MERANGIN,JS – Jagung Siap Panen, Bulog Menolak? Petani Merangin Terancam Rugi
Sejumlah petani jagung di Kabupaten Merangin menyuarakan kekecewaan karena pihak Bulog setempat belum menerima hasil panen mereka. Kondisi ini memicu keresahan di tingkat desa. Para kepala desa dan warga sebelumnya berkomitmen mendukung program ketahanan pangan.
Program Ketahanan Pangan Disambut Antusias
Pada awal musim tanam, beberapa desa di Kecamatan Tabir Ulu bergerak cepat menjalankan program penanaman jagung. Kepala desa mengajak warga memanfaatkan lahan produktif. Mereka ingin memperkuat ketahanan pangan desa sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat.
Para petani mengaku menerima informasi bahwa Bulog Merangin akan menyerap hasil panen jagung. Informasi itu mendorong warga menanam dalam skala lebih luas.
Pemerintah Desa dan Petani Keluarkan Modal
Selanjutnya, pemerintah desa bersama kelompok tani menyusun rencana tanam secara rinci. Mereka membagi lahan, menetapkan jadwal, dan mengawasi perawatan tanaman.
Sebagian petani menambah modal untuk membeli benih dan pupuk. Mereka juga membayar tenaga kerja sejak awal musim. Mereka yakin Bulog akan membeli hasil panen sesuai rencana.
Panen Datang, Bulog Tolak Hasil Jagung
Namun situasi berubah saat masa panen tiba. Petani membawa jagung untuk menjalani uji kadar air. Mereka memastikan kadar air mencapai 10 persen sesuai standar.
“Iya bang, jagung kito ini tadi sudah dites kadar airnyo, kadar air udah 10 persen. Kini alasannyo jagung berjamur lagi katonyo bang. Kalau dak bisa dijual ke Bulog, mau dijual kemano lagi ni jagung yo bg?” ujar seorang petani.
Awalnya, petugas mempersoalkan kadar air. Setelah itu, petugas menyebut jagung berjamur. Alasan yang berubah-ubah itu membuat petani kecewa dan bingung.
Petani Hadapi Risiko Kerugian
Di sisi lain, petani menghadapi risiko kerugian karena mereka menyimpan jagung terlalu lama. Mereka khawatir kualitas jagung menurun. Jika kualitas turun, nilai jual ikut merosot.
Petani sudah mengeluarkan biaya untuk benih, pupuk, dan tenaga kerja. Jika Bulog tidak membeli hasil panen, petani kesulitan menutup modal.
Kepala Desa Pertimbangkan Hentikan Program
Akibat kondisi tersebut, sejumlah kepala desa bersama petani mulai mempertimbangkan penghentian program tanam jagung. Mereka menilai program tidak akan berjalan tanpa kepastian pasar.
“Kalau begini caranya, lebih baik kami hentikan saja tanam jagung. Karena tidak ada tempat lagi untuk menjual dalam jumlah besar,” ungkap beberapa warga.
Petani Tunggu Penjelasan Bulog
Hingga berita ini terbit, pihak Bulog Merangin belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan petani. Redaksi terus menghubungi pihak Bulog untuk meminta penjelasan.
Petani dan pemerintah desa berharap Bulog segera memberikan klarifikasi dan solusi. Mereka ingin program ketahanan pangan berjalan konsisten dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat desa.(*)









