649 Hotspot Terdeteksi di Tanjung Jabung Barat, Ratusan Titik Diduga Api Aktif: BPBD Ungkap Wilayah Rawan Karhutla

- Jurnalis

Rabu, 19 Agustus 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

TANJABBAR,JS- Ancaman kebakaran hutan dan lahan atau karhutla kembali menjadi perhatian di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tanjung Jabung Barat mencatat 649 titik panas atau hotspot yang tersebar di sejumlah kecamatan pada Rabu, 19 Agustus 2026.

Data tersebut menunjukkan bahwa aktivitas titik panas masih cukup tinggi di wilayah pesisir dan kawasan yang memiliki potensi kebakaran lahan. Kondisi ini perlu mendapat perhatian serius karena kebakaran lahan dapat menimbulkan dampak berantai, mulai dari gangguan kualitas udara, kerusakan lingkungan, hingga risiko terhadap aktivitas masyarakat dan sektor pertanian.

BPBD Tanjung Jabung Barat terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan hotspot, terutama pada wilayah yang memiliki riwayat kebakaran maupun kawasan yang berdekatan dengan lahan perkebunan, hutan, serta area operasional minyak dan gas.

649 Hotspot Tersebar di Sejumlah Kecamatan

Berdasarkan data pemantauan BPBD Tanjung Jabung Barat, titik panas muncul di sejumlah kecamatan dengan jumlah yang berbeda-beda.

Kecamatan Betara mencatat jumlah hotspot paling tinggi dengan 297 titik. Selanjutnya, Kecamatan Bram Itam memiliki 165 titik, sedangkan Kecamatan Batang Asam mencatat 132 titik panas.

Sementara itu, Kecamatan Renah Mendaluh memiliki 32 titik, Muara Papalik sembilan titik, Senyerang enam titik, dan Merlung dua titik.

Adapun Kecamatan Kuala Betara, Tungkal Ilir, serta Pengabuan masing-masing mencatat satu titik panas.

Jika seluruh data tersebut dijumlahkan, BPBD mencatat total 649 hotspot dalam pemantauan pada Rabu, 19 Agustus 2026.

Tingginya jumlah titik panas tersebut membuat pemerintah daerah perlu terus memperkuat sistem early warning system, pemantauan satelit, patroli lapangan, serta koordinasi antarlembaga dalam menghadapi risiko wildfire dan forest fire.

Baca Juga :  Musim Kemarau Memuncak, 8 Kabupaten Jambi Waspadai Karhutla dan Kabut Asap

Batang Asam Catat 132 Titik, Mayoritas Terindikasi Api

Koordinator Pusat Informasi BPBD Tanjung Jabung Barat, Syaiful Anwar, menjelaskan bahwa petugas memperoleh data hotspot melalui pemantauan sejumlah satelit.

BPBD menggunakan informasi dari satelit Terra, Aqua, SNPP, dan NOAA yang menjadi bagian dari sistem pemantauan yang berkaitan dengan data meteorologi dan kondisi permukaan bumi.

Syaiful memberikan perhatian khusus terhadap kondisi di Kecamatan Batang Asam. Dari 132 titik panas yang muncul di wilayah tersebut, sebagian besar menunjukkan indikasi adanya api.

“Batang Asam itu ada 132 titik itu hampir 90 persen memang terpantau positif api,” kata Syaiful.

Informasi tersebut menunjukkan bahwa angka hotspot tidak semata-mata menjadi angka statistik. Petugas tetap perlu melakukan verifikasi lapangan untuk mengetahui kondisi sebenarnya, lokasi api, luas area terdampak, serta potensi penyebaran kebakaran.

Pasalnya, sistem satelit mendeteksi anomali panas pada permukaan bumi. Karena itu, petugas membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan apakah titik tersebut benar-benar berasal dari kebakaran lahan atau aktivitas lain yang menghasilkan panas.

Betara Menjadi Wilayah dengan Hotspot Terbanyak

Kecamatan Betara menjadi wilayah dengan jumlah hotspot tertinggi dalam laporan BPBD Tanjung Jabung Barat.

BPBD mencatat sebanyak 297 titik panas di Kecamatan Betara. Jumlah tersebut mencapai hampir separuh dari total hotspot yang tercatat pada hari tersebut.

Menurut BPBD, sebagian titik panas berada di kawasan yang berkaitan dengan aktivitas sumur minyak dan gas. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu petugas perhatikan ketika melakukan interpretasi terhadap data satelit.

