BEI Catat 6 Calon Emiten Baru, 3 Sektor Ini Siap Ramaikan Pasar Saham

- Jurnalis

Minggu, 27 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

BISNIS,JS- Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali mencatat adanya perusahaan yang tengah menyiapkan langkah menuju pasar modal. Hingga 25 September 2026, sebanyak enam perusahaan masuk dalam pipeline atau antrean pencatatan saham melalui mekanisme initial public offering (IPO).

Kehadiran enam calon emiten tersebut menambah daftar perusahaan yang bersiap menghimpun dana dari pasar modal Indonesia. Menariknya, keenam perusahaan itu memiliki ukuran aset yang berbeda. BEI mencatat dua perusahaan masuk kategori aset kecil, dua perusahaan berada pada kelompok aset menengah, sedangkan dua lainnya memiliki aset di atas Rp250 miliar.

Data tersebut menunjukkan bahwa akses menuju pasar modal tidak hanya berasal dari perusahaan berskala besar. Perusahaan dengan aset relatif lebih kecil juga dapat memanfaatkan pasar modal sebagai salah satu alternatif sumber pendanaan untuk mengembangkan usaha.

Berdasarkan data BEI, pipeline IPO tersebut juga memperlihatkan komposisi sektor yang cukup beragam. Dari enam perusahaan, dua bergerak di sektor energi, tiga berasal dari sektor healthcare atau kesehatan, dan satu lainnya berasal dari sektor industrials.

Enam Perusahaan Masuk Pipeline IPO BEI

Pipeline IPO menjadi salah satu indikator yang dapat menggambarkan aktivitas perusahaan dalam mempersiapkan aksi korporasi di pasar modal.

Namun, masuk dalam pipeline tidak otomatis berarti perusahaan tersebut sudah resmi menjadi emiten atau sahamnya sudah dapat diperdagangkan di BEI. Calon perusahaan publik masih harus menjalani berbagai tahapan sesuai ketentuan pasar modal.

Karena itu, calon investor perlu membedakan antara perusahaan yang baru masuk pipeline dengan perusahaan yang sudah memperoleh pernyataan efektif dan melaksanakan penawaran umum.

BEI mencatat enam perusahaan masih berada dalam antrean pencatatan saham per 25 September 2026. Data tersebut mencakup perusahaan dengan berbagai skala aset dan sektor bisnis.

Komposisi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pasar modal Indonesia terus menyediakan ruang bagi perusahaan dari berbagai bidang usaha.

Dua Perusahaan Memiliki Aset di Bawah Rp50 Miliar

Dari sisi ukuran aset, dua perusahaan yang masuk pipeline IPO memiliki aset di bawah Rp50 miliar.

Kategori ini menunjukkan bahwa perusahaan dengan skala aset relatif kecil juga dapat mempertimbangkan pasar modal sebagai alternatif memperoleh pendanaan.

Baca Juga :  BEI Tetapkan 3 Green Equity, Ada Saham yang Naik 12% dalam Sehari

Bagi perusahaan yang sedang bertumbuh, IPO dapat membuka peluang untuk memperoleh tambahan modal guna memperbesar kapasitas usaha, memperluas jaringan bisnis, meningkatkan teknologi, maupun mendukung kebutuhan modal kerja.

Meski demikian, ukuran aset saja tidak cukup untuk menggambarkan kualitas sebuah perusahaan.

Investor tetap perlu melihat kondisi fundamental secara menyeluruh. Faktor seperti pendapatan, laba, arus kas, utang, model bisnis, tata kelola, penggunaan dana hasil IPO, serta risiko industri menjadi bagian penting dalam analisis.

Dengan demikian, calon investor tidak seharusnya mengambil keputusan hanya berdasarkan ukuran perusahaan atau besarnya dana yang akan dihimpun.

Dua Calon Emiten Beraset Rp50 Miliar hingga Rp250 Miliar

Selain perusahaan dengan aset di bawah Rp50 miliar, BEI mencatat dua calon emiten memiliki aset pada kisaran Rp50 miliar sampai Rp250 miliar.

