Rupiah Tertekan Mendekati Rp18.000 per Dolar AS, Ini Risiko bagi Ekonomi dan Proyeksinya Pekan Depan

- Jurnalis

Jumat, 25 September 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

BISNIS,JS- Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan pada penghujung perdagangan pekan ini. Mata uang Garuda bergerak semakin dekat dengan level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), sementara investor terus mencermati arah dolar AS, imbal hasil obligasi global, serta perkembangan risiko ekonomi dari dalam negeri.

Mengacu pada data Bloomberg yang dikutip Kontan, rupiah spot pada perdagangan Jumat, 25 September 2026, berada di level Rp17.903 per dolar AS. Posisi tersebut mencerminkan pelemahan sekitar 0,82% dibandingkan penutupan Jumat sebelumnya, 18 September 2026, yang berada di level Rp17.758 per dolar AS.

Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan terhadap rupiah belum sepenuhnya mereda. Bahkan, perhatian pasar kini tertuju pada kemampuan rupiah bertahan di bawah level Rp18.000 serta respons Bank Indonesia (BI) terhadap dinamika pasar valuta asing.

Rupiah Melemah Sepanjang Pekan

Pelemahan rupiah tidak muncul secara tiba-tiba. Sepanjang pekan perdagangan, pelaku pasar menghadapi kombinasi sentimen global dan domestik yang membuat mata uang negara berkembang menghadapi tekanan.

Sebelumnya, rupiah spot pada Kamis, 24 September 2026, sudah melemah 0,55% secara harian ke Rp17.916 per dolar AS. Pada hari yang sama, JISDOR BI berada di Rp17.898 per dolar AS.

Data tersebut memperlihatkan bahwa tekanan rupiah berlangsung menjelang penutupan pekan.

Sementara itu, data resmi BI yang tersedia saat ini mencatat JISDOR 24 September 2026 sebesar Rp17.898 per dolar AS. BI menjelaskan bahwa JISDOR mencerminkan harga spot USD/IDR berdasarkan transaksi antarbank dan menggunakan metode rata-rata tertimbang berdasarkan volume serta nilai tukar transaksi.

Karena itu, investor menggunakan JISDOR sebagai salah satu referensi untuk melihat perkembangan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Dolar AS Masih Menekan Mata Uang Emerging Market

Salah satu faktor utama yang memengaruhi rupiah datang dari pasar global. Penguatan dolar AS cenderung memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Kondisi tersebut semakin terasa ketika imbal hasil atau yield obligasi global meningkat. Investor kemudian memiliki pertimbangan lebih besar dalam menentukan penempatan dana di berbagai aset.

Ketika aset berbasis dolar menawarkan tingkat imbal hasil yang menarik, sebagian investor dapat mengurangi eksposur terhadap aset negara berkembang. Situasi itu kemudian meningkatkan sensitivitas pasar valuta asing.

Tekanan tersebut juga muncul setelah pasar mencermati arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat.

Pada perdagangan sebelumnya, Bloomberg Technoz mencatat rupiah sempat melemah setelah dolar AS menguat menyusul keputusan Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 3,75%-4%. Pergerakan yield obligasi Indonesia juga menjadi perhatian pasar.

Dengan demikian, perkembangan kebijakan moneter AS tetap menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan investor rupiah.

Baca Juga :  1 Ringgit Berapa Rupiah Hari Ini? Cek Kurs MYR ke IDR 24 September 2026, Lengkap 100 dan 1.000 MYR

Risiko Domestik Ikut Menjadi Perhatian

Selain faktor eksternal, pasar juga memperhatikan kondisi perekonomian Indonesia.

Kepala Pusat Makro Ekonomi dan Keuangan INDEF M. Rizal Taufikurahman menilai pelemahan rupiah pada pekan ini mencerminkan kombinasi tekanan eksternal dan meningkatnya sensitivitas investor terhadap risiko domestik.

Menurut Rizal, investor mencermati kredibilitas kebijakan fiskal, konsistensi bauran kebijakan fiskal dan moneter, serta kemampuan BI menjaga stabilitas nilai tukar.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pergerakan rupiah tidak hanya bergantung pada arah dolar AS.

Pasar juga melihat bagaimana pemerintah dan otoritas moneter menjaga kepercayaan investor ketika tekanan eksternal meningkat.

Level Rp18.000 Jadi Perhatian Pasar

Level Rp18.000 per dolar AS kini menjadi salah satu angka yang banyak diperhatikan pelaku pasar.

Secara psikologis, angka bulat seperti Rp18.000 dapat menjadi referensi penting dalam membaca sentimen perdagangan. Ketika rupiah mendekati level tersebut, investor biasanya akan memperhatikan apakah tekanan hanya berlangsung sementara atau berkembang menjadi tren yang lebih panjang.

Rizal memperkirakan kondisi rupiah pada pekan depan masih berpotensi bergerak volatil dengan kecenderungan menghadapi tekanan.

Ia memperkirakan rupiah berada dalam kisaran Rp17.750 hingga Rp18.100 per dolar AS.

Proyeksi tersebut bukan berarti rupiah pasti bergerak menuju angka tertentu. Pasar valuta asing dapat berubah cepat mengikuti perkembangan dolar AS, yield global, arus modal, kebijakan BI, serta sentimen investor.

