IHSG Ambruk 7,34% Sesi I, Asing Catat Net Sell Rp 3,6 Triliun

- Jurnalis

Rabu, 28 Januari 2026

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Pasar Saham Indonesia, BBCA Makin Dijauhi Asing, Net Sell Sesi 1 Tembus Rp 2,4 Triliun

Ilustrasi Pasar Saham Indonesia, BBCA Makin Dijauhi Asing, Net Sell Sesi 1 Tembus Rp 2,4 Triliun

JAKARTA,JS- Pada perdagangan sesi pertama Rabu (28/1/2026), tekanan kuat langsung menghantam pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk 7,34% ke level 8.321,22 atau turun 659 poin.

Investor asing memicu tekanan tersebut melalui aksi jual besar-besaran. Sepanjang sesi pertama, asing membukukan pembelian sekitar Rp 9 triliun. Namun, pada saat yang sama, mereka mencatat penjualan hingga Rp 12,6 triliun. Kondisi ini mendorong net foreign sell mencapai Rp 3,6 triliun.

IHSG Nyaris Menyentuh Trading Halt

Baca Juga :  Panduan Investasi yang Tepat, Mengenal Saham dan Obligasi

Tekanan jual yang masif membawa IHSG mendekati ambang batas perhentian perdagangan sementara. Pada titik terendah, indeks sempat jatuh lebih dari 7,8%.

Level tersebut hanya berjarak tipis dari batas koreksi 8% yang Bursa Efek Indonesia (BEI) tetapkan. Situasi ini mencerminkan meningkatnya kepanikan pelaku pasar.

Ratusan Saham Tertekan, Puluhan Masuk Zona ARB

Baca Juga :  Danantara Diproyeksi Masuk Pasar Modal Tahun Ini

Seiring pelemahan indeks, aksi jual menjalar ke hampir seluruh sektor. Saham-saham berkapitalisasi besar ikut menanggung tekanan.

Sejumlah saham unggulan anjlok tajam hingga menyentuh auto reject bawah (ARB). Hingga akhir sesi pertama, sekitar 100 emiten bertahan di zona ARB.

BBCA Jadi Target Utama Jual Asing

Dari sisi transaksi, investor asing paling agresif melepas saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Mereka mencatat net foreign sell BBCA sebesar Rp 2,4 triliun.

Sebanyak 333,4 juta saham BBCA berpindah tangan. Tekanan jual tersebut menekan harga saham BBCA turun 5% ke level 7.125.

BMRI dan BBRI Menyusul Dilepas

Selain BBCA, investor asing juga menggencarkan aksi jual pada saham perbankan besar lainnya. Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatat net sell Rp 917,2 miliar.

Sementara itu, investor asing melepas saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan nilai net sell Rp 533,4 miliar. Tekanan ini memperdalam pelemahan sektor perbankan.

Pasar Merespons Pernyataan MSCI

Di sisi lain, pelaku pasar merespons pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI). Lembaga tersebut mengevaluasi free float saham-saham Indonesia dalam MSCI Global Standard Indexes.

MSCI menyoroti transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia. Meski Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan perbaikan minor pada data free float, MSCI menilai upaya tersebut belum cukup.

Investor Global Masih Meragukan Data Kepemilikan

Baca Juga :  Danantara Ambil Alih Saham Rumah Sakit Pertamina

MSCI mencatat sebagian investor global mendukung penggunaan Monthly Holding Composition Report dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Namun, banyak investor lain menilai kategorisasi pemegang saham dalam data KSEI belum andal.

Keraguan tersebut membuat investor global mempertanyakan kelayakan data free float saham Indonesia.

Keterbatasan Transparansi Jadi Sorotan

Menurut MSCI, keterbatasan transparansi kepemilikan saham masih menjadi persoalan utama. Selain itu, MSCI menilai potensi perdagangan terkoordinasi berisiko mengganggu pembentukan harga wajar.

