BISNIS,JS- Kabar menggembirakan datang dari dunia startup ride-hailing dan teknologi finansial di Indonesia. Grab Holdings mencatat laba bersih pertamanya sebesar Rp 3,36 triliun sepanjang 2025. Angka ini menandai kebangkitan perusahaan setelah bertahun-tahun mengalami kerugian.
Grab berhasil meningkatkan EBITDA yang disesuaikan hingga 60% menjadi US$ 500 juta atau setara Rp 8,4 triliun. Lonjakan ini terjadi karena perusahaan mengoptimalkan biaya operasional dan memperluas layanan secara selektif. Selain itu, arus kas bebas Grab menunjukkan posisi keuangan yang kuat sepanjang tahun, menegaskan stabilitas perusahaan setelah periode sulit.
GoTo Gojek Tokopedia Lampaui Target EBITDA
Sementara itu, GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) mencatatkan EBITDA yang disesuaikan sebesar Rp 2 triliun, melampaui perkiraan internal Rp 1,8–1,9 triliun. Pertumbuhan ini muncul karena GOTO berhasil meningkatkan pendapatan di semua unit bisnis dan menjaga disiplin biaya secara ketat.
Pendapatan bersih GOTO naik sekitar 24% menjadi Rp 18,3 triliun, sementara nilai transaksi inti (GTV) mencapai Rp 400 triliun. Segmen layanan on-demand dan pengantaran barang menjadi kontributor utama pertumbuhan EBITDA, sehingga manajemen berani menargetkan EBITDA lebih tinggi lagi pada 2026, yaitu Rp 3,2–3,4 triliun.
Fokus Profitabilitas Menjadi Strategi Utama
Grab membalikkan kerugian menjadi laba bersih melalui pengelolaan subsidi yang selektif dan pengembangan layanan yang fokus, sedangkan GOTO mematangkan kapabilitas bisnis sambil menghadapi tantangan di beberapa segmen.
Keduanya juga memperluas layanan digital lain, termasuk fintech dan solusi pembayaran, untuk meningkatkan keterlibatan pengguna sekaligus memperbesar nilai transaksi. Strategi ini memperlihatkan bahwa pertumbuhan startup Indonesia kini tidak hanya soal ekspansi pasar, tetapi juga profitabilitas yang berkelanjutan.(*)









