian, angka valuasi dan kenaikan harga dalam satu hari belum cukup untuk menentukan kualitas investasi jangka panjang.

Investor perlu melakukan analisis fundamental dan teknikal, memeriksa perkembangan laporan keuangan, serta mempertimbangkan toleransi risiko sebelum membeli atau menjual saham.

Perlu diingat, kinerja harga saham pada perdagangan sebelumnya tidak menjamin keuntungan pada perdagangan berikutnya. Setiap keputusan investasi tetap membutuhkan pertimbangan yang matang.(*)

Berita Terkait

Bunga Deposito Bank Digital Terbaru: Tembus 8%, Ini Daftar Bank dengan Imbal Hasil Tertinggi
Dolar AS Masih Perkasa di Rp18.000, Rupiah Kembali Tertekan! Ini Pergerakan Kurs Terbaru 6 November 2026
Asuransi Swasta Mulai Kaji Kerja Sama dengan BPJS Kesehatan, Begini Skema Urun Biaya yang Disiapkan
Harga Emas Antam 5 November 2026 Naik, Buyback Tembus Rp2,357 Juta! Ini Selisih Harga Terbarunya
Kabar Baik Nasabah Bank Mandiri! Belanja di OBFit Bisa Diskon 20 Persen dan Cicilan 0 Persen hingga 12 Bulan
Rupiah Menguat ke Rp18.120 per Dolar AS, Ini Sentimen yang Menggerakkan Pasar Hari Ini
Harga Emas Antam Naik Rp13.000 per Gram, Buyback Melonjak Rp33.000, Ini Selisih Terbarunya
Rupiah Melemah, Peluang Bisnis Ini Justru Terbuka Lebar: UMKM Ekspor dan Pariwisata Bisa Untung
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 7 November 2026 - 09:05 WIB

Saham LQ45 dengan PER Terendah dan Tertinggi: PGAS Menguat, SMGR Punya PBV Paling Murah

Jumat, 6 November 2026 - 21:31 WIB

Bunga Deposito Bank Digital Terbaru: Tembus 8%, Ini Daftar Bank dengan Imbal Hasil Tertinggi

Jumat, 6 November 2026 - 16:01 WIB

Asuransi Swasta Mulai Kaji Kerja Sama dengan BPJS Kesehatan, Begini Skema Urun Biaya yang Disiapkan

Jumat, 6 November 2026 - 08:01 WIB

Harga Emas Antam 5 November 2026 Naik, Buyback Tembus Rp2,357 Juta! Ini Selisih Harga Terbarunya

Kamis, 5 November 2026 - 21:31 WIB

Kabar Baik Nasabah Bank Mandiri! Belanja di OBFit Bisa Diskon 20 Persen dan Cicilan 0 Persen hingga 12 Bulan

Berita Terbaru