Kebakaran Lahan Pinang 2,5 Hektare di Muntialo Makin Sulit Dipadamkan, Petugas Hadapi Krisis Sumber Air

- Jurnalis

Minggu, 23 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Pemadam kebarakan saat berusaha memadamkan api

Pemadam kebarakan saat berusaha memadamkan api

TANJABBAR,JS- Kebakaran lahan perkebunan pinang di Desa Muntialo, Kecamatan Betara, Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar), Jambi, memasuki hari ketiga pada Sabtu (22/8/2026). Api masih membakar sejumlah bagian lahan dan menyisakan titik asap yang membuat tim pemadam harus bekerja ekstra hati-hati.

Informasi sementara dari masyarakat dan tim di lapangan menyebutkan kebakaran telah mencapai sekitar 2,5 hektare. Namun, petugas belum menetapkan luas secara final karena proses pengukuran masih menunggu analisis citra satelit dari Kementerian Kehutanan (Kemenhut).

Kondisi di lokasi menjadi semakin menantang karena lahan memiliki karakter semi gambut. Vegetasi perkebunan pinang yang terbakar juga menyulitkan petugas ketika mencari titik api yang berada di bawah permukaan tanah.

Selain persoalan medan, petugas menghadapi kendala lain yang tidak kalah serius, yakni terbatasnya sumber air untuk pemadaman kebakaran lahan.

Sumber Air Mulai Menjadi Kendala Utama

Kepala Daerah Operasi (Daops) Manggala Agni Sumatera XI/Bukit Tempurung, Sandy Prabowo, menjelaskan bahwa tim mengandalkan kanal di sekitar lokasi sebagai sumber air.

Akan tetapi, kondisi kanal tidak ideal untuk mendukung pemadaman dalam waktu panjang.

“Kondisi sumber air berupa kanal, namun dangkal,” ujar Sandy, Sabtu (22/8/2026).

Kanal yang tersedia memiliki lebar sekitar tiga meter. Sayangnya, kedalamannya hanya sekitar 30 sentimeter.

Kondisi tersebut membuat petugas harus mengatur penggunaan air secara efisien. Terlebih lagi, titik pengambilan air berjarak cukup jauh dari lokasi kebakaran.

Jarak antara sumber air dan titik api mencapai sekitar 200 hingga 300 meter.

Situasi itu membuat proses pemadaman membutuhkan jaringan selang yang panjang sekaligus tenaga personel yang cukup besar.

Lahan Semi Gambut Membuat Api Sulit Dikendalikan

Karakteristik lahan menjadi faktor penting dalam proses pemadaman. Tim menemukan area terbakar memiliki lapisan gambut dengan kedalaman sekitar satu meter.

Pada kondisi seperti ini, api tidak selalu terlihat dari permukaan. Bara dapat bergerak melalui material organik di bawah tanah dan kembali muncul sebagai asap atau titik api baru.

Karena itu, petugas tidak hanya menyemprot bagian lahan yang terlihat terbakar.

Tim juga menyisir area sekitar untuk mencari tunggul, akar, dan bagian lahan yang masih mengeluarkan asap.

Langkah tersebut penting untuk mencegah munculnya kembali api setelah petugas meninggalkan lokasi.

Dengan kata lain, proses fire suppression di lahan gambut membutuhkan pendekatan berbeda dibandingkan kebakaran lahan biasa.

Petugas harus memastikan titik panas benar-benar kehilangan sumber bara sebelum melakukan pendinginan akhir.

Baca Juga :  Karhutla Tebo Kembali Terjadi, 1 Hektare Lahan Belakang Kampus UI Dilalap Api

Tim Gabungan Sisir Area yang Masih Mengeluarkan Asap

Memasuki hari ketiga penanganan, tim gabungan terus menyisir sisi kiri dan kanan area perkebunan.

Petugas mencari titik yang masih menghasilkan asap sekaligus memeriksa tunggul pohon yang berpotensi menyimpan bara.

Sandy menjelaskan bahwa tim harus bergerak secara sistematis karena kondisi lapangan cukup sulit.

Api yang terlihat di permukaan memang dapat petugas padamkan lebih cepat. Namun, bara di bawah permukaan membutuhkan waktu lebih lama untuk mereka temukan dan dinginkan.

Situasi tersebut membuat operasi wildfire suppression berjalan lebih lama.

Petugas juga harus mempertimbangkan keselamatan personel karena sejumlah pohon pinang mengalami kerusakan akibat kebakaran.