Atas dasar itu, MSCI mendorong penyediaan data kepemilikan saham yang lebih rinci. Lembaga tersebut juga menekankan pentingnya pemantauan konsentrasi kepemilikan.

MSCI Terapkan Perlakuan Sementara

Sebagai langkah lanjutan, MSCI menerapkan perlakuan sementara atau interim treatment terhadap sekuritas Indonesia. Kebijakan tersebut berlaku efektif segera.

MSCI mengambil langkah ini untuk meredam risiko volatilitas indeks dan menjaga tingkat investabilitas pasar sambil menunggu perbaikan transparansi.

FIF Dibekukan, Migrasi Saham Ditahan

Dalam kebijakan sementara tersebut, MSCI membekukan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS). Pembekuan ini mencakup hasil peninjauan indeks maupun aksi korporasi.

Selain itu, MSCI menghentikan penambahan saham Indonesia ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI). MSCI juga menahan migrasi naik antar segmen ukuran, termasuk dari Small Cap ke Standard.

Risiko Volatilitas dan Outflow Asing Meningkat

Menanggapi perkembangan ini, Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan, menilai pasar saham Indonesia menghadapi risiko volatilitas yang lebih tinggi.

Ia juga mengingatkan potensi arus keluar dana asing, terutama pada saham-saham yang sensitif terhadap pergerakan dana berbasis indeks.

Saham Berbasis Narasi MSCI Kembali Tertekan

Sebagai catatan, sebelumnya sejumlah saham bergerak menguat karena ekspektasi masuk indeks MSCI. Sentimen tersebut kini melemah.

Pengumuman MSCI kembali menekan saham-saham berbasis narasi indeks. Aksi jual pun kembali mendominasi perdagangan.(AN)

Berita Terkait

Asuransi Lansia 2026: 4 Pilihan Proteksi Kesehatan untuk Orang Tua, Cek Usia Masuk dan Risikonya Sebelum Beli
Indonesia Bidik Posisi Pusat Likuiditas Aset Digital Asia Tenggara, 3 Kunci Ini Jadi Penentu
BKN Luruskan Data 2.722 ASN Mengundurkan Diri, Mayoritas Ternyata Beralih Status Jadi PPPK Penuh Waktu
BCA Buka Tabungan Emas di myBCA, Investasi Emas Kini Bisa Dibeli dan Dijual Secara Digital
Harga Bright Gas Turun Lagi 15 Agustus 2026, Cek Harga 5,5 Kg dan 12 Kg serta Promo Hematnya
Jangan Tunggu Usaha Bangkrut! Ini Asuransi UMKM yang Bisa Lindungi Modal dan Aset Bisnis
Gempa NTT M7,7 Guncang Nagekeo, Tsunami Terdeteksi hingga 94 Cm, BMKG Sempat Keluarkan Peringatan Dini
BCA Cetak Laba Rp35,25 Triliun hingga Juli 2026, Kredit Tembus Rp1.000 Triliun: Sinyal Menarik bagi Investor?
Berita ini 44 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 16 Agustus 2026 - 16:01 WIB

Asuransi Lansia 2026: 4 Pilihan Proteksi Kesehatan untuk Orang Tua, Cek Usia Masuk dan Risikonya Sebelum Beli

Minggu, 16 Agustus 2026 - 08:01 WIB

BKN Luruskan Data 2.722 ASN Mengundurkan Diri, Mayoritas Ternyata Beralih Status Jadi PPPK Penuh Waktu

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 23:01 WIB

BCA Buka Tabungan Emas di myBCA, Investasi Emas Kini Bisa Dibeli dan Dijual Secara Digital

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 19:03 WIB

Harga Bright Gas Turun Lagi 15 Agustus 2026, Cek Harga 5,5 Kg dan 12 Kg serta Promo Hematnya

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 16:01 WIB

Jangan Tunggu Usaha Bangkrut! Ini Asuransi UMKM yang Bisa Lindungi Modal dan Aset Bisnis

Berita Terbaru