JAKARTA,JS- Fenomena Gen Z Jakarta yang dihadapkan pada pilihan antara kuliah atau bekerja kini semakin nyata. Di tengah tingginya biaya hidup ibu kota, generasi muda tidak lagi hanya fokus mengejar gelar pendidikan, tetapi juga harus memikirkan kestabilan finansial sejak dini.
Menurut laporan Deloitte Global 2025 Gen Z and Millennial Survey, sekitar 31% Gen Z memilih tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Lebih mengejutkan lagi, 39% dari mereka menyebut biaya kuliah yang tinggi sebagai alasan utama.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa akses terhadap pendidikan tinggi masih menjadi tantangan serius, bahkan di kota besar seperti Jakarta.
Tekanan Biaya Hidup Membuat Gen Z Sulit Kuliah
Di Jakarta, persoalan pendidikan tidak berdiri sendiri. Biaya hidup yang terus meningkat menjadi faktor utama yang memengaruhi keputusan generasi muda.
Mulai dari biaya tempat tinggal, transportasi, hingga kebutuhan sehari-hari, semuanya menuntut pengeluaran yang tidak sedikit.
Selain itu, jam kerja yang padat sering kali membuat mereka kesulitan membagi waktu. Tidak sedikit pula yang akhirnya menunda pendidikan atau bahkan berhenti di tengah jalan.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2023 mencatat ada sekitar 9,9 juta Gen Z usia 15–24 tahun di Indonesia yang masuk kategori NEET (Not in Education, Employment, or Training).
Angka ini menunjukkan adanya kesenjangan besar antara kebutuhan hidup dan akses pendidikan.
Kuliah Fleksibel Jadi Tren Baru di Kalangan Gen Z
Seiring perubahan zaman, kebutuhan akan sistem pendidikan fleksibel semakin meningkat. Gen Z kini tidak hanya mencari kampus dengan reputasi tinggi, tetapi juga sistem belajar yang bisa menyesuaikan dengan gaya hidup mereka.
Sistem ini memungkinkan mahasiswa belajar tanpa harus datang ke kampus setiap hari.
Selain itu, pembelajaran daring (online learning) memberikan kebebasan waktu, sehingga mahasiswa tetap bisa produktif secara finansial.
Universitas Terbuka Jadi Pilihan Strategis
Salah satu institusi pendidikan yang menjawab kebutuhan tersebut adalah Universitas Terbuka (UT). Perguruan tinggi negeri ini mengusung sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang sepenuhnya berbasis daring.
Dengan sistem ini, mahasiswa dapat mengakses materi kuliah kapan saja dan dari mana saja. Hal ini tentu menjadi solusi bagi pekerja yang ingin tetap melanjutkan pendidikan tanpa harus meninggalkan pekerjaan.
Saat ini, Universitas Terbuka memiliki lebih dari 760 ribu mahasiswa aktif, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Angka ini menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap sistem kuliah fleksibel.
UT Jakarta Jadi Pusat Kuliah Fleksibel di Ibu Kota
Sebagai pusat aktivitas ekonomi, Jakarta menjadi kota dengan kebutuhan tertinggi terhadap pendidikan fleksibel. Menjawab tantangan tersebut, UT Jakarta hadir sebagai unit layanan utama bagi masyarakat urban.
Pada semester ganjil 2025/2026, UT Jakarta mencatat lebih dari 90 ribu mahasiswa aktif. Menariknya, sebagian besar mahasiswa tersebut sudah bekerja, baik di sektor formal maupun informal.
Hal ini membuktikan bahwa sistem kuliah fleksibel benar-benar relevan dengan kondisi masyarakat Jakarta yang dinamis dan serba cepat.
Keunggulan Kuliah Fleksibel untuk Gen Z
Ada beberapa alasan mengapa kuliah fleksibel semakin diminati:
1. Bisa Kuliah Sambil Kerja
Mahasiswa tetap dapat menghasilkan pendapatan tanpa harus meninggalkan pendidikan.
2. Waktu Belajar Lebih Fleksibel
Materi bisa diakses kapan saja, sehingga tidak terikat jadwal ketat.
3. Biaya Lebih Terjangkau
Dibandingkan kuliah konvensional, biaya kuliah fleksibel cenderung lebih hemat.
4. Akses Luas Tanpa Batas Lokasi
Mahasiswa bisa belajar dari mana saja tanpa harus pindah domisili.
Peluang Besar untuk Masa Depan Gen Z
Dengan adanya sistem kuliah fleksibel, Gen Z kini tidak lagi harus memilih antara pendidikan dan pekerjaan. Keduanya bisa dijalani secara bersamaan dengan manajemen waktu yang baik.
Selain itu, tren ini juga membuka peluang lebih luas bagi generasi muda untuk meningkatkan keterampilan dan daya saing di dunia kerja.
Di era digital seperti sekarang, kemampuan untuk belajar secara mandiri dan fleksibel menjadi nilai tambah yang sangat penting.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)
- Apakah kuliah fleksibel diakui secara resmi?
Ya, selama perguruan tinggi tersebut terakreditasi, seperti Universitas Terbuka, maka ijazahnya diakui secara nasional. - Apakah bisa benar-benar kuliah sambil kerja?
Bisa. Sistem pembelajaran daring memungkinkan mahasiswa mengatur jadwal belajar sendiri. - Apakah kualitas pendidikan tetap terjaga?
Tentu. Materi disusun oleh tenaga pengajar profesional dan mengikuti standar pendidikan nasional. - Siapa saja yang cocok mengambil kuliah fleksibel?
Pekerja, wirausaha, atau siapa saja yang membutuhkan sistem belajar yang tidak mengikat waktu.
Kesimpulan
Fenomena Gen Z yang harus memilih antara kuliah atau bekerja menjadi gambaran nyata tantangan pendidikan di Indonesia, khususnya di Jakarta. Tingginya biaya hidup membuat banyak anak muda harus memprioritaskan kebutuhan ekonomi.
Namun, hadirnya sistem kuliah fleksibel seperti yang ditawarkan Universitas Terbuka menjadi solusi yang relevan. Kini, Gen Z tidak perlu lagi mengorbankan salah satu antara pendidikan dan karier.
Dengan perencanaan yang tepat, keduanya bisa berjalan beriringan untuk masa depan yang lebih baik.(*)









