IHSG Turun 3,28% Sepekan, Asing Jual Saham Rp82,55 Triliun Sepanjang 2026

- Jurnalis

Sabtu, 3 Oktober 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

BISNIS,JS- Pasar saham Indonesia mengawali Oktober 2026 dengan tekanan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kehilangan 3,28 persen selama perdagangan 28 September hingga 2 Oktober 2026. Pada akhir pekan, indeks utama Bursa Efek Indonesia (BEI) itu bertengger di level 6.036,888, turun dari posisi 6.241,892 pada pekan sebelumnya.

Penurunan tersebut berjalan seiring dengan arus keluar dana investor asing yang masih membayangi pasar modal domestik. Sepanjang 2026 hingga 2 Oktober, investor asing mencatatkan jual bersih atau net foreign sell sebesar Rp82,55 triliun di pasar saham Indonesia.

Angka tersebut menjadi salah satu indikator penting bagi investor yang ingin memahami arah pergerakan IHSG, kondisi likuiditas bursa, serta risiko investasi saham pada kuartal IV 2026. Meski demikian, arus jual asing tidak serta-merta menunjukkan bahwa seluruh saham Indonesia mengalami penurunan atau kehilangan daya tarik.

Data perdagangan BEI juga memperlihatkan dinamika yang berbeda. Di tengah koreksi indeks, rata-rata volume dan nilai transaksi harian justru meningkat. Kondisi ini menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan masih berlangsung aktif ketika pelaku pasar menghadapi tekanan harga.

IHSG Kehilangan 204 Poin dalam Sepekan

Berdasarkan data perdagangan BEI, IHSG menutup pekan pada level 6.036,888. Posisi itu turun 204,? poin dari penutupan pekan sebelumnya di level 6.241,892.

Secara persentase, penurunan tersebut mencapai 3,28 persen. Koreksi ini memperlihatkan bahwa tekanan jual cukup kuat untuk menyeret indeks utama ke level yang lebih rendah pada awal Oktober.

Pergerakan IHSG penting bagi investor karena indeks tersebut menggambarkan kinerja harga saham secara agregat di Bursa Efek Indonesia. Namun, investor perlu memahami bahwa IHSG tidak mencerminkan kinerja setiap emiten secara seragam.

Saham suatu perusahaan bisa saja menguat ketika indeks melemah. Sebaliknya, saham yang memiliki bobot besar dalam indeks dapat mengalami penurunan dan memberikan tekanan lebih besar terhadap pergerakan IHSG.

Karena itu, investor sebaiknya tidak hanya melihat warna merah pada indeks. Perubahan harga saham individual, kondisi keuangan perusahaan, volume transaksi, dan perkembangan sektor usaha juga perlu masuk dalam pertimbangan.

Net Sell Asing Tembus Rp82,55 Triliun

Arus dana asing menjadi salah satu perhatian utama pasar modal Indonesia pada 2026. Hingga penutupan perdagangan 2 Oktober, investor asing membukukan net sell sebesar Rp82,55 triliun secara kumulatif sepanjang tahun berjalan.

Net sell terjadi ketika nilai penjualan saham oleh investor asing melampaui nilai pembeliannya dalam periode tertentu. Sebaliknya, net buy menunjukkan nilai pembelian yang lebih besar daripada nilai penjualan.

Besarnya jual bersih asing dapat memberikan tekanan tambahan terhadap harga saham, terutama ketika penjualan terkonsentrasi pada saham berkapitalisasi besar dan memiliki bobot tinggi dalam IHSG.

Namun, angka net sell tidak berarti seluruh dana investor asing keluar dari setiap saham di bursa. Investor asing tetap dapat membeli saham tertentu sambil menjual saham lainnya. Pada saat yang sama, investor domestik juga dapat mengambil posisi beli dan menahan sebagian tekanan jual.

Baca Juga :  IHSG Anjlok 1,51 Persen, Ini 3 Saham Pilihan untuk Trading Pekan Ini

Dengan demikian, investor perlu membaca data arus dana asing secara lebih terperinci. Perubahan kepemilikan pada saham tertentu, pergerakan sektor, serta respons investor domestik dapat memberikan gambaran yang lebih lengkap daripada hanya mengandalkan angka kumulatif net sell.

Kapitalisasi Pasar Bursa Turun Rp278 Triliun

Selain indeks, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia juga mengalami penurunan selama pekan perdagangan tersebut.

Kapitalisasi pasar bursa turun 2,55 persen, dari sekitar Rp10.905 triliun pada pekan sebelumnya menjadi Rp10.627 triliun pada akhir pekan 2 Oktober 2026.

