OPINI:
Oleh: Jafar Ahmad (Warga NU-Asal Kerinci, Jambi)
1. Konflik Menghangat, Kekhawatiran Meningkat
Konflik di tubuh Nahdlatul Ulama terus menghangat. Perselisihan antara Rais Aam KH. Miftachul Akhyar dan Ketua Umum PBNU Gus Yahya Cholil Staquf menyebar ke ruang publik. Rotasi pengurus, pencopotan jabatan, dan klaim legitimasi muncul di banyak media. Akibatnya, banyak orang mulai khawatir. Mereka bertanya: apakah NU akan runtuh?
2. NU Sudah Berkali-kali Lolos dari Badai
Kekhawatiran itu wajar. Namun, sejarah NU menunjukkan hal sebaliknya. NU berulang kali menghadapi konflik yang jauh lebih besar. Situbondo 1984, tekanan Orde Baru, dan gesekan pada masa Gus Dur menjadi beberapa contohnya. Setelah setiap badai, NU justru tumbuh lebih kuat. Survei LSI 2023 memperkuat gambaran itu dengan mencatat 56,9% penduduk Indonesia berafiliasi dengan NU. Dengan demikian, benturan elit tidak cukup kuat untuk mengguncang NU.
3. Habitus: Kekuatan Kultural yang Menjaga NU
Untuk memahami ketangguhan ini, kita perlu melihat konsep habitus dari Pierre Bourdieu. Habitus tumbuh dari tradisi yang masyarakat lakukan setiap hari. Karena itu, ia tidak bergantung pada keputusan elit. Tradisi NU—tahlilan, manaqiban, istighotsah, haul wali, yasinan, dan ngaji kitab kuning—membentuk ritme hidup banyak orang. Warga menjalankan tradisi itu secara otomatis, tanpa menunggu arahan siapa pun.
4. Akar NU Tumbuh di Pesantren dan Komunitas
Kekuatan NU tidak berhenti di kantor PBNU. Sebaliknya, NU hidup melalui ribuan pesantren dan majelis taklim. Relasi guru–murid yang kuat menjaga tradisi tetap hidup. Kiai kampung tetap mengajar kitab kuning. Ibu-ibu tetap membaca Yasin setiap malam Jumat. Para santri tetap mengaji sebelum fajar. Dengan kata lain, kehidupan keagamaan NU berjalan seperti biasa meski elitnya berselisih.
5. Konflik Elit Tak Mampu Menggeser Jamaah
Jamaah NU tidak mudah terbelah. Sebab, mereka mengikuti kiai yang hadir dalam kehidupan sehari-hari. Kiai kampung memimpin doa panen, mengurus jenazah, dan mendamaikan warga. Konflik di Jakarta tidak menyentuh hubungan sosial semacam ini. Oleh karena itu, NU menyerupai pohon tua dengan akar sangat dalam. Angin mungkin menggoyang ranting, tetapi batangnya tetap berdiri tegak.
6. Tradisi Menguatkan, Bukan Struktur yang Merapuh
Warga NU tidak perlu gelisah. Istighotsah tetap berlangsung. Sanad keilmuan tetap tersambung. Amaliyah tetap hidup di rumah-rumah dan pesantren. Singkatnya, konflik elit merupakan dinamika biasa dalam organisasi besar. Justru, kekuatan NU lahir dari tradisi yang meresap ke dalam kehidupan masyarakat.
Penutup: NU Tetap Kokoh Selama Akar Dijaga
NU akan tetap kokoh selama warganya menjaga tradisi. Akar budaya memberi kekuatan yang jauh melebihi riak konflik. Kesimpulannya, selama akar itu kuat, pohon besar bernama NU tidak akan tumbang.(AR)