Kategori ini berada pada kelompok perusahaan dengan skala aset menengah.

Kehadiran perusahaan skala menengah dalam pipeline IPO menjadi bagian penting dari perkembangan pasar modal. Pasalnya, pasar saham tidak hanya menjadi tempat bagi perusahaan raksasa untuk mendapatkan modal.

OJK sendiri memiliki ketentuan khusus mengenai emiten dengan aset skala kecil dan menengah melalui POJK Nomor 53/POJK.04/2017. Regulasi tersebut mengatur pernyataan pendaftaran dalam rangka penawaran umum dan penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu bagi emiten dengan aset skala kecil atau menengah.

Aturan tersebut berlaku sejak 27 Juli 2017 dan menjadi salah satu landasan regulasi dalam pengaturan perusahaan dengan aset skala kecil maupun menengah di pasar modal.

Karena itu, kehadiran calon emiten dari kelompok aset menengah bukan fenomena yang berdiri sendiri. Regulasi pasar modal memang memberikan kerangka bagi perusahaan pada skala tersebut untuk mengakses pendanaan melalui pasar modal.

Dua Perusahaan Punya Aset di Atas Rp250 Miliar

Sementara itu, dua perusahaan lainnya memiliki aset lebih dari Rp250 miliar.

Kelompok ini menunjukkan adanya calon emiten dengan skala usaha yang lebih besar dalam pipeline IPO BEI.

Perusahaan dengan aset besar biasanya memiliki struktur bisnis yang lebih kompleks. Oleh sebab itu, calon investor perlu mencermati lebih banyak aspek sebelum membeli saham ketika perusahaan tersebut benar-benar masuk ke bursa.

Prospektus menjadi salah satu dokumen penting dalam proses tersebut. Melalui prospektus, investor dapat mempelajari informasi mengenai kegiatan usaha, kondisi keuangan, risiko bisnis, penggunaan dana hasil penawaran umum, struktur pemegang saham, hingga berbagai informasi material lainnya.

OJK juga memiliki POJK Nomor 54/POJK.04/2017 yang mengatur bentuk dan isi prospektus dalam rangka penawaran umum serta penambahan modal untuk emiten dengan aset skala kecil atau menengah.

Sektor Healthcare Paling Banyak

Jika melihat sektor usaha, healthcare menjadi sektor dengan jumlah calon emiten terbanyak dalam pipeline tersebut.

Tiga dari enam perusahaan yang antre IPO berasal dari sektor healthcare.

Komposisi ini membuat sektor kesehatan menjadi salah satu sektor yang patut diperhatikan dalam perkembangan pipeline IPO BEI pada periode tersebut.

Sektor healthcare sendiri memiliki cakupan bisnis yang luas. Industri tersebut dapat mencakup berbagai kegiatan usaha yang berkaitan dengan layanan kesehatan, produk kesehatan, fasilitas kesehatan, hingga bisnis pendukung lainnya.

Namun, investor tetap perlu melihat bidang usaha masing-masing perusahaan secara spesifik. Dua perusahaan dalam sektor yang sama belum tentu memiliki model bisnis, tingkat pertumbuhan, struktur biaya, dan risiko yang sama.

Oleh karena itu, label sektor sebaiknya menjadi titik awal pencarian informasi, bukan satu-satunya dasar dalam menilai saham.

Baca Juga :  Investor Pasar Modal Indonesia Tembus 30,3 Juta, Aplikasi Investasi Tuntun Catat Lonjakan Pengguna 10 Kali Lipat

Dua Perusahaan Berasal dari Sektor Energi

Selain healthcare, BEI mencatat dua perusahaan dalam pipeline IPO berasal dari sektor energi.

Sektor energi memiliki posisi penting dalam perekonomian karena berkaitan dengan kebutuhan energi dan aktivitas industri. Pergerakan harga komoditas, permintaan global, kebijakan pemerintah, biaya produksi, serta kondisi geopolitik dapat memengaruhi kinerja perusahaan di sektor tersebut.

Karena karakter bisnis energi cukup sensitif terhadap perubahan pasar, calon investor perlu membaca prospektus secara cermat sebelum mengambil keputusan investasi.

