Italia di Ujung Tanduk! Dari Juara Dunia ke Ancaman Gagal Lolos Piala Dunia 2026 Tiga Kali Beruntun

- Jurnalis

Jumat, 27 Maret 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Foto ; Gattuso

Foto ; Gattuso

SPORT,JS- Kemenangan dramatis Italia atas Perancis di final Piala Dunia 2006 seharusnya menjadi awal era kejayaan baru. Saat itu, skuad bertabur bintang seperti Zinedine Zidane dan Thierry Henry harus mengakui keunggulan Gli Azzurri lewat adu penalti di Berlin.

Gelar tersebut menjadikan Italia sebagai negara kedua yang meraih empat trofi Piala Dunia. Namun, hampir dua dekade berselang, realitas berkata sebaliknya. Italia justru berada di ambang sejarah kelam: gagal lolos ke tiga edisi Piala Dunia secara beruntun.

Setelah absen di Rusia 2018 dan Qatar 2022, kini bayang-bayang kegagalan kembali menghantui langkah mereka menuju Piala Dunia 2026.

Baca Juga :  Rumor Panas Piala Dunia 2026: Italia Bisa Gantikan Iran di Detik Terakhir

Euro 2020 Hanya Kilasan Sukses?

Di tengah keterpurukan, Italia sempat mencuri perhatian dengan menjuarai Euro 2020 usai menaklukkan Inggris. Namun, banyak pengamat menilai keberhasilan itu lebih sebagai anomali ketimbang bukti kebangkitan permanen.

Performa inkonsisten di level internasional kembali memperlihatkan bahwa fondasi sepak bola Italia sedang tidak stabil.

Jalan Terjal Menuju Piala Dunia 2026

Untuk mengamankan tiket ke Piala Dunia 2026, Italia harus melewati jalur playoff yang tidak mudah. Mereka akan menghadapi Irlandia Utara di semifinal, sebelum kemungkinan bertemu Wales atau Bosnia-Herzegovina di partai penentuan.

Pelatih anyar Gennaro Gattuso menyadari betul tekanan besar yang membayangi timnya.

Ia menegaskan bahwa pendekatan mental menjadi kunci utama.

“Para pemain ini sudah terbiasa dengan pertandingan besar. Kami tidak perlu menambah tekanan, justru harus membuat mereka bermain lebih lepas,” ujar Gattuso.

Efek Trauma dan Pergantian Pelatih

Penunjukan Gattuso pada Juni 2025 menggantikan Luciano Spalletti menjadi titik awal perubahan. Pemecatan Spalletti terjadi setelah kekalahan telak dari Norwegia di fase kualifikasi.

Situasi tersebut mencerminkan masalah yang lebih dalam: krisis kepercayaan diri dan tekanan mental yang belum sepenuhnya pulih.

Gattuso memilih pendekatan berbeda. Ia tidak ingin pemainnya terbebani oleh masa lalu, melainkan fokus pada peluang yang ada.

Strategi Tak Biasa: Hindari San Siro

Salah satu keputusan menarik Gattuso adalah memilih stadion yang lebih kecil untuk laga kandang. Ia menghindari San Siro yang dikenal memiliki atmosfer tekanan tinggi.

Menurutnya, stadion besar dengan puluhan ribu penonton bisa berubah menjadi bumerang jika tim tampil buruk di awal laga.

Sebagai gantinya, Italia akan bermain di Bergamo dengan kapasitas lebih kecil demi menciptakan suasana yang lebih kondusif dan suportif.

Baca Juga :  FIFA Didesak Pindahkan Piala Dunia 2026 dari AS ke Inggris

Krisis Talenta Lokal Jadi Masalah Utama

Selain faktor mental, Italia juga menghadapi masalah kualitas pemain. Saat ini, hanya Gianluigi Donnarumma yang benar-benar berada di level elite dunia.

Situasi ini sangat kontras dengan era emas 2006 yang dihuni nama-nama besar seperti Gianluigi Buffon, Fabio Cannavaro, Francesco Totti, dan Alessandro Del Piero.

Masalah ini tidak lepas dari perubahan regulasi liga domestik. Longgarnya kuota pemain asing membuat talenta lokal kesulitan berkembang di Serie A.

Irlandia Utara Siap Manfaatkan Tekanan

Di sisi lain, Irlandia Utara justru datang tanpa beban. Pelatih Michael O’Neill menilai tekanan sepenuhnya berada di pihak Italia.

“Kami punya segalanya untuk diraih. Tidak ada yang mengharuskan kami menang, dan itu membuat kami bermain lebih bebas,” ujarnya.

Pendekatan ini bisa menjadi ancaman serius bagi Italia yang tengah dibebani ekspektasi besar sebagai raksasa sepak bola Eropa.

Penentuan Nasib Gli Azzurri

Pertandingan playoff ini bukan sekadar laga biasa. Ini adalah momen penentuan bagi masa depan sepak bola Italia.

Jika gagal, reputasi sebagai negara besar akan semakin dipertanyakan. Namun jika berhasil, ini bisa menjadi titik balik kebangkitan mereka.

Kini, semua mata tertuju pada bagaimana Gattuso meracik strategi dan membangun mental tim.

Apakah Italia mampu bangkit dari keterpurukan, atau justru kembali terjerumus dalam kegagalan?.(*)

Berita Terkait

Real Madrid Incar Erling Haaland pada 2027, Manchester City Mulai Waspada dengan Masa Depan Sang Striker
Cristiano Ronaldo Resmi Menikahi Georgina Rodriguez, Ini Momen Pernikahan Privat yang Jadi Sorotan Dunia
Vinicius Junior Kantongi Gaji Fantastis hingga 2032, Setara Cristiano Ronaldo di Real Madrid
Bukan Soal Produktivitas, Ini Alasan Timnas Indonesia Gagal Lolos Semifinal Piala AFF 2026
Real Madrid Bergerak Cepat! Vinicius Junior Ditawari Kontrak Fantastis Rp455 Miliar per Tahun, Arsenal Terancam Gigit Jari
Timnas Indonesia Dibantai Vietnam 0-3 di Piala AFF 2026, Peluang Lolos Semifinal Kini Ditentukan Laga Kontra Singapura
Timnas Indonesia Selangkah Lagi Menuju Semifinal Piala AFF 2026
FIFA Resmi Umumkan Tim Terbaik Piala Dunia 2026, Messi, Mbappe dan Haaland Masuk Best XI, Ini Daftar Lengkapnya
Berita ini 26 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 06:01 WIB

Real Madrid Incar Erling Haaland pada 2027, Manchester City Mulai Waspada dengan Masa Depan Sang Striker

Jumat, 14 Agustus 2026 - 06:01 WIB

Cristiano Ronaldo Resmi Menikahi Georgina Rodriguez, Ini Momen Pernikahan Privat yang Jadi Sorotan Dunia

Rabu, 12 Agustus 2026 - 06:01 WIB

Vinicius Junior Kantongi Gaji Fantastis hingga 2032, Setara Cristiano Ronaldo di Real Madrid

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 06:01 WIB

Bukan Soal Produktivitas, Ini Alasan Timnas Indonesia Gagal Lolos Semifinal Piala AFF 2026

Rabu, 5 Agustus 2026 - 06:01 WIB

Real Madrid Bergerak Cepat! Vinicius Junior Ditawari Kontrak Fantastis Rp455 Miliar per Tahun, Arsenal Terancam Gigit Jari

Berita Terbaru