Puluhan Selang Dikerahkan untuk Menjangkau Titik Api

Untuk memperkuat operasi pemadaman, tim mengerahkan sejumlah peralatan.

Setidaknya terdapat tiga unit ministrike dan dua mesin robin yang mendukung penyemprotan air.

Selain itu, petugas membawa 35 roll selang dengan panjang masing-masing sekitar 30 meter.

Jika seluruh selang tersambung, panjang totalnya mencapai sekitar 1.050 meter.

Peralatan tersebut membantu petugas menjangkau titik-titik kebakaran yang lokasinya cukup jauh dari sumber air.

Namun, panjang selang tidak otomatis menyelesaikan persoalan.

Debit air dari kanal tetap menjadi faktor utama. Dengan kedalaman air yang hanya sekitar 30 sentimeter, petugas harus mengatur pengambilan air agar mesin tetap dapat bekerja.

Estimasi Luas Kebakaran Mencapai 2,5 Hektare

Berdasarkan informasi sementara dari masyarakat yang ikut membantu tim, area terdampak kebakaran mencapai sekitar 2,5 hektare.

Angka tersebut masih berupa estimasi awal.

Sandy menegaskan bahwa penghitungan luas secara akurat membutuhkan analisis menggunakan citra satelit.

“Luasan estimasi kurang lebih 2,5 hektare. Secara akurat luasan nanti akan dihitung menggunakan analisis citra satelit oleh Kemenhut,” jelasnya.

Penggunaan satellite imagery menjadi penting karena petugas dapat memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh mengenai area terdampak.

Metode tersebut juga dapat membantu membandingkan perubahan tutupan lahan sebelum dan setelah kebakaran.

Pohon Pinang Tumbang Mengancam Keselamatan Petugas

Selain api dan keterbatasan air, tim pemadam juga menghadapi risiko keselamatan dari pohon yang terbakar.

Sejumlah batang pohon pinang mengalami kerusakan dan tumbang akibat paparan api.

Kondisi tersebut membuat petugas harus meningkatkan kewaspadaan ketika menyisir kawasan.

Pohon yang tampak masih berdiri belum tentu memiliki struktur yang kuat. Bagian batang yang terbakar dapat kehilangan kekuatan dan roboh sewaktu-waktu.

Karena itu, personel tidak bisa sembarangan mendekati area dengan pohon yang telah terbakar.

Keselamatan petugas menjadi prioritas dalam setiap tahapan operasi.

Mengapa Kebakaran Lahan Gambut Sulit Dipadamkan?

Kebakaran pada lahan yang mengandung gambut memiliki karakter khusus.

Material gambut terbentuk dari akumulasi bahan organik. Ketika kondisi lahan mengering, material tersebut dapat menjadi bahan bakar yang mudah terbakar.

Api juga dapat menjalar di bawah permukaan.

Akibatnya, pemadaman tidak cukup hanya dengan mengatasi api yang terlihat.

Petugas harus melakukan ground fire suppression, yakni mencari dan mendinginkan titik panas yang berada di dalam atau di bawah permukaan tanah.

Kondisi tersebut menjelaskan mengapa asap masih dapat muncul meskipun api besar sudah tidak terlihat.

Karena itu, proses pemadaman harus berlanjut sampai tim memastikan titik panas tidak lagi aktif.

Krisis Sumber Air Perlu Menjadi Perhatian

Kebakaran di Muntialo kembali menunjukkan pentingnya kesiapan sumber air ketika menghadapi kebakaran lahan.

Ketersediaan mesin pemadam memang penting. Namun, mesin tidak dapat bekerja maksimal tanpa pasokan air yang memadai.

Dalam kasus ini, kanal sebenarnya tersedia di sekitar lokasi. Akan tetapi, kedalamannya yang hanya sekitar 30 sentimeter membuat petugas menghadapi tantangan tersendiri.

Jarak 200 hingga 300 meter menuju titik api juga meningkatkan kebutuhan terhadap selang dan tenaga operasional.

Situasi tersebut menjadi semakin kompleks ketika petugas harus memadamkan bara yang berada di lahan semi gambut.

Upaya Pencegahan Kebakaran Perlu Diperkuat

Selain penanganan ketika kebakaran terjadi, upaya pencegahan juga memegang peranan penting.

Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan perkebunan perlu meningkatkan pengawasan ketika kondisi lahan mulai kering.

