LIFESTYLE,JS– Punya iPhone terbaru, nongkrong rutin di kafe, liburan ke luar negeri, dan feed Instagram estetik membuat generasi muda terlihat hidup mapan. Namun, gaya hidup ini tidak selalu mencerminkan kondisi keuangan mereka.
Gaya Hidup yang Menipu Mata
Banyak anak muda menghabiskan uang untuk pengalaman yang instan. Mereka nongkrong di Starbucks tiga kali seminggu, berlibur ke Bali, dan memamerkan semua itu di media sosial.
Padahal, di balik feed Instagram yang estetik dan hidup minimalis, sebagian besar belum punya rumah, tabungan yang cukup, atau rencana pensiun. Generasi muda sering merasa hidup lebih enak, padahal mereka sebenarnya lebih rentan secara finansial.
Data Bicara: Konsumsi Naik, Aset Turun
Data menunjukkan tren mengejutkan. Kepemilikan rumah Milenial usia 30-an hanya 33%, lebih rendah dibanding generasi Baby Boomer yang mencapai 40% pada usia sama. Hanya 3% investor di bawah 30 tahun. Sementara itu, mayoritas anak muda memiliki tabungan kurang dari tiga bulan pengeluaran.
Di sisi lain, pengeluaran konsumtif terus naik. Generasi muda urban menghabiskan 500 ribu–1 juta rupiah per bulan untuk kopi. Belanja online meningkat 40% dalam tiga tahun terakhir, terutama di usia 18–35 tahun.
Dengan kata lain, mereka lebih kaya dalam hal pengalaman, tapi lebih miskin dalam hal aset dan keamanan finansial.
Sistem Ekonomi yang Membentuk Kebiasaan Konsumtif
Faktor lain berasal dari sistem ekonomi modern. Paylater, diskon yang terus-menerus, langganan beragam layanan, dan influencer marketing mendorong anak muda untuk mengutamakan konsumsi. Semua dikemas sebagai bentuk self-love atau reward karena bekerja keras.
Akibatnya, generasi muda sering mengutamakan pengalaman instan dibanding investasi jangka panjang. Mereka menunda membeli rumah, menabung, atau merencanakan pensiun.
Realita dan Solusi
Meski terlihat suram, situasi ini tidak sepenuhnya salah mereka. Mereka hidup dalam tekanan ekonomi: upah stagnan, inflasi tinggi, harga rumah melambung, dan ketidakpastian pekerjaan. Ditambah, tekanan sosial media membuat gaya hidup orang lain selalu terlihat sempurna.
Namun, generasi muda tetap punya pilihan. Mereka bisa menerima realita: hidup terlihat kaya tapi aset kurang, lalu menata ulang prioritas. Fokus pada membangun aset, menabung, dan investasi jangka panjang dapat meningkatkan keamanan finansial mereka di masa depan.(AN)