Karena itu, masyarakat perlu memahami bahwa angka hotspot tidak selalu identik dengan jumlah titik kebakaran yang terjadi di permukiman atau kawasan perkebunan.

Petugas tetap harus melihat karakteristik wilayah, sumber panas, kondisi cuaca, serta hasil pemeriksaan lapangan sebelum mengambil kesimpulan mengenai penyebab dan skala kebakaran.

Data Satelit Membantu Deteksi Dini Karhutla

Pemanfaatan teknologi satelit memiliki peran penting dalam penanganan bencana kebakaran hutan dan lahan.

Melalui pemantauan hotspot, pemerintah dapat memperoleh gambaran awal mengenai wilayah yang mengalami anomali suhu. Informasi tersebut kemudian dapat membantu petugas menentukan lokasi yang membutuhkan pemeriksaan atau penanganan lebih lanjut.

Dalam konteks disaster management, kecepatan memperoleh informasi menjadi salah satu faktor penting. Semakin cepat petugas mengetahui indikasi kebakaran, semakin cepat pula mereka dapat melakukan verifikasi dan menentukan langkah penanganan.

Namun, masyarakat juga perlu memahami bahwa satellite monitoring bukan pengganti pemeriksaan langsung di lapangan. Petugas tetap membutuhkan validasi untuk memastikan kondisi aktual di lokasi.

Data tersebut juga dapat membantu pemerintah memetakan wilayah rawan kebakaran sehingga langkah pencegahan bisa dilakukan sebelum api berkembang menjadi lebih besar.

Baca Juga :  Karhutla 2026 Mengancam! Muaro Jambi Siaga, Lahan Gambut Jadi Bom Waktu

Bupati Ingatkan Masyarakat Tidak Membakar Lahan

Di tengah meningkatnya pemantauan hotspot, Bupati Tanjung Jabung Barat Anwar Sadat meminta masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar.

Imbauan tersebut terutama menyasar petani dan pekebun yang melakukan aktivitas pembukaan atau pembersihan lahan.

Menurut Anwar Sadat, pemerintah daerah bersama Satgas Karhutla masih mampu menangani kebakaran hutan dan lahan yang muncul beberapa hari sebelumnya.

Namun, upaya pemadaman saja tidak cukup. Pemerintah juga membutuhkan dukungan masyarakat untuk mencegah munculnya sumber api baru.

“Jangan melakukan pembakaran di lahan atau pembukaan lahan dengan cara membakar,” ujar Anwar Sadat.

Ia juga membuka ruang bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan dalam proses pembukaan lahan.

Pemerintah daerah, kata dia, telah membantu petani melalui peminjaman alat berat berupa ekskavator. Bantuan tersebut bertujuan mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap metode pembukaan lahan dengan cara membakar.

Pemerintah Siapkan Alternatif Pembukaan Lahan

Pembukaan lahan menggunakan api memang dapat membantu membersihkan vegetasi dengan cepat. Namun, metode tersebut membawa risiko ketika masyarakat tidak mampu mengendalikan api.

Api dapat menyebar akibat kondisi angin, vegetasi kering, kelembapan rendah, maupun kondisi cuaca yang mendukung kebakaran.

Karena itu, pemerintah mendorong masyarakat menggunakan metode yang lebih aman.

Peminjaman ekskavator menjadi salah satu alternatif yang pemerintah tawarkan. Dengan bantuan alat tersebut, petani dapat membersihkan lahan tanpa menyalakan api.

Anwar Sadat bahkan meminta masyarakat yang membutuhkan bantuan agar menyampaikan permohonan secara resmi kepada pemerintah daerah atau dinas terkait.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa pencegahan wildfire risk membutuhkan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat.

Karhutla Bisa Berdampak pada Kualitas Udara

Kebakaran hutan dan lahan tidak hanya mengancam vegetasi. Asap dari pembakaran juga dapat menurunkan kualitas udara dan mengganggu aktivitas masyarakat.

Ketika kebakaran meluas, partikel asap dapat terbawa angin menuju wilayah lain. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu jarak pandang dan meningkatkan paparan polutan udara.

Dampaknya juga dapat meluas ke sektor transportasi, pendidikan, aktivitas ekonomi, pertanian, hingga kesehatan masyarakat.

Selain itu, kebakaran lahan dapat menghasilkan carbon emissions yang berkontribusi terhadap persoalan lingkungan dan perubahan iklim.