Pemilik lahan juga perlu memperhatikan keberadaan kanal, embung, atau sumber air lain yang dapat mendukung penanganan keadaan darurat.

Pembersihan jalur akses menuju perkebunan juga penting agar kendaraan dan peralatan pemadam dapat bergerak lebih cepat.

Selanjutnya, masyarakat perlu segera melaporkan kemunculan asap atau titik api.

Semakin cepat informasi diterima petugas, semakin besar peluang tim mengendalikan api sebelum wilayah terbakar semakin luas.

Kebakaran Lahan Menjadi Ancaman bagi Lingkungan dan Ekonomi

Kebakaran perkebunan tidak hanya berdampak pada tanaman yang terbakar.

Asap dapat mengganggu aktivitas masyarakat di sekitar lokasi. Dalam kondisi tertentu, kualitas udara juga dapat menurun.

Dari sisi ekonomi, kebakaran dapat mengakibatkan kerugian bagi pemilik perkebunan karena tanaman produktif mengalami kerusakan.

Jika api menjalar ke area yang lebih luas, biaya penanganan juga dapat meningkat.

Karena itu, pengendalian kebakaran sejak tahap awal memiliki nilai penting, baik untuk perlindungan lingkungan maupun keberlangsungan ekonomi masyarakat.

Baca Juga :  Karhutla Mulai Jadi Ancaman, BPBD Kerinci Minta Warga Hentikan Kebiasaan Bakar Lahan

Pemadaman Masih Berlangsung

Hingga Sabtu (22/8/2026), tim gabungan masih melakukan penanganan di lokasi kebakaran Desa Muntialo.

Petugas terus menyisir area yang mengeluarkan asap dan memeriksa titik-titik yang berpotensi menyimpan bara.

Keterbatasan sumber air, kondisi semi gambut, jarak titik api, serta pohon pinang yang tumbang menjadi sejumlah tantangan utama.

Sementara itu, luas kebakaran sekitar 2,5 hektare masih menunggu penghitungan lebih akurat melalui analisis citra satelit.

Dengan kondisi lahan yang masih menyimpan potensi titik panas, petugas perlu memastikan seluruh area benar-benar aman sebelum operasi pemadaman dinyatakan selesai.(*)

Berita Terkait

Clean Water Service Terganggu di Sungai Penuh, Ini Wilayah Terdampak dan Jadwal Perbaikannya
Kabut Asap Jambi Makin Tebal, 2 Pesawat dari Jakarta Gagal Mendarat dan Dialihkan
Kabut Asap Sungai Penuh Makin Mengkhawatirkan, Wali Kota Alfin Imbau Warga Pakai Masker
Harga Cabai Keriting di Kerinci dan Sungai Penuh Hari Ini: Cabai Hijau Justru Lebih Mahal, Tembus Rp35 Ribu per Kg
Sekda Alpian Hadir di Jambi Elok Nian Bungo, Ada Pesan Penting soal Budaya Melayu
Wali Kota Jambi Siapkan Jam Malam, Patroli Geng Motor Diperketat di Titik Rawan
PPPK Paruh Waktu Bisa Jadi Penuh Waktu? Ini Penjelasan BKPSDM Bagi 1.521 PPPK Paruh Waktu Sungai Penuh
Harga Sawit Jambi Turun Lagi Jadi Rp3.866 per Kg, Cek Harga TBS dan Prediksi Petani Seminggu Kedepan
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 24 Agustus 2026 - 08:56 WIB

Clean Water Service Terganggu di Sungai Penuh, Ini Wilayah Terdampak dan Jadwal Perbaikannya

Minggu, 23 Agustus 2026 - 18:53 WIB

Kabut Asap Jambi Makin Tebal, 2 Pesawat dari Jakarta Gagal Mendarat dan Dialihkan

Minggu, 23 Agustus 2026 - 18:01 WIB

Kabut Asap Sungai Penuh Makin Mengkhawatirkan, Wali Kota Alfin Imbau Warga Pakai Masker

Minggu, 23 Agustus 2026 - 10:01 WIB

Harga Cabai Keriting di Kerinci dan Sungai Penuh Hari Ini: Cabai Hijau Justru Lebih Mahal, Tembus Rp35 Ribu per Kg

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 19:00 WIB

Sekda Alpian Hadir di Jambi Elok Nian Bungo, Ada Pesan Penting soal Budaya Melayu

Berita Terbaru