SPORT,JS- Kemenangan dramatis Italia atas Perancis di final Piala Dunia 2006 seharusnya menjadi awal era kejayaan baru. Saat itu, skuad bertabur bintang seperti Zinedine Zidane dan Thierry Henry harus mengakui keunggulan Gli Azzurri lewat adu penalti di Berlin.
Gelar tersebut menjadikan Italia sebagai negara kedua yang meraih empat trofi Piala Dunia. Namun, hampir dua dekade berselang, realitas berkata sebaliknya. Italia justru berada di ambang sejarah kelam: gagal lolos ke tiga edisi Piala Dunia secara beruntun.
Setelah absen di Rusia 2018 dan Qatar 2022, kini bayang-bayang kegagalan kembali menghantui langkah mereka menuju Piala Dunia 2026.
Euro 2020 Hanya Kilasan Sukses?
Di tengah keterpurukan, Italia sempat mencuri perhatian dengan menjuarai Euro 2020 usai menaklukkan Inggris. Namun, banyak pengamat menilai keberhasilan itu lebih sebagai anomali ketimbang bukti kebangkitan permanen.
Performa inkonsisten di level internasional kembali memperlihatkan bahwa fondasi sepak bola Italia sedang tidak stabil.
Jalan Terjal Menuju Piala Dunia 2026
Untuk mengamankan tiket ke Piala Dunia 2026, Italia harus melewati jalur playoff yang tidak mudah. Mereka akan menghadapi Irlandia Utara di semifinal, sebelum kemungkinan bertemu Wales atau Bosnia-Herzegovina di partai penentuan.
Pelatih anyar Gennaro Gattuso menyadari betul tekanan besar yang membayangi timnya.
Ia menegaskan bahwa pendekatan mental menjadi kunci utama.
“Para pemain ini sudah terbiasa dengan pertandingan besar. Kami tidak perlu menambah tekanan, justru harus membuat mereka bermain lebih lepas,” ujar Gattuso.
Efek Trauma dan Pergantian Pelatih
Penunjukan Gattuso pada Juni 2025 menggantikan Luciano Spalletti menjadi titik awal perubahan. Pemecatan Spalletti terjadi setelah kekalahan telak dari Norwegia di fase kualifikasi.
Situasi tersebut mencerminkan masalah yang lebih dalam: krisis kepercayaan diri dan tekanan mental yang belum sepenuhnya pulih.
Gattuso memilih pendekatan berbeda. Ia tidak ingin pemainnya terbebani oleh masa lalu, melainkan fokus pada peluang yang ada.
Strategi Tak Biasa: Hindari San Siro
Salah satu keputusan menarik Gattuso adalah memilih stadion yang lebih kecil untuk laga kandang. Ia menghindari San Siro yang dikenal memiliki atmosfer tekanan tinggi.
Menurutnya, stadion besar dengan puluhan ribu penonton bisa berubah menjadi bumerang jika tim tampil buruk di awal laga.
Sebagai gantinya, Italia akan bermain di Bergamo dengan kapasitas lebih kecil demi menciptakan suasana yang lebih kondusif dan suportif.
Krisis Talenta Lokal Jadi Masalah Utama
Selain faktor mental, Italia juga menghadapi masalah kualitas pemain. Saat ini, hanya Gianluigi Donnarumma yang benar-benar berada di level elite dunia.
Situasi ini sangat kontras dengan era emas 2006 yang dihuni nama-nama besar seperti Gianluigi Buffon, Fabio Cannavaro, Francesco Totti, dan Alessandro Del Piero.
Masalah ini tidak lepas dari perubahan regulasi liga domestik. Longgarnya kuota pemain asing membuat talenta lokal kesulitan berkembang di Serie A.
Irlandia Utara Siap Manfaatkan Tekanan
Di sisi lain, Irlandia Utara justru datang tanpa beban. Pelatih Michael O’Neill menilai tekanan sepenuhnya berada di pihak Italia.
“Kami punya segalanya untuk diraih. Tidak ada yang mengharuskan kami menang, dan itu membuat kami bermain lebih bebas,” ujarnya.
Pendekatan ini bisa menjadi ancaman serius bagi Italia yang tengah dibebani ekspektasi besar sebagai raksasa sepak bola Eropa.
Penentuan Nasib Gli Azzurri
Pertandingan playoff ini bukan sekadar laga biasa. Ini adalah momen penentuan bagi masa depan sepak bola Italia.
Jika gagal, reputasi sebagai negara besar akan semakin dipertanyakan. Namun jika berhasil, ini bisa menjadi titik balik kebangkitan mereka.
Kini, semua mata tertuju pada bagaimana Gattuso meracik strategi dan membangun mental tim.
Apakah Italia mampu bangkit dari keterpurukan, atau justru kembali terjerumus dalam kegagalan?.(*)