Perubahan ini mencerminkan penurunan nilai pasar gabungan saham yang tercatat di bursa. Selisih kedua angka tersebut mencapai sekitar Rp278 triliun.

Meski begitu, investor tidak boleh langsung menyamakan penurunan kapitalisasi pasar dengan jumlah uang tunai yang keluar dari bursa. Kapitalisasi pasar bergantung pada harga saham dan jumlah saham yang tercatat. Ketika harga saham turun, nilai pasar perusahaan juga dapat menyusut tanpa transaksi keluar sebesar perubahan kapitalisasi tersebut.

Perbedaan ini penting agar investor tidak keliru membaca data pasar. Penurunan kapitalisasi pasar menggambarkan perubahan nilai saham, sedangkan net sell asing mengukur selisih aktivitas jual dan beli investor asing.

Kedua indikator itu dapat membantu menjelaskan situasi pasar, tetapi memiliki arti dan metode perhitungan yang berbeda.

Volume Transaksi Naik 72,51 Persen, Apa Artinya?

Di tengah pelemahan IHSG, rata-rata volume transaksi harian saham justru meningkat tajam. BEI mencatat kenaikan 72,51 persen menjadi 50,37 miliar saham per hari, dibandingkan 29,20 miliar saham pada pekan sebelumnya.

Kenaikan volume menunjukkan bahwa jumlah saham yang berpindah tangan selama perdagangan bertambah. Namun, volume yang lebih besar tidak otomatis menandakan pasar sedang menguat.

Dalam situasi koreksi, peningkatan volume dapat muncul ketika investor melepas saham, pembeli masuk untuk menyerap penawaran, atau kedua aktivitas tersebut berlangsung bersamaan.

Oleh sebab itu, investor perlu menggabungkan data volume dengan perubahan harga dan nilai transaksi. Volume tinggi ketika harga melemah dapat menunjukkan aktivitas jual beli yang intensif, tetapi data tersebut saja tidak cukup untuk memastikan kapan indeks akan berbalik arah.

Selain volume, rata-rata nilai transaksi harian juga meningkat 5,40 persen menjadi Rp12,63 triliun. Pada pekan sebelumnya, rata-rata nilai transaksi harian berada di kisaran Rp11,98 triliun.

Peningkatan nilai transaksi memperlihatkan bahwa aktivitas perdagangan berdasarkan nilai rupiah masih berlangsung di tengah koreksi harga saham.

Namun, kenaikan volume yang jauh lebih besar daripada kenaikan nilai transaksi juga perlu mendapat perhatian. Perbedaan tersebut dapat berkaitan dengan perubahan komposisi saham yang aktif diperdagangkan dan harga saham yang berpindah tangan. Investor tetap perlu memeriksa data per saham sebelum menarik kesimpulan.

Frekuensi Transaksi Harian Justru Menurun

Tidak semua indikator aktivitas perdagangan mengalami kenaikan. Rata-rata frekuensi transaksi harian BEI turun 7,54 persen menjadi 1,68 juta kali transaksi, dari sebelumnya 1,82 juta kali transaksi.

Frekuensi transaksi menunjukkan jumlah kejadian jual beli yang tercatat selama perdagangan. Indikator ini berbeda dari volume, yang menghitung jumlah saham yang berpindah tangan, dan nilai transaksi, yang menghitung total nilai rupiahnya.

Perbedaan arah antara volume, nilai, dan frekuensi transaksi menunjukkan bahwa investor perlu membaca data perdagangan secara bersamaan.

Volume yang meningkat tidak selalu berarti jumlah transaksi ikut bertambah. Sebagian transaksi dapat melibatkan jumlah saham yang lebih besar. Akan tetapi, tanpa rincian transaksi pada masing-masing saham, investor tidak dapat memastikan penyebab utama perubahan tersebut.

Karena itu, data agregat bursa sebaiknya menjadi titik awal analisis, bukan satu-satunya dasar untuk membeli atau menjual saham.

Saham Unggulan Juga Mengalami Tekanan

Pelemahan IHSG pada pekan tersebut juga terlihat pada sejumlah indeks saham lainnya.

Indeks LQ45 turun 4,13 persen, dari 618,976 menjadi 587,943. Indeks ini mencakup saham-saham dengan karakteristik tertentu, termasuk likuiditas dan kapitalisasi pasar yang menjadi pertimbangan dalam pemilihannya.

