INTERNASIONAL,JS- Krisis listrik di Gaza mencapai titik terburuk dalam beberapa dekade terakhir. Warga kini menghadapi kehidupan tanpa akses energi selama lebih dari dua tahun. Kondisi ini tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga menghancurkan sektor ekonomi dan memperburuk krisis kemanusiaan.
Di tengah reruntuhan di sekitar Rumah Sakit Al-Shifa, seorang ibu muda, Shorouq Abu Naji (22), berjuang menjalani hidup dengan keterbatasan ekstrem. Ia mencuci pakaian anak-anaknya dengan tangan di luar tenda darurat, di bawah panas matahari yang menyengat. Aktivitas sederhana ini berubah menjadi pekerjaan berat karena ketiadaan listrik.
“Selama lebih dari dua tahun, kami hidup tanpa listrik,” ujarnya dengan nada putus asa.
Dampak Perang Memicu Krisis Energi Berkepanjangan
Krisis listrik ini tidak muncul begitu saja. Situasi memburuk drastis setelah konflik besar yang pecah pada 7 Oktober 2023 antara Hamas dan Israel. Serangan tersebut memicu operasi militer besar-besaran yang berujung pada blokade total.
Akibatnya, pasokan listrik, air, dan bahan bakar terhenti hampir sepenuhnya. Infrastruktur energi mengalami kerusakan parah, membuat pemulihan menjadi sangat sulit.
Menurut data Gaza Electricity Distribution Company, wilayah ini kehilangan sekitar 1,2 miliar kilowatt-jam listrik sejak konflik dimulai. Selain itu, kerusakan jaringan listrik mencapai lebih dari 728 juta dolar AS.
Kehidupan Tanpa Listrik: Realita Pahit Warga Gaza
Tanpa listrik, kehidupan warga berubah drastis. Aktivitas sederhana seperti memasak, mencuci, hingga penerangan malam hari menjadi tantangan besar.
Setiap malam, keluarga Shorouq menyalakan api kecil di luar tenda untuk mendapatkan sedikit cahaya. Kondisi ini mencerminkan realita yang dialami jutaan warga lainnya.
Di wilayah Khan Younis, seorang ayah empat anak, Shaker Murtaja (42), mengungkapkan dampak psikologis yang dialami keluarganya.
“Anak-anak saya sekarang takut gelap. Kami memanaskan air dengan api, dan setiap malam terasa seperti perjuangan,” katanya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa krisis listrik tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga kesehatan mental masyarakat.
Ekonomi Gaza Hancur, Ribuan Pekerjaan Hilang
Selain menghantam kehidupan rumah tangga, krisis listrik juga menghancurkan perekonomian Gaza. Banyak usaha terpaksa tutup karena tidak mampu beroperasi tanpa energi.
Di Deir al-Balah, seorang pengusaha permen, Samer Afana (53), mencoba bertahan dengan cara ekstrem. Ia mengoperasikan pabrik menggunakan generator berbahan bakar plastik cair.
Namun, solusi ini justru meningkatkan biaya produksi secara drastis.
“Pengeluaran kami naik tiga kali lipat. Kerusakan listrik menghancurkan usaha kami dan menghilangkan ribuan pekerjaan,” ujarnya.
Kondisi ini memperparah tingkat pengangguran dan kemiskinan yang sudah tinggi di Gaza.
Infrastruktur Lumpuh, Pemulihan Tidak Jelas
Juru bicara Gaza Electricity Company, Mohammed Thabet, menegaskan bahwa sebagian besar pembangkit listrik tidak lagi berfungsi. Hingga saat ini, belum ada jadwal pasti untuk pemulihan jaringan listrik.
Mayoritas warga bergantung pada sumber energi alternatif seperti lilin, lampu tenaga surya, dan bahan bakar darurat. Namun, ketersediaan sumber tersebut semakin terbatas.
Situasi ini membuat malam di Gaza terasa lebih panjang dan penuh ketidakpastian.
Krisis Kemanusiaan yang Semakin Memburuk
Krisis listrik memperburuk kondisi kemanusiaan secara keseluruhan. Rumah sakit kesulitan beroperasi, distribusi air terganggu, dan sistem sanitasi tidak berjalan optimal.
Tanpa listrik, fasilitas penting tidak dapat berfungsi dengan baik. Hal ini meningkatkan risiko penyakit dan memperburuk kualitas hidup masyarakat.
Di sisi lain, organisasi kemanusiaan menghadapi tantangan besar dalam menyalurkan bantuan karena keterbatasan infrastruktur.
Harapan di Tengah Kegelapan
Meskipun situasi terlihat suram, warga Gaza terus berusaha bertahan. Mereka mengandalkan solidaritas komunitas dan sumber daya terbatas untuk menjalani kehidupan sehari-hari.
Namun, tanpa solusi jangka panjang dan dukungan internasional, krisis listrik ini berpotensi berlangsung lebih lama dan memperdalam penderitaan masyarakat.
Kesimpulan
Krisis listrik di Gaza bukan sekadar masalah energi, tetapi juga krisis kemanusiaan yang kompleks. Dampaknya meluas ke berbagai aspek kehidupan, mulai dari rumah tangga hingga ekonomi.
Selama konflik belum mereda dan infrastruktur belum diperbaiki, jutaan warga Gaza akan terus hidup dalam kegelapan—secara harfiah maupun simbolis.(*)
Sumber Berita: ANTARANews