Karena itu, pengendalian karhutla tidak hanya menjadi persoalan daerah. Pencegahan kebakaran juga menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas lingkungan dan mengurangi risiko emisi akibat kebakaran vegetasi.

Masyarakat Diminta Tidak Menyepelekan Titik Api

Masyarakat yang melihat asap atau api di sekitar lahan perlu segera melaporkan kondisi tersebut kepada aparat atau petugas terkait.

Respons cepat sangat penting karena api kecil dapat berkembang menjadi kebakaran yang lebih sulit dikendalikan.

Masyarakat juga perlu menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran, terutama ketika kondisi lahan kering.

Petani dan pekebun sebaiknya mengikuti arahan pemerintah terkait metode pembukaan lahan. Jika membutuhkan bantuan alat, masyarakat dapat berkoordinasi dengan pemerintah daerah atau instansi teknis.

Dengan cara tersebut, masyarakat tetap dapat menjalankan kegiatan pertanian tanpa meningkatkan risiko kebakaran.

Peta Sebaran 649 Hotspot Tanjung Jabung Barat

Berikut rincian hotspot yang BPBD Tanjung Jabung Barat catat pada Rabu, 19 Agustus 2026:

Kecamatan- Jumlah Hotspot

  • Betara- 297 titik
  • Bram Itam- 165 titik
  • Batang Asam- 132 titik
  • Renah Mendaluh- 32 titik
  • Muara Papalik- 9 titik
  • Senyerang- 6 titik
  • Merlung- 2 titik
  • Kuala Betara- 1 titik
  • Tungkal Ilir- 1 titik
  • Pengabuan- 1 titik

Total- 649 titik

Data tersebut memperlihatkan konsentrasi hotspot yang cukup tinggi pada beberapa kecamatan. Betara, Bram Itam, dan Batang Asam menyumbang sebagian besar titik panas dalam laporan BPBD.

Kondisi itu membuat pengawasan terhadap kawasan tersebut menjadi penting, terutama ketika petugas menemukan indikasi api aktif.(*)

Berita Terkait

Wako Alfin dan Bupati Kerinci Ikuti Penanaman Bawang Putih Serentak Nasional, Jambi Targetkan 110 Hektare
Pemkot Sungai Penuh Raih Predikat Istimewa IRH 2026, Komitmen Reformasi Hukum dan Tata Kelola Makin Kuat
Empat Hari Air PDAM Tak Mengalir, Warga Simpang Raya Sungai Penuh Keluhkan Krisis Air Bersih
Sri Kartini Alfin : TP-PKK Sungai Penuh Dorong Perempuan Jadi Penggerak Ekonomi Keluarga, Ini Programnya
Harga Emas Perhiasan Hari Ini Rabu 19 Agustus 2026: Cek Harganya Disini
Cegah Rabies Menyebar, Pemkot Sungai Penuh Gerak Cepat Vaksinasi Anjing dan Kucing
Rotasi Besar Kejati Jambi! Mia Banulita Jadi Wakajati, Ini Pejabat yang Dilantik Sugeng Hariadi
Rektor IAIN Kerinci Jafar Ahmad Ajak Sivitas Akademika Jadikan Kemerdekaan sebagai Energi untuk Membangun Kampus
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 19 Agustus 2026 - 14:31 WIB

Wako Alfin dan Bupati Kerinci Ikuti Penanaman Bawang Putih Serentak Nasional, Jambi Targetkan 110 Hektare

Rabu, 19 Agustus 2026 - 14:01 WIB

649 Hotspot Terdeteksi di Tanjung Jabung Barat, Ratusan Titik Diduga Api Aktif: BPBD Ungkap Wilayah Rawan Karhutla

Rabu, 19 Agustus 2026 - 13:01 WIB

Pemkot Sungai Penuh Raih Predikat Istimewa IRH 2026, Komitmen Reformasi Hukum dan Tata Kelola Makin Kuat

Rabu, 19 Agustus 2026 - 09:33 WIB

Sri Kartini Alfin : TP-PKK Sungai Penuh Dorong Perempuan Jadi Penggerak Ekonomi Keluarga, Ini Programnya

Rabu, 19 Agustus 2026 - 09:02 WIB

Harga Emas Perhiasan Hari Ini Rabu 19 Agustus 2026: Cek Harganya Disini

Berita Terbaru