Sementara itu, IDX30 melemah 3,90 persen dan IDX80 terkoreksi 4,48 persen. Indeks IDX BUMN20 juga turun 3,11 persen.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan pasar tidak hanya muncul pada IHSG. Sejumlah indeks yang mewakili kelompok saham tertentu juga mencatatkan penurunan selama periode yang sama.

Meski demikian, kinerja indeks tidak dapat menggambarkan kondisi seluruh saham di dalamnya secara merata. Setiap emiten memiliki kondisi keuangan, prospek bisnis, struktur utang, dan tingkat likuiditas yang berbeda.

Investor yang ingin mengevaluasi portofolio perlu memeriksa kinerja saham yang dimiliki, bukan hanya membandingkannya dengan penurunan indeks utama.

Baca Juga :  BEI Ubah Batas Harga Saham Jadi Rp1 Mulai 28 September 2026, Ini 46 Saham Gocap yang Terimbas

BEI Menyesuaikan Sejumlah Aturan Perdagangan

Selain menghadapi dinamika harga, pasar modal Indonesia juga memasuki periode penyesuaian kebijakan perdagangan.

Salah satu perubahan yang menjadi perhatian adalah penyesuaian batas harga minimum saham dan DINFRA dari Rp50 menjadi Rp1. Kebijakan ini membuka ruang perdagangan pada rentang harga yang lebih rendah, sesuai ketentuan dan mekanisme yang berlaku.

Namun, harga nominal saham yang rendah tidak otomatis menjadikan suatu saham murah secara fundamental. Investor tetap perlu menilai kapitalisasi pasar, jumlah saham beredar, kinerja keuangan, prospek usaha, dan risiko likuiditas emiten.

BEI juga melakukan penyesuaian terhadap sejumlah kriteria Papan Pemantauan Khusus. Perubahan tersebut menyentuh kriteria yang berkaitan dengan fundamental perusahaan, termasuk laporan keuangan dan pendapatan, serta aspek harga dan likuiditas.

Selain itu, bursa menyiapkan mekanisme perdagangan terkait Non-Cancellation Period dalam Full Call Auction. Mekanisme tersebut berkaitan dengan proses pembentukan harga pada sesi lelang berkala dan pembatasan pembatalan pesanan pada periode tertentu.

Investor perlu memahami aturan yang berlaku sebelum melakukan transaksi, terutama pada saham yang masuk Papan Pemantauan Khusus. Mekanisme perdagangan yang berbeda dapat memengaruhi proses pencocokan pesanan dan cara harga terbentuk.

Perubahan regulasi juga tidak menjamin harga saham akan naik. Kinerja emiten dan kondisi pasar tetap memengaruhi keputusan pelaku pasar.

Rencana Short Selling Perlu Dipahami Investor

Perkembangan lain yang menjadi perhatian pasar adalah penerapan transaksi short selling dan intraday short selling atau IDSS sesuai jadwal serta ketentuan BEI.

Secara umum, short selling merupakan transaksi ketika investor menjual efek yang dipinjam dengan harapan dapat membelinya kembali pada harga yang lebih rendah. Strategi ini memiliki risiko tersendiri karena harga saham dapat bergerak berlawanan dengan perkiraan investor.

Sementara itu, IDSS mengacu pada transaksi jual yang kemudian ditutup kembali dalam hari perdagangan yang sama sesuai aturan yang berlaku.

Mekanisme tersebut berbeda dari investasi saham konvensional yang mengandalkan pembelian saham dan potensi keuntungan ketika harga meningkat atau perusahaan membagikan dividen.

Investor ritel perlu memahami persyaratan, mekanisme, biaya, serta risiko transaksi sebelum menggunakan fasilitas perdagangan semacam ini. Jangan mengambil keputusan hanya karena melihat strategi yang digunakan pelaku pasar lain.

Informasi mengenai tanggal penerapan, saham yang memenuhi syarat, dan anggota bursa yang memiliki izin juga perlu mengacu pada pengumuman resmi BEI terbaru.

Apa yang Perlu Diperhatikan Investor pada Oktober 2026?

Pelemahan IHSG dan besarnya net sell asing membuat investor perlu meningkatkan kedisiplinan dalam mengelola risiko. Namun, kondisi tersebut tidak otomatis berarti semua investor harus menjual saham atau menghentikan investasi.

Langkah pertama adalah mengevaluasi tujuan investasi dan jangka waktu kepemilikan. Investor jangka pendek biasanya lebih sensitif terhadap perubahan harga dan likuiditas. Sementara itu, investor jangka panjang perlu menilai apakah prospek bisnis dan kondisi fundamental perusahaan masih sesuai dengan alasan awal pembelian.