Karena itu, level Rp18.000 lebih tepat dipandang sebagai salah satu area yang perlu diamati, bukan sebagai kepastian arah pergerakan rupiah.

Apa yang Terjadi Jika Rupiah Terus Melemah?

Pelemahan nilai tukar tidak hanya berdampak pada pasar keuangan. Perubahan kurs juga dapat memengaruhi aktivitas ekonomi masyarakat dan dunia usaha.

Salah satu jalurnya muncul melalui harga barang yang memiliki komponen impor.

Ketika rupiah melemah terhadap dolar AS, pelaku usaha yang membeli bahan baku, mesin, komponen, atau produk dari luar negeri harus mengeluarkan rupiah lebih banyak untuk memperoleh jumlah dolar yang sama.

Kenaikan biaya tersebut dapat memengaruhi struktur biaya perusahaan.

Baca Juga :  BCA Buka Tabungan Emas di myBCA, Investasi Emas Kini Bisa Dibeli dan Dijual Secara Digital

Jika pelaku usaha meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen, harga barang dan jasa tertentu juga dapat mengalami tekanan.

Situasi inilah yang berkaitan dengan risiko imported inflation atau inflasi yang muncul akibat kenaikan harga barang dan bahan dari luar negeri.

Namun, besarnya dampak tidak selalu sama untuk setiap sektor.

Perusahaan yang memiliki pendapatan dalam dolar AS dapat memiliki perlindungan alami terhadap pelemahan rupiah. Sebaliknya, perusahaan yang sangat bergantung pada bahan baku impor dapat menghadapi tekanan biaya yang lebih besar.

Dampak terhadap Dunia Usaha

Pelemahan rupiah juga menjadi perhatian perusahaan yang memiliki kewajiban dalam mata uang asing.

Perusahaan dengan utang dolar AS perlu menyediakan lebih banyak rupiah ketika melakukan pembayaran kewajiban dalam dolar.

Sebagai ilustrasi, kewajiban sebesar US$1 juta akan membutuhkan rupiah lebih banyak ketika kurs bergerak dari Rp17.000 menuju Rp18.000 per dolar AS.

Artinya, perubahan kurs dapat memengaruhi biaya pembayaran utang meskipun nilai utang dalam dolar tidak berubah.

Karena itu, perusahaan dengan eksposur valuta asing biasanya perlu mengelola risiko nilai tukar melalui berbagai strategi lindung nilai atau hedging sesuai kebutuhan bisnis.

Dampak Pelemahan Rupiah bagi Masyarakat

Masyarakat juga dapat merasakan efek perubahan kurs, meskipun dampaknya tidak selalu muncul secara langsung.

Produk elektronik, kendaraan, obat-obatan, barang konsumsi tertentu, hingga komponen industri dapat memiliki kandungan impor.

Selain itu, masyarakat yang memiliki kebutuhan pembayaran dalam dolar AS juga menghadapi biaya lebih tinggi ketika rupiah melemah.

Contohnya, biaya perjalanan ke luar negeri, pembayaran pendidikan internasional, transaksi digital tertentu, atau pembelian barang dari luar negeri dapat membutuhkan rupiah lebih banyak.

Dengan kata lain, perubahan nilai tukar dapat memengaruhi berbagai aktivitas ekonomi yang memiliki hubungan dengan mata uang asing.(*)

Berita Terkait

Bitcoin, Ethereum Rally More Than 14% in a Week as Institutional Money Drives Crypto Market
Asuransi Kendaraan Online: Cara Pilih All Risk atau TLO, Cek Premi dan Prosedur Klaim
Terbaru!, KUR 2026 Bunga Mulai 3 Persen, Cek Plafon Rp10 Juta hingga Rp500 Juta dan Bedanya di BRI-Mandiri
Allo Deposito Tawarkan Bunga hingga 9 Persen, Cek Tenor 1-24 Bulan dan Syaratnya
Aset Tembus Puluhan Triliun, Ini 5 Bank Digital Terbesar RI 2026
Harga Bitcoin Hari Ini Tembus Rp1,5 Miliar, BTC Kembali Menguat, Cek BTC ke Rupiah dan Pergerakannya
BEI Ubah Batas Harga Saham Jadi Rp1 Mulai 28 September 2026, Ini 46 Saham Gocap yang Terimbas
Bunga Deposito BRI, BNI, dan Mandiri 21 September 2026: Cek Suku Bunga Terbaru dan Simulasi Rp100 Juta
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 25 September 2026 - 19:30 WIB

Rupiah Tertekan Mendekati Rp18.000 per Dolar AS, Ini Risiko bagi Ekonomi dan Proyeksinya Pekan Depan

Jumat, 25 September 2026 - 04:01 WIB

Bitcoin, Ethereum Rally More Than 14% in a Week as Institutional Money Drives Crypto Market

Kamis, 24 September 2026 - 23:30 WIB

Asuransi Kendaraan Online: Cara Pilih All Risk atau TLO, Cek Premi dan Prosedur Klaim

Kamis, 24 September 2026 - 12:01 WIB

Terbaru!, KUR 2026 Bunga Mulai 3 Persen, Cek Plafon Rp10 Juta hingga Rp500 Juta dan Bedanya di BRI-Mandiri

Rabu, 23 September 2026 - 18:01 WIB

Allo Deposito Tawarkan Bunga hingga 9 Persen, Cek Tenor 1-24 Bulan dan Syaratnya

Berita Terbaru