BISNIS,JS- Pasar saham dan keuangan negara berkembang langsung mengalami tekanan berat sejak awal pekan akibat ketegangan geopolitik yang meningkat di Timur Tengah. Konflik antara Iran dan blok Amerika Serikat–Israel mendorong harga energi melonjak, sehingga investor global mengalihkan dananya ke aset yang lebih aman.
MSCI Emerging Markets Turun Signifikan
Indeks saham negara berkembang, yang tercermin melalui MSCI Emerging Markets, turun lebih dari 10% dari puncaknya pada akhir Februari. Pada perdagangan Senin, indeks ini mencatat penurunan 4,2%, memperpanjang tren koreksi yang sudah terlihat sejak akhir bulan lalu.
Koreksi di Korea Selatan dan Mata Uang Lokal
Di Korea Selatan, Kospi, yang sebelumnya menjadi salah satu indeks berkinerja terbaik tahun ini, anjlok lebih dari 18% dari level tertingginya. Tren melemahnya pasar juga terlihat pada mata uang lokal negara berkembang. Won Korea Selatan, peso Filipina, dan rupiah Indonesia menembus level terendah sepanjang masa terhadap dolar AS. Investor mencari perlindungan dengan beralih ke dolar sebagai aset safe-haven.
Harga Minyak Capai US$100 per Barel, Tekan Negara Pengimpor Energi
Harga minyak yang menembus US$100 per barel semakin memperkuat permintaan terhadap dolar dan aset aman lainnya. Kenaikan harga energi memberikan tekanan lebih besar pada negara-negara yang masih bergantung pada impor energi.
Dampak Global dan Sentimen Investor
Menurut Bob Savage, Kepala Strategi Makro Pasar di BNY, “Pergerakan pasar jangka pendek kini lebih dipengaruhi oleh perkembangan di Timur Tengah daripada faktor domestik, khususnya melalui harga energi dan sentimen risiko.” Dia menekankan bahwa negara pengimpor energi bersih seperti Jepang, Korea Selatan, dan India menjadi paling rentan terhadap guncangan neraca perdagangan yang berkelanjutan.
Seiring sentimen global tetap tertekan, analis memperingatkan investor untuk bersiap menghadapi volatilitas tinggi sampai ketegangan geopolitik mereda.(*)