Kedua, periksa laporan keuangan emiten. Pendapatan, laba bersih, arus kas operasi, utang, dan kemampuan perusahaan memenuhi kewajibannya dapat membantu menilai kondisi bisnis. Harga saham yang turun belum tentu mencerminkan peluang apabila fundamental perusahaan terus memburuk.

Ketiga, perhatikan likuiditas saham. Saham dengan transaksi tipis dapat mengalami perubahan harga yang tajam ketika muncul pesanan beli atau jual dalam jumlah besar. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko ketika investor ingin keluar dari posisi.

Keempat, hindari penggunaan dana kebutuhan sehari-hari untuk mengejar peluang di pasar saham. Investasi memiliki risiko kehilangan sebagian modal, sehingga keputusan perlu disesuaikan dengan kemampuan keuangan dan toleransi risiko masing-masing.

Terakhir, gunakan data resmi sebagai rujukan. Informasi dari BEI, laporan keuangan emiten, keterbukaan informasi, dan pengumuman perusahaan dapat membantu investor memisahkan fakta dari spekulasi.

Prospek IHSG Masih Memerlukan Pemantauan

Pergerakan IHSG pada pekan pertama Oktober memberikan gambaran tentang tantangan yang dihadapi pasar saham Indonesia. Indeks melemah 3,28 persen, kapitalisasi pasar turun, dan investor asing masih mencatatkan jual bersih secara kumulatif sepanjang tahun.

Di sisi lain, volume dan nilai transaksi harian meningkat. Data tersebut menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan tetap berjalan meskipun indeks mengalami tekanan.

Arah pasar berikutnya akan bergantung pada berbagai faktor, termasuk perkembangan ekonomi, kinerja perusahaan, sentimen global, kondisi likuiditas, dan perilaku investor domestik maupun asing. Data satu pekan saja belum cukup untuk memastikan apakah koreksi akan berlanjut atau indeks akan kembali menguat.

Karena itu, investor sebaiknya tidak mengambil keputusan berdasarkan satu indikator. Periksa perubahan IHSG, arus dana asing, pergerakan saham individual, serta informasi fundamental sebelum menentukan langkah investasi.

Kesimpulannya, pelemahan IHSG dan net sell asing Rp82,55 triliun menjadi pengingat bahwa investasi saham mengandung risiko. Investor perlu mengutamakan analisis, pengelolaan modal, dan pemahaman terhadap karakteristik setiap saham daripada mengikuti kepanikan pasar atau mengejar keuntungan dalam waktu singkat.

Catatan: Artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham tertentu.(*)

Berita Terkait

BRI Raih Penghargaan Bank UMKM Terbaik 2027, Ini Program untuk Petani dan Pengusaha Desa
Kurs Dolar AS Hari Ini 2 Oktober 2026: Cek Harga Jual dan Beli di BCA, Mandiri, BRI, dan BNI
Ingin jadi Nasabah BCA Prioritas 2026: Ini Syarat, Cara Dapat Undangan dan Keuntungannya
Bank Digital Makin Populer, Transaksi Digital Indonesia Capai 5,50 Miliar
MotoGP Indonesia 2026 Segera Digelar, BRI Dorong Ekonomi Digital dan Peluang UMKM
Terbaru! KUR BRI Rp20 Juta September 2026: Cicilan Mulai Rp396 Ribu, Cek Simulasi Lengkap dan Syarat Pinjaman BRI
IHSG Hari Ini Diprediksi Melemah, Investor Wajib Cermati Level 6.000 dan 6.200
BI Rate Diprediksi Naik Lagi Akhir 2026, Rupiah Jadi Perhatian dan Dampaknya ke Bunga Bank
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 11:01 WIB

IHSG Turun 3,28% Sepekan, Asing Jual Saham Rp82,55 Triliun Sepanjang 2026

Jumat, 2 Oktober 2026 - 15:59 WIB

BRI Raih Penghargaan Bank UMKM Terbaik 2027, Ini Program untuk Petani dan Pengusaha Desa

Jumat, 2 Oktober 2026 - 10:15 WIB

Kurs Dolar AS Hari Ini 2 Oktober 2026: Cek Harga Jual dan Beli di BCA, Mandiri, BRI, dan BNI

Kamis, 1 Oktober 2026 - 16:01 WIB

Ingin jadi Nasabah BCA Prioritas 2026: Ini Syarat, Cara Dapat Undangan dan Keuntungannya

Rabu, 30 September 2026 - 21:45 WIB

Bank Digital Makin Populer, Transaksi Digital Indonesia Capai 5,50 Miliar

Berita Terbaru