Informasi mengenai sumber pendapatan, kontrak bisnis, cadangan atau pasokan, biaya operasional, utang, hingga rencana penggunaan dana IPO dapat membantu investor memahami profil masing-masing perusahaan.

Satu Calon Emiten Berasal dari Sektor Industrials

Sementara itu, satu perusahaan dalam pipeline berasal dari sektor industrials.

Masuknya perusahaan dari sektor industrials memperlihatkan bahwa pipeline IPO BEI tetap memiliki keragaman bidang usaha.

Sektor industri memiliki hubungan erat dengan aktivitas produksi, manufaktur, distribusi, dan kebutuhan dunia usaha. Karena itu, kondisi ekonomi, permintaan pasar, harga bahan baku, kapasitas produksi, serta perkembangan industri dapat menjadi faktor yang perlu diperhatikan.

Sekali lagi, investor perlu melihat informasi masing-masing perusahaan secara individual. Kesamaan sektor tidak otomatis membuat prospek atau risiko perusahaan menjadi sama.

Tujuh Perusahaan Sudah IPO hingga 25 September 2026

Di sisi lain, aktivitas IPO di BEI sepanjang 2026 juga terus berjalan.

Hingga 25 September 2026, sebanyak tujuh perusahaan telah melakukan penawaran umum perdana saham di BEI.

Ketujuh perusahaan tersebut secara keseluruhan berhasil menghimpun dana sekitar Rp2,16 triliun melalui aksi IPO.

Angka tersebut memberikan gambaran mengenai aktivitas penghimpunan dana melalui pasar modal hingga akhir September 2026.

Dengan masih adanya enam perusahaan dalam pipeline, aktivitas IPO berpotensi terus bertambah apabila seluruh calon emiten tersebut menyelesaikan proses yang diperlukan dan memperoleh persetujuan sesuai ketentuan.

Namun, pipeline tidak sama dengan kepastian pencatatan. Jadwal dan proses setiap perusahaan dapat mengalami perubahan sesuai perkembangan masing-masing aksi korporasi.(*)

Berita Terkait

Asuransi Kesehatan Cashless Terbaik 2026: 3 Pilihan dengan Fasilitas Klaim Tanpa Talangan
Harga Emas Perhiasan Hari Ini 26 September 2026 Naik atau Turun? Cek Disini
Rupiah Tertekan Mendekati Rp18.000 per Dolar AS, Ini Risiko bagi Ekonomi dan Proyeksinya Pekan Depan
Bitcoin, Ethereum Rally More Than 14% in a Week as Institutional Money Drives Crypto Market
Asuransi Kendaraan Online: Cara Pilih All Risk atau TLO, Cek Premi dan Prosedur Klaim
Terbaru!, KUR 2026 Bunga Mulai 3 Persen, Cek Plafon Rp10 Juta hingga Rp500 Juta dan Bedanya di BRI-Mandiri
Allo Deposito Tawarkan Bunga hingga 9 Persen, Cek Tenor 1-24 Bulan dan Syaratnya
Aset Tembus Puluhan Triliun, Ini 5 Bank Digital Terbesar RI 2026
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 27 September 2026 - 11:31 WIB

BEI Catat 6 Calon Emiten Baru, 3 Sektor Ini Siap Ramaikan Pasar Saham

Sabtu, 26 September 2026 - 16:01 WIB

Asuransi Kesehatan Cashless Terbaik 2026: 3 Pilihan dengan Fasilitas Klaim Tanpa Talangan

Sabtu, 26 September 2026 - 11:01 WIB

Harga Emas Perhiasan Hari Ini 26 September 2026 Naik atau Turun? Cek Disini

Jumat, 25 September 2026 - 19:30 WIB

Rupiah Tertekan Mendekati Rp18.000 per Dolar AS, Ini Risiko bagi Ekonomi dan Proyeksinya Pekan Depan

Jumat, 25 September 2026 - 04:01 WIB

Bitcoin, Ethereum Rally More Than 14% in a Week as Institutional Money Drives Crypto Market

Berita Terbaru