BISNIS,JS- Pemerintah menarik pembiayaan utang sebesar Rp40 triliun melalui lelang Surat Utang Negara (SUN) yang berlangsung pada Rabu, 18 Februari 2025. Nilai penarikan ini melampaui target indikatif sebesar Rp33 triliun, meskipun minat investor tercatat melemah dibandingkan lelang sebelumnya.
Penawaran Turun, Pemerintah Tetap Optimalkan Serapan
Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) menunjukkan total penawaran yang masuk mencapai Rp63,06 triliun. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan lelang SUN pada 3 Februari 2025 yang mencatatkan penawaran Rp76,58 triliun. Bahkan, jumlah itu semakin turun jika dibandingkan dengan lelang pada 20 Januari 2025 yang mencapai Rp82,9 triliun.
Kendati demikian, pemerintah tetap mengoptimalkan strategi pembiayaan dengan memilih seri-seri yang menawarkan biaya utang paling efisien.
Dalam lelang kali ini, pemerintah menawarkan sembilan seri SUN yang terdiri dari Surat Perbendaharaan Negara (SPN) dan obligasi negara berbunga tetap (Fixed Rate/FR). Kementerian Keuangan menggelar lelang tersebut melalui sistem lelang Bank Indonesia.
Dari sembilan seri tersebut, pemerintah menyerap dana dari delapan seri dan menahan diri untuk tidak memenangkan satu seri SPN.
FR0109 Jadi Kontributor Serapan Terbesar
Sebagai kontributor utama, seri FR0109 (pembukaan kembali) menyumbang serapan terbesar dengan nilai Rp16,4 triliun. Investor memasukkan penawaran sebesar Rp24,16 triliun untuk seri ini. Pemerintah memenangkan FR0109 dengan imbal hasil rata-rata tertimbang 5,67712% dan jatuh tempo pada 15 Maret 2031.
Selanjutnya, seri FR0108 (pembukaan kembali) menyusul dengan serapan Rp12,3 triliun dari total penawaran Rp21,07 triliun. Pemerintah menetapkan imbal hasil rata-rata tertimbang seri ini sebesar 6,37998% dengan tenor hingga 15 April 2036.
Selain dua seri utama, pemerintah juga menarik Rp3,25 triliun dari seri FR0106. Seri ini menerima penawaran Rp4,34 triliun dan dimenangkan pada imbal hasil rata-rata tertimbang 6,59975% dengan jatuh tempo 15 Agustus 2040.
Di sisi lain, seri FR0105 yang berjangka sangat panjang turut menyumbang Rp1,65 triliun. Penawaran masuk mencapai Rp2,18 triliun, sementara pemerintah menetapkan imbal hasil rata-rata tertimbang sebesar 6,77991% dengan jatuh tempo 15 Juli 2064.
Dua Seri Serap Dana Sama Besar
Pemerintah juga menyerap dana dalam jumlah yang sama dari seri FR0107 dan FR0102, masing-masing sebesar Rp1,6 triliun.
Untuk FR0107, investor mengajukan penawaran Rp3,3 triliun. Pemerintah memenangkan seri ini dengan imbal hasil 6,66957% dan jatuh tempo 15 Agustus 2045.
Dari kelompok SPN, pemerintah menyerap penuh seri SPN01260322 yang merupakan penerbitan baru. Nilai serapan mencapai Rp700 miliar dengan imbal hasil rata-rata tertimbang 4,5% dan jatuh tempo 22 Maret 2026.
Namun, pemerintah memilih untuk tidak memenangkan seri SPN03260521 meskipun investor mengajukan penawaran sebesar Rp300 miliar. Keputusan ini mencerminkan sikap selektif pemerintah dalam menjaga efisiensi biaya pembiayaan.
Catatan ; Artikel ini hanya memuat tentang informasi semata, bukan untuk mengajak masyarakat dan mengikuti investasi, pasar saham, trending dan sebagainya. segala resiko seperti kegagalan di luar tanggung jawab jambisun.id. (*)









