INTERNASIONAL,JS- Seiring meningkatnya ketegangan geopolitik global, negara-negara anggota BRICS dan sekutunya memulai latihan angkatan laut bertajuk “Will for Peace 2026” di perairan lepas pantai Cape Town, Afrika Selatan. Latihan ini berlangsung hingga 16 Januari 2026. Sementara itu, dunia mengamati tindakan Amerika Serikat di laut lepas.
Tujuan Latihan
Latihan ini bertujuan:
Meningkatkan interoperabilitas angkatan laut negara peserta.
Menjaga keselamatan jalur pelayaran internasional.
Melindungi aktivitas ekonomi dan komersial di wilayah laut strategis.
Selain itu, Afrika Selatan, Rusia, China, dan Iran mengerahkan kapal perang dan bekerja sama dalam simulasi operasi maritim.
Bukan Respons Langsung ke AS
Wakil Menteri Pertahanan Afrika Selatan, Bantu Holomisa, menegaskan:
“Kami merencanakan latihan ini jauh sebelum AS menyita kapal tanker Rusia. Kami tidak melihat Washington sebagai musuh.”
Dengan kata lain, Afrika Selatan memfokuskan diri pada kerja sama maritim BRICS dan menjaga keamanan Samudra Hindia dan Atlantik.
Partisipasi Negara dan Pengamat
Aktif: Afrika Selatan, Rusia, China, Iran
Pengamat: Brasil, Ethiopia, Indonesia
Di samping itu, Indonesia hadir sebagai pengamat untuk menegaskan peran diplomatiknya dalam forum BRICS Plus.
Latar Belakang Latihan
Latihan “Will for Peace 2026” mengembangkan latihan angkatan laut Mosi (Asap) edisi ketiga antara China, Rusia, dan Afrika Selatan. Awalnya, pihak penyelenggara menjadwalkan latihan pada November 2025. Namun, mereka menunda kegiatan itu karena Afrika Selatan menjadi tuan rumah KTT G20.
Sorotan Geopolitik
Latihan ini berlangsung di tengah sejumlah isu global:
AS menyita kapal tanker Rusia terkait sanksi terhadap Venezuela.
AS menahan lima kapal tanker lain di kawasan Karibia.
Dunia khawatir terjadi eskalasi konflik di jalur laut utama.
Meski begitu, Afrika Selatan menegaskan bahwa latihan ini tidak ditujukan untuk konfrontasi politik. Pemerintah fokus menjaga stabilitas jalur laut strategis.(TIM)









